Minggu, 09 September 2012

Perjalanan yang Mengejutkan di Setiap Tikungannya


JIKA kehidupan adalah sebuah perjalanan, Fais adalah seorang petualang yang berjalan sendirian di antara riuhnya dunia. Di tengah masyarakat yang mengelu-elukan sosok Tuan Beransyah, Fais memilih jalannya sendiri. Ia ingin membuktikan bahwa kandidat wali kota yang dikenal alim, dermawan, dan pandai agama itu tidak lain adalah sosok yang amat munafik.

Maka, dimulailah sebuah perjalanan dengan kejutan di setiap tikungannya. Perjalanan itu tidak saja membuat Fais menemukan kebenaran di balik politik pencitraan yang memuakkan, tetapi juga kebenaran perasaannya. Fais akhirnya sadar, pertemuan dengan perempuan-perempuan yang sempat menggetarkan hatinya justru adalah jalan yang membawanya pulang pada cinta sejatinya.

Burung Terbang di Kelam Malam mengungkap kehidupan sosial yang begitu dekat; tentang sisi gelap politik dan cinta. Hubungan cinta terlarang, perasaan tidak berdaya, takut kehilangan, dan kesedihan  yang begitu kental, tanpa kehilangan rasa humor. Sebuah kisah yang berliku, tetapi diceritakan dengan sangat lugas dan mengalir.

Pujian -Pujian Pembaca:
1. Sebuah novel yang mengungkap realitas sosial-politik suatu masyarakat dari kurun yang rawan, menandakan bahwa pandangan penulis telah menjelma menjadi sebuah sikap nyata, semacam upaya aktif untuk penyelamatan kenangan yang terancam punah oleh sejarah—rekayasa naratif kaum penguasa yang hendak memonopoli kebenaran. Arafat Nur, melalui Burung Terbang di Kelam Malam, telah menciptakan tanah air baru bagi kebenaran di luar sejarah yang terancam mati, memberi mereka kemerdekaan untuk bangkit berkali-kali.
Sitok Srengenge, penyair, penulis prosa dan esai.

2. Novel ini sungguh menghibur sekaligus membuat saya terkagum, terharu, dan pada akhirnya termenung. Arafat Nur mampu meramu adegan-adegan lucu, lugu, kisah romantis, kritik sosial, ketegangan, dan konflik yang dialami sang tokoh “aku” dengan sangat memikat. Alur ceritanya runut dengan bahasa yang renyah, berusaha mengungkapkan kebusukan dan kemunafikan manusia-manusia yang berkedok dogma-dogma agama. Meski novel ini berlatar situasi Aceh pasca perang, namun kisahnya bisa menjadi cerminan bagi persoalan-persoalan kemanusiaan, agama, sosial, dan politik yang banyak ditemui di negeri ini.
Wayan Jengki Sunarta, sastrawan dan budayawan, menetap di Bali.


3. Sebuah novel menarik berbalut intrik politik dan kisah cinta yang unik.
Anton Kurnia, penulis cerita dan editor buku sastra.


4. Dalam khazanah sastra Indonesia modern, jumlah novel yang mencerminkan keragaman budaya masih terbilang kurang. Maka, saya sangat meyambut baik usaha pengarang untuk memperkenalkan daerah mereka masing-masing kepada khalyak ramai. Novel Burung Terbang di Kelam Malam sangat menolong membuka wawasan pembaca atas keunikan kebudayaan Aceh. Puji syukur karya Arafat Nur ini bisa memikat hati pembaca dengan cerita yang begitu realistis, sehingga sangat gampang membayangkan sosok dan kepribadaian sejumlah tokoh yang muncul dalam kisahnya.
John H. McGlynnpenerjemah dan editor berkebangsaan Amerika.


5. Arafat Nur masih tetap setia dengan kelugasan dan kelurusan bercerita. Di buku ini, kita akan merasa seperti dibawa masuk dalam sebuah reportase yang jujur dan apa adanya. Bagi yang menyukai Lampuki, novel Burung Terbang di Kelam Malam, sungguh tak akan mengecewakan.
Avianti Armand, arsitek, penyair, dan cerpenis.


6. Arafat Nur mengajak kita untuk menguak persoalan-persoalan kemanusiaan, agama, sosial, dan politik yang ditemui di negeri ini. Di tengah jalinan kisah cinta yang bermuatan kritik sosial, sarat konflik, dan ketegangan, kita dapat melihat kemunafikan dan kebusukan manusia yang berbalut kefanatikan buta. Kisah ini mengandung satire ringan, jenaka, dan juga tajam—sesuatu yang memang telah menjadi salah satu kekuatan dari gaya bercerita dia.
Joko Pinurbo, penyair.


7. Novel yang renyah sekaligus bernas. Begitu masuk ke dalam ceritanya, kau tidak bakal bisa berhenti lagi. Burung Terbang di Kelam Malam memperbincangkan perihal penting mengenai politik, korupsi, keagamaan, dan feminisme dengan cara yang jenaka. Membuat kita menertawakan kepahitan dan kegetiran hidup yang tidak menguntungkan ini.
Ni Komang Ariani, penulis buku Lidah, Senjakala dan Bukan Permaisuri.


8. Membaca karya Arafat Nur ini, kita dibuatnya tercekat. Melalui kandungan muatan lokal yang luar biasa padat, segera kita dapat memahami Aceh dengan begitu baik. Bahkan, pembaca yang bukan orang Aceh sekalipun, bisa betul-betul merasakan gejolak dan geliat yang pernah terjadi di bumi itu. 
Oka Rusmini, novelis, tinggal di Bali.


9. Disadari atau tidak Aceh telah menjadi bagian Tanah Air yang istimewa tidak hanya secara geografis atau politis. Beberapa dari kita bahkan merasa seolah wilayah itu terlalu istimewa, terutama dengan perda-perda gendernya. Maka membaca Burung Terbang di Kelam Malam, niscaya membuat pembaca terbentur pada realitas yang amat mencengangkan. Arafat Nur secara lembut mengeksplorasi pemahaman terhadap tanah lahirnya, mengupas setiap lapisan menuju bagian akhir yang sungguh sulit untuk bisa dipercaya!
Sanie B Kuncorocerpenis dan novelis yang cukup dikenal di dunia tulis-menulis.


10. Arafat Nur berhasil mengungkapkan sisi remang-remang manusia: humanis sekaligus egois, idealis sekaligus pragmatis, dan relejius sekaligus munafik dalam jejaring cerita asmara yang ganjil di tengah cengkraman politik yang licik.
Ragdi F. Daye, penulis buku Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu.


11. Berani, genit, dan terus menggoda hingga titik akhir cerita. Novel ini seperti menelanjangi sisi-sisi gelap manusia yang tersembunyi, dan bahkan akan mengguncang jiwa. Yang pasti sangat bertolak-belakang dengan bayangan Aceh yang sebelumnya ada dalam pikiran kita semua.
Sandi Firly, penulis novel Lampau.


12.Burung Terbang di Kelam Malam adalah anak dari cinta segi-lima yang penuh gairah: politik, humor, romansa, serta citra bahasa yang terjaga kuat dan rapi. Selamat!
 Benny Arnas, cerpenis.


13. Burung Terbang di Kelam Malam tentulah sebuah kaya yang mengandung metafora. Arafat Nur sebagai kreator mengajak pembaca untuk melakukan kontemplasi, mengimajinasikan rekaan dalam kisahnya. Sebuah novel yang sangat puitis, inspiratif, dan kontemplatif!
Dimas Arika Mihardja, penyair dan Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.


14. Novel ini berkisah tentang gejolak cinta di tengah ketegangan tragik dan komik dari para manusia korban perang yang meletihkan. Dikemas dengan kepiawaian gaya tutur eksotis karikatural yang begitu segar dan memikat. Arafat Nur menyuguhkan kepada kita sejumlah snapshot yang akan terus berdiam dalam ingatan. Gugatan pada moralitas manusia dalam Burung Terbang di Kelam Malam mampu menerabas lokalitas yang dikandungnya, dan menjadi bacaan yang sangat mengasyikan bagi siapa saja.
Nezar Patria, sarjana filsafat, jurnalis, dan penyuka sastra.


15. Menghadirkan situasi tidak menentu dan penuh kebimbangan di tengah situasi konflik politik, sosial, dan keserakahan manusia. Arafat Nur secara piawai mengorek borok tanah lahirnya, bertutur tajam dan kadang dengan amat jenaka. Dia menusuk begitu dalam sekaligus menghanyutkan. Malah di tengah-tengah kaburnya makna kemerdekaan, dia justru berhasil membebaskan diri dari segala rintangan belenggu seraya mencatat setiap jengkal sejarah yang dilaluinya. Novel ini adalah sebuah potret dan sebingkai cermin yang memantul-mantulkan bayangan isyarat: inilah Aceh hari ini.
Iyut Fitra, penyair, tinggal di Payakumbuh.


16. Sebuah sisi kelam dan janji politikus untuk mensejahterakan rakyat, sungguh jauh panggang dari api. Justru yang muncul adalah persoalan pelik, yaitu nafsu berkuasa atas jabatan dan perempuan yang begitu lugas didedah dan dibeberkan dalam novel ini. Persoalan perempuan diceritakan begitu menohok dan berani. Di tengah minimnya prestasi dan setumpuk masalah pemerintahan, Arafat Nur justru tampil begitu garang menyuarakan penentangan terhadap ketimpangan melalui mata batinnya. Melalui sastra, dia berteriak lantang kepada dunia: Seperti inilah Aceh sekarang!
Bamby Cahyadi, cerpenis.


17. Tokoh jurnalis muda dalam novel ini memilih langkah nekat dalam menghadapi berbagai tantangan berat, bahkan rela mengambil risiko tinggi dalam mengungkap sebuah kasus berbahaya terhadap seorang pejabat yang amat berkuasa. Sudut bidik cerita novel ini cukup baik dalam menyoroti sejumlah persoalan pelik yang muncul sehabis perang di Aceh, begitu kental dan mendalam. Arafat Nur memang sastrawan cerdas, dan saya sangat berharap novel-novelnya kembali mampu mencerahkan dan mengharumkan sastra Indonesia.
Isbedy Stiawan ZS, sastrawan, tinggal di Lampung.


18. Novel yang luar biasa membius; tidak hanya menggugah, tetapi mampu merekam every detail of sequel Aceh pasca konflik dan tsunami. Menggambarkan dengan sangat baik dan jelas peralihan masa transisi Aceh ke demokrasi yang secara cerdik direbut oleh orang-orang hipokrit, kejam, dan bodoh. Burung Terbang di Kelam Malam adalah sebuah auto-etnografi yang menelusuk tajam mengenai dunia wartawan, politisi, dan orang-orang biasa yang dihadirkan secara realis dengan romantisme lucu, satir, dan sinis. Semua peneliti dan pemerhati Aceh harus membaca novel ini untuk lebih memahami ‘zeitgeist’ Aceh masa kini.
Al Chaidar, Dosen Ilmu Politik, Pengamat Teroris Nasional, dan salah seorang penulis buku Aceh Bersimbah Darah.

19. Cerita yang disajikan Arafat Nur merupakan kisah yang dengan mudah dapat diikuti, karena layar realis jelas tegas mengantar pembaca. Tapi dari cerita semacam ini, karakter dan gejolak relung jiwa para tokoh menjadi magnet yang membuat halaman demi halaman berlalu tanpa terasa dengan penuh tanda tanya.
Wahyu Arya, Pengamat dan Esais Sastra, tinggil di Tangerang.


20. Tema kemanusiaan dalam sebuah novel akan mampu bertahan lebih lama dalam memori pembaca. Sejatinya, sembarang penulis bisa mengangkat tema ini. Akan tetapi, jika ‘bercerita secara baik’ dijadikan persyaratan untuk mengukur keberhasilan—seperti menyuguhkan imajinasi pengarang sedekat mungkin dengan imajinasi pembaca—itulah yang mungkin sulit dilakukan. Untuk urusan ini, kiranya Arafat Nur bisa dikatakan cukup mahir.
Kiai Mohammad Faizi, penyair dan Pemimpin Pondok Pesantren Annuqayah Semenep, Jawa Timur.


21. Ada tiga alasan sebuah novel menjadi kuat. Pertama, latar kehidupan si pengarang. Kedua, kekuatan berbahasa dan teknik bercerita. Ketiga, visi pengarang yang jelas menyoal kehidupan ini. Arafat Nur, dalam novel Burung Terbang di Kelam Malam, memperlihatkan kekuatan atas ketiga alasan itu. Sebagaimana Lampuki, dia tetap tidak bergeser pada konsistensi mengusung kisah tokoh-tokoh dengan perjuangan hidup yang rawan, getir, dan juga penuh harapan. Dia menjadi wakil dari narasi lokal yang ada di Nusantara, berkesaksian tentang Aceh, seusai perjuangan, seusai reformasi, seusai tragedi, dan seusai tsunami.
Sihar Ramses Simatupang, jurnalis sastra, penyair, penulis prosa dan esai).


22. Pada dasarnya aku tidak suka novel, tetapi begitu membaca Burung Terbang di Kelam Malam, aku tidak bisa melepaskan, timbul rasa penasaran, membangkitkan emosi; sedih, haru, dan lucu. Aku suka sekali novel ini dan tidak bisa berpaling sampai cerita berakhir dengan sangat mengejutkan. Begitu indah dan romantis sekali dibandingkan novel yang pernah aku baca. Tidak ada kesan menunggangi peristiwa, betul-betul tampak nyata, tidak terduga, dan membuatku berkali-kali terpaksa menahan napas!
Lan Chin, warga turunan Thionghua, karyawati swasta di Tangerang.


23. Sebuah kesadaran utuh atas pengamatan yang sangat cermat terhadap situasi sosial dan politik pasca konflik, kesederhanaan yang luar biasa mengagumkan dalam cara dia mengungkapkan masalah besar melalui pernak-pernik percikan peristiwa kecil yang banyak bertebaran. Arafat Nur adalah penulis muda Aceh yang cukup penting serta pantas diperhitungkan. Dia punya kefasihan bercerita yang tidak terlalu lazim, kerap membuat kita tersentak dan tercengang. Selain sastra, dia tahu betul ilmu sosial, sejarah, dan sedikit politik. Dan yang tak kalah penting, dia adalah aktifis kemanusian dalam bidangnya, memperjuangkan hak dan kepentingan rakyat tertindas dengan caranya sendiri!
Asnawi Ali, aktivis sipil dan demokrasi Aceh di Swedia dan pencinta sastra.


24. Kalau orang tahu betapa asyiknya novel ini, pasti mereka tidak bakal melewatkan begitu saja untuk membacanya. Tak kalah luar biasa dari Lampuki, bahkan novel ini lebih ringan, sangat cocok dengan selera semua kalangan, remaja dan dewasa, termasuk bagi mereka yang tidak suka sastra. Tak perlu bimbang, Arafat Nur adalah penulis cerdas yang mampu mengungkapkan suatu masalah dengan tepat dan dengan cara yang amat jenaka. Saya selalu menunggu-nunggu novel terbarunya dengan hati berdebar.
Nanda Feriana, mahasiswi penggemar sastra.


25. Saya harap Burung Terbang di Kelam Malam akan memenangkan banyak penghargaan. Saya juga berharap suatu saat pembaca Malaysia berkesempatan membaca novel ini karena sangat penting bagi kedua negara untuk saling mengenal karya sastranya. Bahkan, kiranya perlu juga diterjemahkan dalam bahasa lain agar pembaca di seluruh dunia bisa menikmatinya.
—Sharon Bakar, pengajar penulisan kreatif, editor, dan Dosen Senior The University College of St Mark and St John, Kuala Lumpur.


26. Ada tawaran-tawaran yang berbeda bagaimana memandang Aceh dari novel Burung Terbang di Kelam Malam. Tokoh Fais yang berprofesi sebagai seorang wartawan membeberkan dengan lugas dan terbuka tentang prilaku manusia-manusia hipokrit dan amoral yang sebelumnya tidak terbayangkan bisa terjadi di negeri dengan hukum syariat yang (konon) ketat. Akan tetapi, ada yang lebih penting dari semua itu, lewat perjalanan ambisiusnya membongkar sisi kelam tuan calon walikota—yang kemudian mempertemukannya dengan banyak perempuan—tokoh aku sesungguhnya tengah mencari dirinya sendiri, juga cinta.
Yetti A.KA, penulis buku kumpulan cerita Kinoli.

27. Melalui novel terbarunya Burung Terbang di Kelam Malam, sekali lagi Arafat Nur membuktikan bahwa dirinya adalah seorang pencerita ulung. Dengan lincah, ia meracik sebuah cerita yang begitu menghanyutkan, membawa kita merasakan derasnya arus politik dan cinta terlarang yang mengombang-ambingkan kehidupan Fais, tokoh utama dalam novel ini. Selain mengungkap lika-liku kisah cinta yang tidak biasa, gugatan terhadap kebusukan di balik politik pencitraan pun disuarakan melalui satire yang tajam dan tepat sasaran.

Kecermatan pemilihan kata yang menjadi kekuatan gaya bercerita Arafat Nur berhasil mengantarkan pembaca menelurusi relung terdalam pikiran dan perasaan Fais. Beragam konflik yang dialami tokoh-tokohnya saling menjalin dan menjadi cerminan sebuah realitas yang lebih besar: betapa manusia akan selalu berhadapan dengan sisi gelap kemanusiaan mereka sendiri.
Ika Yuliana Kurniasih, editor Penerbit Bentang.

       ---------------------------------------------------------

Kamis, 06 September 2012

Di Ubud Saya Melihat Eropa

Oleh: Arafat Nur
Bersama penulis asal Australia.
Dimuat Harian Waspada, Minggu (26/10).
GERIMIS selalu jatuh di Ubud sekalipun musim kemarau karena gesekan agin dan kampung ini berada di dataran tinggi dengan tebaran bukit-bukit. Jalan sering basah dengan khas aroma bunga, baik yang ada di pohon maupun sesajian di setiap pojok kedai dan toko. Jalanan selalu ramai dengan turis-turis berpakaian mini dan yang lelaki kebanyakan mengenakan celana puntung.
       Sejak 5 0ktober 2011, Ubud yang merupakan sebuah perkampungan budaya di Gianyar-Bali sudah dipenuhi dengan orang asing, bule-bule berkulit putih dan sebagiannya berkulit gelap. Di sana sedang dilangsungkan hajatan bergengsi Ubud Writers and Readers Festival (UWRF), tak kurang dari 20 negara mengikuti perhelatan itu dengan 131 penulis yang terlibat dalam acara.
Bersama Tariq Ali, Novelis Inggis asal Pakistan.
      Saya merupakan peserta satu-satunya dari Aceh yang lolos seleksi dengan novel Lampuki, yang salah satu bab novel itu kemudian dialih-bahasakan ke Inggris dan tergabung dalam antologi Nandurin Karang Awak UWRF: Cultivate The Land Within, bersama 14 penulis Indonesia lainnya, sebagai upaya perkenalan karya Indonesia pada khalayak internasional.
       "Pagelaran kali ini lebih istimewa dibanding tahun kemarin," kata pendiri sekaligus Direktur UWRF, Janet de Neefe, saat pembukaan festival itu di Indus Restauran, Jalan Raya Sanggingan, Ubud. Keistimewaannya karena penulis yang mengikuti festival ini sangat plural, baik dari segi genre maupun tema buku. Tak hanya itu, festival tahun ini juga dikarenakan banyak acara yang ditujukan bagi pendidikan anak-anak. Ada story telling, pelajaran menulis yang baik bagi anak-anak hingga memberikan wawasan jurnalistik dan cara penulisan serta mempergunakan bahasa dengan baik.
Bersama Pelawak Indonesia.
       UWRF kali ini merupakan yang ke delapan dan paling meriah dengan peserta dan pengunjung yang lebih banyak. Jalan-jalan dipenuhi turis asing dan jarang sekali ada orang yang tidak berbicara dengan bahasa Inggris. Terus terang, saya tidak pandai berkata bahasa asing sekalipun saya banyak membaca karya asing akhir-akhir ini. Saya hanya membaca karya asing terjemahan, sehingga kala tampil sebagai pembicara dalam diskusi saya terpaksa menggunakan penerjemah. Ternyata kemudian bukan saya saja yang bertindak begitu, sejumlah penulis Indonesia lainnya juga menggunakan jasa penerjemah yang disiapkan panitia.
       Sejumlah hotel dan cafe pun penuh, selalu saja ada acara, dari pergelaran musik, diskusi, dan acara minum-minum. Bir dan anggur adalah minuman paling bebas. Lelaki dan perempuan berbaur di antara musik dan aroma yang asing, tanpa menanggalkan nuansa relejius khas Hindu. Tak ubahnya seperti modernitas di Jepang yang tetap mempertahankan nilai kultur dan tradisional di tengah situasi yang jauh memisahkan.
       Tentu saja saya tak biasa melihat perempuan-perempuan berpakaian minim, karena di Aceh tidak dibolehkan akan hal itu. Di Bali tidak ada masalah dengan baju ketat dan rok minim, bahkan suatu petang di Ubud saya melihat seorang perempuan hanya menggenakan kutang dengan celana minim yang mirip celana dalam. Dia berjalan tanpa risau ataupun canggung, seakan-akan demikianlah pakaian mereka hari-hari di depan umum.
        Sejumlah galery lukisan juga tak urung membuat saya terkesima, dengan lukisan-lukisan perempuan yang tidak menutup dadanya. Malahan di bagian bawah dibiarkan terbuka, ada yang sekedar tertutup dengan selendang tipis. Anggota tubuh di tempat ini bukanlah sesuatu yang aib, bahkan terkesan terpadu dengan spiritual yang tidak mudah kita pahami, entah itu memang berlandas dari nilai budaya atau agama.
Bersama Saren, Penulis England
         Namun, di tempat ini tidak ada yang memandang asing, begitu juga saya, seolah-olah semua itu adalah bagian dari ritual budaya yang tidak perlu dipersoalkan. Pernah saya pertanya pada seorang gadis perjilbab tentang lukisan yang menunjukkan buah dada yang tersemat di dinding sebuah cafe. Saya bertanya, bagaimana perasaan kamu ketikan melihat lukisan itu? “Malu juga sih!” dia menjawab. Hanya itu, dan tak ada persoalan lain.
         Saya juga berkenalan dengan banyak penulis beken Indonesia yang sebelumnya hanya saya kenali namanya saja. Di sana juga saya saling berkenalan dengan penulis-penulis dunia dan juga mereka yang bergerak di bidang penerbitan. Di antara yang saya kenali itu, salah seorangnya mengaku jauh hari sudah membeli novel Lampuki dan membagikan pada dua temannya yang bergerak di bidang terjemahan. “Saya tertarik untuk membantu menerjemahkan novel ini ke bahasa Inggris,” kata David yang sengaja menemui saya selagi kami di gedung Mesium.
Lampuki

         Bukan dia seorang saja yang tertarik dengan novel ini, tetapi para pengunjung yang mendengarkan ceramah saya saat diskusi di Indus Cafe, berharap mereka dapat membaca Lampuki secara untuh dalam bahasa Inggris. Pada kesempatan itu saya membeberkan tentang perang Aceh dan segala hal yang menimpa rakyat, yang kemudian mendorong semangat saya untuk menulis novel itu. Setelah memenangkan Sayembara Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2010, pada saat itu juga saya mendengar kabar bahwa Lampuki masuk dalam 10 besar nominator Khatulistiwa Literary Award (KLA), dan kemudian memang memenangkan anegerah bergengsi ini setelah saya tiba kembali di Aceh.
      Saya kira semua itu bukanlah masalah penting, tetapi bagaimana usaha kita memperkenalkan Indonesia kepada dunia. Tentunya saya juga berkewajiban memperkenalkan Aceh ke mata internasional, dan ini hanya dapat saya lakukan bila Lampuki diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Turis-turis yang datang ke Indonesia itu sebenarnya asing juga dengan dunia dan budaya kita, makanya kita perlu memperkenalkan semua ini pada mereka yang ingin banyak tahu.[]

Rabu, 05 September 2012

5 Buku Pilihan


Lampuki karya Arafat Nur adalah sebuah narasi satir dari tanah rencong yang ditulis oleh “anak segala bangsa” Aceh sendiri. Kisah kisah tentang suasana serambi Mekkah di tahun tahun pembantaian dan tahun tahun perlawanan, dilukiskan oleh penulisnya dengan untaian kalimat yang bernas dan cerdas memilih milih kata. Suasananya serasa hidup. Buku ini juga tak kehilangan selera humor tatkala bercerita ihwal apapun, terutama tentang Ahmadi si kumis tebal yang menjadi pusat cerita.

oleh Asep duninov Ar

Saya menulis catatan ini persis di hari pertama bulan terakhir, Desember 2011. Warsa yang sebentar lagi pamit, berganti dengan tahun yang baru dan tentu saja dengan harapan harapan baru yang lebih baik. Yang bolong bolong diperbaiki. Yang sudah bagus ditingkatkan. Target target ditetapkan dan lantas dilambungkan agar kualitas hidup semakin mendaki menuju-meminjam jargon 1960an-progresif revolusioner.

Hidup memang mesti terus berjalan kendati banyak aral melintang di sana sini. Sebab kata Nietsczhe, seorang filsuf dari tanah Bavaria, pernah berujar bahwa dengan menanam harapan-lah manusia bisa bertahan hidup. Adanya harapan memberi motivasi kukuh nan tangguh bahwa hidup harus terus diperjuangkan, dicari celah celahnya sembari tak lupa bahwa dunia bukanlah terminal akhir dari sebuah episode panjang bernama kehidupan.

Nun katanya menurut kitab suci, bahwa ada hidup setelah buana ini tamat. Kehidupan yang teramat kekal dengan Tuhan semesta alam sebagai pemilik-Nya. Maka, pergantian tahun mesti dimaknai sebagai medium melihat kembali kedirian dan kemanusiaan kita di tahun tahun yang telah berlalu. Meminjam istilah yang hampir klise adalah sebagai sarana introspeksi diri apa yang telah dilakukan. Masih bengkok bengkok-kah, sudah luru tapi masih bentur bentur ke sana ke mari dan lain sebagainya. Bukannya malah menghabiskan pergantian tahun dengan sesuatu yang tak jelas.

Duh, dari tadi ngelantur kemana mana. Oke, kembali ke laptop. Nah, di hari pertama Bulan Desember ini saya hendak menyuguhkan kesan saya tentang sejumlah buku yang pernah dibaca di tahun 2011. Tentu versi saya. Memang cenderung subjektif. Tapi mau gimana lagi. Kalau mau, silakan tulis sendiri buku buku pilihan versi kalian masing masing.

Sudah barang tentu masih banyak buku buku bagus diluaran sana yang terbit pada tahun ini. saya membatasinya pada buku buku yang saya beli. Kenapa buku bagus yang lain tak dibeli? Alasannya tentu saja klasik: duit. Maklum sudah ada tanggungan yang mesti dinafkahi dan mesti berbagi dengan kebutuhan ini dan kebutuhan itu.

Buku buku yang saya tampilkan semuanya berbahasa Indonesia, lintas genre, dan ragam topik yang menjadi antusiasme saya dalam memilih milih buku bacaan. Saya makin sadar bahwa banyak membaca menambah keyakinan saya bahwa saya ini masih bodoh dan mesti banyak belajar. Benarlah apa yang pernah diucapkan oleh baginda Rasullullah bahwa menuntut ilmu itu dari buaian sampai liang lahat. UNESCO menerjemahkannya sebagai long life eduacation.
Buku buku ini tak diberi peringkat. Saya mengurutkannya menurut waktu terbit.

Pesan Pesan Islam: Rangkaian Kuliah Musim Semi 1953 di Cornell University, oleh Hadji Agus Salim
Sungguh amat disayangkan kalau melewatkan buku ini dan tak tersimpan dalam rak buku. Sebuah koleksi istimewa tentang percik percik pemikiran salah seorang founding fathers negeri ini. Hadji Agus Salim. Intelektual cum aktivis. Diplomat ulung, pendebat yang canggih, pendidik yang membebaskan. Tak lupa, ia seorang poliglot. Piawai dalam sejumlah bahasa.

Pendidikannya hanya sampai HBS. Ia tak jadi melanjutkan pendidikan dokter ke Belanda dengan menampik beasiswa yang diperjuangkan oleh Kartini. Agus Salim muda merasa, ia tak dihargai kemampuan otaknya sebagai lulusan terbaik HBS di tiga kota. Lantas banting setir bekerja di konsulat jenderal Belanda di Jeddah, Saudi Arabia sembari memperdalam ilmu agama pada Syekh Ahmad Khatib.
Buku ini adalah sebuah documenta historica tentang pemikiran seorang cendekiawan muslim di awal awal republik ini berdiri. Atas kesempatan yang diberikan oleh George Mc Turnan Kahin, seorang Indonesianis yang simpati pada perjuangan kemerdekaan Indonesia, Haji Agus Salim memberikan kuliah tentang Islam selama hampir enam bulan di sebuah universitas ternama di Amerika Serikat, Cornell University.

Haji Agus Salim memberikan pandangan tentang Islam sebagai sebuah agama yang terbuka, ramah, dan demokratis. Bukan sebuah agama yang sempit, penuh hunusan pedang, dan menerbitkan ketakutan.
Saya kira ini adalah sebuah buku yang wajib dibaca oleh siapa saja yang meminati pemikiran tentang Islam dari seorang cendekiawan papan atas yang pernah dipunyai oleh Indonesia. Dan Haji Agus Salim bukan hanya pandai berkata kata, ia juga berhasil menumbuhkan laku asketis tentang arti perjuangan. “Berjuang adalah menderita”

Bayang Bayang Tuhan: Agama dan Imajinasi, oleh Yasraf Amir Piliang
Entah kenapa, sejak mengenal buku buku pak Yasraf di awal awal tahun 2000-an saya bertekad untuk selalu membeli buku bukunya, walaupun saya akui tak mudah untuk memahami pemikiran pemikiran pak Yasraf yang sering didaulat sebagai pemikir kebudayaan kontemporer. Di satu pelatihan tingkat nasional saya pernah mengikuti ceramah pak Yasraf dan mendapat kesan bahwa memang cerdas orangnya.

Dalam buku ini pak Yasraf banyak menelaah tentang agama dan kelindannya tentang fenomena kebudayaan populer. Dan agama termasuk institusi yang diterjang oleh wabah atau virus popularitas. Dengan mudah dapat kita saksikan bagaimana sebuah ritual agama yang semestinya sakral, jauh dari hingar dan bingar nyatanya dibungkus oleh wadah yang manipulatif. Sehingga yang didapat adaalah kesan seolah olah. Seolah olah saleh. Seolah olah dermawan. Seolah olah baik. Seolah olah ramah. Dll

Mungkin itulah yang disebut sebagai pencitraan. Dan media massa ikut bertanggung jawab atasnya.
Walau terkesan berat, buku pak Yasraf selalu menyediakan glosarium istilah istilah yang sulit dipahami. Ini membantu pemahamam awal tentang konsepsi yang dibicarakan oleh penulis. Dan saya hanya bisa berkata…bacalah buku ini agar otak anda terus subversif sebagai upaya menangkal citraan citraan yang diselusupkan secara halus lewat varian media apapun.

Lampuki, Oleh Arafat Nur.
Buku ini sebuah narasi satir dari tanah rencong yang ditulis oleh “anak segala bangsa” Aceh sendiri. Kisah kisah tentang suasana serambi Mekkah di tahun tahun pembantaian dan tahun tahun perlawanan, dilukiskan oleh penulisnya dengan untaian kalimat yang bernas dan cerdas memilih milih kata. Suasananya serasa hidup. Buku ini juga tak kehilangan selera humor tatkala bercerita ihwal apapun, terutama tentang Ahmadi si kumis tebal yang menjadi pusat cerita.

Ahmadi, seorang “pemberontak” dengan kumis tebal melintang seolah menjadi momok bagi prajurit prajurit dari tanah seberang yang menguras bumi serambi mekkah sembari membuka selangkangan perempuan perempuan yang konon kabarnya banyak yang mempunyai nama cut.

Ahmadi dari Lampuki, selalu meresahkan legiun legiun daratan seberang yang terkenal medok. Ia, dengan dibantu-istrinya-Halimah dengan sesuka hati memungut pajak dari penduduk pribumi guna menyokong perjuangannya. Eh..eh..eh..Tak dinyana Halimah tergoda oleh anak bau kencur bernama Jibral Si Rupawan.
Ah, saya bukan pengamat dan kritikus sastra yang hebat. Lagi lagi saya mesti berucap klise: Bacalah novel bersampul merah menyala ini. Oh, ya. Novel ini baru saja diganjar penghargaan Khatulistiwa Award.
Sebentar, saya mau sholat dan mandi dulu. Tersisa dua buku lagi. Yuk..Mari.

Garis Batas: Perjalanan di Negeri Negeri Asia Tengah, oleh Agustinus Wibowo
Saya kira buku ini adalah sebuah anomali di tengah limpahan buku buku bertema backpacker-travelling yang isinya nyaris seragam: berangkat pake peswat apa, cara beli tiketnya bagaimana, tempat makan yang enak dimana, lokasi hunting foto yang selanjutnya bisa dipamerin di facebook yang bagus dimana, kira kira habis berapa, dan tetek bengek lainnya. Membanjirnya buku buku tersebut mengakibatkan backpacking hampir menjadi sebuah budaya massal yang dapat secara mudah diperagakan oleh siapa saja, termasuk barisan ababil yang gemar menenteng dslr…hehehehe…

Ya, tidak salah memang jika hobi membaca buku buku yang begituan. Hanya saja kurang greng gitu loh kalau hanya baca buku cara cepat, cara sukses. Padahal esensi terpenting dari sebuah backpacking adalah seni dari sebuah perjalanan itu sendiri yang dipenuhi kejutan kejutan, keterdugaan, dan hal hal yang bisa membuat ternganga dan tak percaya bagi si pelakunya. Dan sang penulis, Agustinus Wibowo, sukses melakukannya.

Ia berpetualang ke negeri negeri yang tak bisa dikunjungi oleh backpacker bahkan rombongan tour and travel dari Indonesia. Negeri negeri yang berakhiran Stan. Tajikistan, Kirghistan, Kazakhstan, Uzbekistan, dan Turkmenistan. Sejumlah tempat yang cukup “buta” untuk dijelajahi. Biasanya, seksi buku travelling menyediakan judul judul buku seperti 2 juta ke Malaysia, Thailand, Singapore. Hemat ke Eropa, dan semacamnya.

Agustinus Wibowo tak menyediakan hal hal remeh temeh itu. Ia bahkan lebih dalam, secara menukik dan menyelami suasana sosial dan kultural penduduk di negeri negeri tersebut dengan segala kekurangan dan keekstrimannya. Apa yang dilukiskan oleh penulisnya sungguh “basah”. Kita seolah olah diajak untuk ikut merasakan petualangan yang dialaminya. Sekali lagi, iqra haadzal kitaab.

Jurnalisme dan Politik di Indonesia: Biografi Kritis Mochtar Lubis (1922-2004) sebagai Pemimpin Redaksi dan Pengarang, oleh David T. Hill
Mochtar Lubis saya kira punya tempat tersendiri dalam horizon pers dan kesusateraan negeri ini. Maka tak heran jika seorang David T. Hill rela selama berpuluh tahun menekuni sosok yang besar di tanah pers juga tak kurang terhormatnya di jagad sastra. Koran Indonesia Raya adalah buahnya di dunia pers, dan deretan novel sebagai bukti kuat kepengarangannya.

Terus terang saja saya masih menghanca buku ini. Baru setengahnya saya baca. Ditulis layaknya sebuah biografi yang didahului dengan kehidupan masa kanak kanak Mochtar Lubis di tanah Minang, lalu menyeberang ke daratan sebrang Jakarta.

Di tanah perantauan inilah ia menjejakkan dan mendedikasikan hidupnya dalam dunia jurnalisme dan kepengarangan. Berkali kali ia berbenturan dengan kekuasaan. Di bawah dua orde ia mencecap pahitnya sebuah kuasa yang ditancapkan dengan setajam tajamnya.
“anak rohani”nya yang bernama Indonesia Raya tamat di awal awal orba mengukuhkan taringnya. Dan kasus Pertamina adalah pemicunya.(kompasiana)

Mengurai Sastra dalam Ruang Kekuasaan

Karya ArafatNur misalnya, novelnya yang berjudul “Lampuki” memotret kondisiketidakadilan yang menimpa Aceh sekian lama, sekaligus kritik padakekuasaan yang zalim dengan bahasa yang indah dan metafora-metaforapenuh sindiran.

Oleh: Ade    Oktiviyari

Membicarakan sastra, dari sastra Indonesia hingga sastra Aceh, selalumenarik. Jika kita membahas sastra Indonesia, kita akan memulai dengansejumlah nama terkenal, baik dari angkatan Balai Pustaka maupunsesudahnya. Dari yang popular, terkenal hingga ke mancanegara hinggayang namanya tenggelam setelah karya perdana. Membicarakan sastraberarti mengingat banyaknya perdebatan, kisruh, dan kritik terhadapsejumlah karya sastra yang hadir dan mewarnai kebudayaan Indonesia dandunia. Tak lupa,membicarakan sastra juga identik dengan menyebut namapara pujangga dan sastrawan, dari era pujangga lama, pujangga baru, balaipustaka, hingga era modern. Nama-nama seperti Marah Roesli, Muhammad Yamin, M. Hasjim, dan HB. Jassin pasti tak akan terlewat. Di era modern ini,mungkin kita akan menyebut nama Djenar Mahesa Ayu, WS. Rendra, Helvy Tiana Rosa, Seno Gumira Adjidarma, dan kawan-kawan Komunitas UtanKayu serta Forum Lingkar Pena.Sastra memang indah, dan memiliki geloranya sendiri sehingga hadir dalamberbagai bentuk: prosa, drama, puisi, syair, pantun, bahkan dongeng.Sastra juga lintas generasi, lintas daerah, suku, agama, dan mampumenembus batas wilayah dan waktu. Namun perlu dipahami, sastra tidakhanya bicara tentang yang indah-indah saja, namun sastra juga bicaratentang salah satu hal yang cukup sensitif bagi manusia: kekuasaan danpolitik.Sastra dan kekuasaan memang bukan barang baru. Para penyair Arab, dimasa kejayaan Bani Umayyah dan Abbasiyah, hampir 10 abad silammembuktikan bagaimana sebuah syair bisa membawa seorang sastrawanmendekati penguasa atau sebaliknya, mendekati maut. Khalifah AbdulMalik bin Marwan mungkin adalah contoh yang cukup popular. Jika iamenyukai syair seorang penyair, maka ia akan menghujani penyair itudengan keping-keping emas; jika tidak, semua orang bersiap merapikanbaju mereka, agar tidak terciprat darah. Demikianlah.Di Indonesia, tempat dimana sastra lahir sebagai bentuk perekamanbudaya, rupanya takdir tetap tak bisa mengelak bahwa sastra punyaposisinya di dekat kekuasaan. Jika ditilik di masa lampau, sastra sebagaialat kritik kekuasaan telah ditemukan dalam Nagara Kartagama, gubahanPrapanca. Di sana penyair ini melukiskan bahwa di tengah luas danberjayanya kerajaan Majapahit, terselip kemiskinan hingga ‘sap-sapi

mereka kurus-kurus seumpama kambing’. Ini jika ditinjau sebagai alatpenyampai kebenaran. Sebagai alat untuk melanggengkan kekuasaan,sastra juga digunakan pada tiap jaman. Kisah Nyi Roro Kidul mungkin bisatermasuk dalam contoh yang paling termasyhur. Raja Matarammenyebarkan sebuah mitos tentang adanya penguasa Laut Selatan yangbernama Nyi Roro Kidul, yang bersuamikan semua raja-raja Mataram,tepat saat Belanda sukses merebut wilayah ini. Dengan demikian, rakyatyang percaya akan menganggap bahwa kekuasaan Raja tetap ada dengandukungan Nyi Roro Kidul, tak peduli siapakah yang mengklaim daerahtersebut. Terbukti, warisan sejarah itu tetap ada hingga sekarang.Penduduk Yogyakarta, terutama penduduk sekitar pesisir tetap setiamelarungkan sesajen ke Laut Selatan pada saat tertentu, dan tetap takutmemakai baju hijau, yang konon warna kesukaan Nyi Loro Kidul.Pada masa Orde Baru, pemerintah enggan menggunakan sastra, sebabberas dan militer menjadi hal yang lebih penting bagi pemerintah. Namunsastra masih unjuk gigi melalui tangan dan mulut para sastrawan danbudayawan idealis. Kita kenal W.S Rendra yang gemar mengkritik penguasamelalui sajak-sajaknya yang gelap, kita tahu sejumlah tokoh dengan karya-karyanya yang terang-terangan menyebut nama penguasa Orde Baru,Soeharto dalam bahasa yang nyaris eksplisit: Menembak Banteng (FRahardi); Diam (Moes Loindong); Tembok Pak Rambo (Taufik Ikram Jamil);Saran “Groot Majoor” Prakosa (YB Mangunwijaya); Bukan Titisan Semar(Bonari Nabonenar); Kaki Druhun (Bonari Nabonenar); “Masuklah ke Telingaku, Ayah(Triyanto Triwikromo), Paman Gober (Seno GumiraAdjidarma), dan lainnya. Setidaknya ada 17 cerpen yang masuk dalamdalam buku “Soeharto dalam Cerpen Indonesia” (M Shoim Anwar). Jelaslah bahwa dalam sejarah Indonesia, penggunaan sastra sebagai alatkontrol kekuasaan selalu diperlukan. Seno Gumira Adjidarma, menulis buku“Ketika Jurnalisme Dibungkam, Maka Sastra Bicara” juga dengan semangatini. Sebab menurutnya sastra mampu menyampaikan kebenaran yang takbisa diterabas, dibrendel, dan tidak bisa didiamkan. Sepotong berita dalamkoran akan terlupakan dalam sekejap, tapi sastra akan menembus waktudan jaman hingga sampai pada masa yang tak terhingga.Lalu, bagaimana dengan Sastra Aceh? Tentu saja, membicarakan tentangsastra Aceh selalu menarik. Ini mungkin, karena pada dasarnya orang Acehadalah bangsa penutur, bangsa pencerita. Itulah mungkin satu alasanmengapa rekam jejak Aceh jauh lebih kaya dalam bentuk cerita daerah dansyair yang turun temurun ketimbang terangkum dalam gulungan lontar.Sebab bangsa Aceh adalah bangsa penghafal yang menurunkan melaluicerita dan kisah ketimbang tulisan.

Pada masa itu, penulisan sastra Aceh yang paling terkenal adalah hikayat.Beberapa hikayat yang masih terdokumentasi diantaranya adalah Syairperahu (Hamzah Fanshuri), Bustanul as salatin (Nuruddin Arraniry), danHikayat Prang Sabil (Tgk Chik Pante Kulu). Selain itu juga ada HikayatMalem Dagang, Hikayat Pocut Muhammad, Hikayat Putroe Bungsu danbeberapa hikayat yang tidak diketahui penulisnya.Lalu apakah sastra di Aceh bergandeng dengan kekuasaan? Tentu saja.Sastra di Aceh, sejak jaman pra-kemerdekaan telah dipenuhi denganberbagai sindiran-sindiran, bertaburan humor khas Aceh dalampenuturannya. Hikayat Perang Sabil misalnya, kental dengan nuansaperlawanan terhadap kekuasaan Belanda.Lantas, pada jaman sesudahnya, sastra Aceh tetap diwarnai dengankentalnya perlawanan terhadap ketidakadilan. Karya-karya sastrawan Acehyang lebih modern, seperti Arafat Nur, Azhari, Ayi Jufridar, dan belakanganini Rahmatul Fitriadi, ikut mewarnai kancah kesustraan Aceh. Karya ArafatNur misalnya, novelnya yang berjudul “Lampuki” memotret kondisiketidakadilan yang menimpa Aceh sekian lama, sekaligus kritik padakekuasaan yang zalim dengan bahasa yang indah dan metafora-metaforapenuh sindiran. Rahmatul Fitriadi juga, yang belum lama ini menerbitkannovel “Marwah di Ujung Bara”, menggambarkan ketidakadilan dalam masadarurat konflik dengan tokoh mahasiswa dan bahasa yang lebih eksplisit.Pendeknya, sastra di Aceh masih belum lepas dari jeratan konflik danupaya untuk merebut keadilan serta kritikan bagi penguasa yang masihbelum menyelesaikan tugasnya untuk mengembalikan semua yang telahdirampas dari Aceh ini.Setelah semua pembahasan yang panjang di atas, maka tentu kita dapatmenyimpulkan bahwa sastra dan kekuasaan selalu berkaitan. Dalam segalabentuk, sastra bisa saja melawan, memihak, bahkan menjadi alat darikekuasaan itu sendiri, tergantung si pemakainya. Dan sekarang, menjelangPemilukada Aceh, tidak adakah pihak yang ingin menggunakan kekuatansastra ini, sekali lagi, untuk melakukan suatu perubahan? Akan kita lihat,karena sejarah sudah membuktikan, bahwa sastra bisa menyampaikan,dan juga menembus ruang batin manusia yang terdalam.(scribd.com)