Jumat, 04 Oktober 2019
Kamis, 03 Oktober 2019
Tiga Novel Arafat Nur Terbit Sekaligus dengan Cover Baru
DEMI mengobati kerinduan pembaca, Gramedia Pustaka Utama segera menerbitkan tiga buku Arafat Nur di bulan November 2019, yaitu LAMPUKI, TEMPAT PALING SUNYI, dan TANAH SURGA MERAH.
Ketiga buku itu adalah cetak ulang dengan cover baru yang lebih segar dan menarik. Beberapa buku itu di antaranya memang sedang dinanti-nanti terbit ulang, baik bagi pembaca di Tanah Air maupun pembaca-pembaca sastra di negeri jiran.
Semoga kehadiran buku-buku ini dapat memeriahkan dunia literasi Indonesia dan mencerdaskan bangsa. Sebelumnya ketiga buku ini mendapatkan sambutan sangat baik dari pembaca, dan atas permintaan pembaca, novel ini dicetak ulang dengan cover baru.
Tunggu tanggal terbitnya!
Selasa, 18 Juni 2019
Cinta dan Pendidikan di Tengah Gejolak Perang
Oleh Suroso
Judul :Bayang Suram PelangiPenulis :Arafat NurPenerbit: DIVA PressTerbit : April 2018ISBN : 978-602-391-531-6Tebal : 384 halaman
Membaca novel Bayang Suram Pelangi, seseorang
akan diajak kembali pergulatan sejarah pada era 90an. Khususnya di daerah Aceh.
Di mana pada masa itu sudah gencar-gencarnya gejolak politik, perang (konflik)
yang terbilang memanas. Bahkan dalam novel ini juga menjelaskan, banyak sekali
anak-anak yang tidak menempuh pendidikan. Selain, tempatnya jauh dari
perkampungan, masalah ekonomi dan suara pistol menjadi alasan utamanya.
Saidul, seorang anak yang menjadi tokoh utama dalam
novel ini, menjadi satu-satunya anak kampungnya yang bisa menikmati pahit dan
manisnya pendidikan. Dalam perjuangannya menempuh pendidikan ia harus mengayuh
sepeda ontheldari rumahnya sampai dengan sekolah yang berjarak
sangat jauh. Atau dalam novel ini, disebutkan harus melewati sepuluh batu. 140
Dalam setiap perjalanan, ia selalu merasakan
kekhawatiran yang sangat mendalam. Hal yang paling membuat dirinya khawatir
ialah, bahwa masih banyak perang senjata antara tentara dan pemberontak di
daerahnya tersebut. Sebab, setiap dirinya melewati pos tentara ia selalu
diperiksa, dengan alasan bahwa Saidul adalah seorang pemberontak.
Dari hal-hal yang menakutkan itulah, ia pernah ingin
memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah dan membantu ayahnya untuk
memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Tetapi, dengan tegar ayahnya
mengatakan, untuk saat inisekolah lebih penting bagimu .
Ketika sudah berkata seperti itu, maka Sidul tidak bisa membantah lagi, ia
hanya bisa mengikuti apa yang dikatakan oleh ayahnya tersebut.
Buku ini sedikitnya menyadarkan kepada kita tentang
pentingnya sebuah pendidikan. Selain itu, juga mengajak seluruh jajaran manusia
agar tidak melupakan sebuah sejarah. Konflik, perang, ataupun pemberontakan
yang terjadi di masa lalu. Jangan pernah dilupakan, tetapi dijadikan sebuah
acuan untuk menggali keutuhan untuk menuju kehidupan yang lebih baik ke
depannya.
Selain menyajikan sejarah dan pendidikan, novel ini
juga mengambil latar belakang tentang percintaan. Sebuah percintaan yang
melankonis dalam masa perjuangan. Sidul sebagai orang terdidik yang mencintai
Zahra yang menjadi bunga desanya. Percintaan ini juga dialami oleh kakak Sidul
yang menikah dengan seorang yang dianggap pemberontak oleh tentara. Dan Aini
sebagai adiknya menaruh hati dengan seorang tentara. Berangkat dari pergulatan cinta inilah rumahnya
seringkali dikunjungi oleh tentara. Dengan dalih untuk menjaga keamanan yang
ada di kampungnya. Pernah suatu ketika Sidul dipukuli tentara, karena dianggap
pernah bersama dengan pemberontak. Yang membuat dirinya tidak bisa berjalan dan
pergi ke sekolah untuk menikmati pendidikannya (hal 250) Ada titik tekan yang menarik dalam buku ini, yaitu
bagaimana perjuangan Sidul agar menjadi anak yang terdidik. Ia harus berjuang
dengan sekuat tenaga dan penuh pengorbanan, bahkan nyawa menjadi taruhannya.
Hingga menginjak SMA kelas 3 ia berhasil mendapatkan peringkat satu. Sebuah
pencapaian yang sangat mengesankan. Karena dengan begitu ia bisa mengurangi
beban keluarga. Karena mereka yang mendapat ranking satu, maka ia akan
dibebaskan dari biaya pembayaran sekolah (SPP) setahun penuh. (Hal 368) Arafat Nurselaku penulis memberikan gambaran menarik
dalam novelnya. Selain ia menceritakan alur sejarah yang mencekam, ia juga
berusaha membuat sebuah fakta yang menarik tentang keadaan di Aceh pada masa
itu. Salah satu fakta yang digambarkan dalam novel ini ialah ekonomi yang
sangat rendah. Setiap harinya Sidul dan keluarga harus memakan nasi dengan lauk
kangkung. Di lain sisi masyarakat juga tidak bisa berkutik akan tindakan
tentara yang kadang bertindak sesuka hati, sampai dengan membakar rumah warga.
Namun, tidak semua tentara sekeras itu, seperti Tumiren, tentara yang selalu
menunggu cerita Sidul dan tentara yang mendekati Aini. Ia juga memiliki welas
asih terhadap warga. Ia hanya keras terhadap orang-orang yang dianggap
pemberontak. 
Dengan bahasa yang sistematis dan mudah dipahami, pembaca akan memahami alur sejarah, dan cinta melankonis yang ditawarkan dalam novel ini. Diharapkan pembaca memiliki jalan tengah, agar menemukan khazanah yang ada di dalam buku ini.[]
Minggu, 16 Juni 2019
Kemanusiaan dan Kesetiaan Anjing
Oleh Novita Dewi
*dimuat harian KOMPAS
Arafat Nur taat dan telaten pada detail, tetapi deskripsi sadisme yang berlebihan tidak ditemukan. Kezaliman tentara pemerintah maupun pemberontak dinarasikannya untuk menyentuh nurani sesama anak bangsa. Meski agak antroposentris, pemerian tentang panen di kebun Kakek mencerminkan makna kehidupan. Setiap tiga bulan tauke pisang membawa pekerjanya mencari sendiri tandan pisang yang siap dipanen.
Alam ramah kepada manusia jika diperlakukan baik, seperti kebun Kakek yang terawat dan terbukti menghidupi keluarga. Di kebun pisang ini Nasir kecil belajar arti kata ”melawan”. Diliputi rasa takut, bocah berusia 13 tahun itu mengintip sekawanan tentara mengobrak-abrik kebun.
Gagal menemukan pemberontak yang dicari, mereka pun berlalu sambil membawa setandan pisang ranum. Saat itulah Nasir mafhum mengapa orang-orang Aceh berani melawan serdadu. Perang timbul dari gairah untuk melawan, melebihi rasa takut.
Novel ini rekonsiliatif. Kebencian rakyat pada tentara digambarkan berimbang dengan kegusaran serdadu pada pemberontak. Dilukiskan pula bencana yang menimpa ketika anggota keluarga terlibat dengan pasukan pejuang. Nasir menyaksikan orang-orang terkasih terenggut dari kehidupannya gara-gara pamannya, Arkam, bergabung dengan GAM.
Sewaktu Arkam menghilang, tentara menghabisi siapa pun yang disangka pembangkang. Nasir merindukan kehidupan Alue Rambe yang tenang dan damai. Ia akhirnya memutuskan untuk angkat senjata guna menyudahi budaya kematian.
Perang adalah selebrasi budaya kematian. Perang memungkiri kehidupan sebagai anugerah Tuhan. Tidak ada bendera yang cukup lebar untuk menutupi rasa malu membunuh orang tak bersalah, kata sejarawan Amerika, Howard Zinn. Tidak juga secarik kain merah bergambar bulan bintang yang dikibarkan Arkam pada pembukaan Lolong Anjing di Bulan.
Selain menghibur, novel ini menambah alur sejarah. Lolong anjing membangunkan memori perjuangan rakyat Aceh yang berpuluh-puluh tahun terkubur oleh kekuasaan. Kiranya tidak terulang pada rakyat Papua sekarang.
Sejak 2008, konflik antara KKB dan TNI telah menewaskan 79 warga sipil (Kompas, 11 November 2018). Sekadar catatan paratekstual, ketiga peta wilayah yang diselipkan di halaman depan terasa mengganggu karena membatasi imajinasi pembaca yang seharusnya dibiarkan meruak.
Secara alegoris novel ini memang kurang mewah karena dirajut dengan nama-nama tokoh dan peristiwa sejarah nyata. Namun pesannya jelas: perang membuat manusia kehilangan kemanusiaannya dan raungan makhluk bernama anjing menjadi pertanda khilaf ini. Lolong Anjing di Bulan diterjemahkan oleh Maya Denisa Saputra, Blood Moon over Aceh (Dalang Publishing, 2018).
NOVITA DEWI Dosen Program Magister Kajian Bahasa Inggris, Universitas Sanata Dharma.
Senin, 03 Juni 2019
Dijamin Bukan Sihir Karya Terbaru Musmarwan Abdullah
Apalah arti sehelai mukena, meski mahal, namun dapat menutupi ketelanjangan orang gila ini. Walau bagaimana, kebugilannya adalah kebugilan seluruh lelaki yang ada di pasar ini.
Setelah melihat bagian bawah tubuhnya sudah tak telanjang lagi, lelaki lusuh melihat ke arah ibu itu, berkata, “Semua orang di pasar ini telanjang. Kecuali, ibu seorang.”
Mendengar pernyataan itu, si ibu tersentak. Tak menyangka kata-kata tersebut keluar dari mulut orang gila. Pulih dari ketermanguannya, dia bertanya, “Apakah kamu seorang sufi atau orang gila?”
Lelaki lusuh tak menjawab. Dia terus melangkah seraya berceracau pada diri-sendiri, “Apa bedanya?” katanya seakan menjawab pertanyaan ibu itu. Dan, seraya terus melangkah sambil menyilang tangan di punggung, dia menyambung ceracauannya, “Orang sufi tidak perlu telanjang untuk melihat orang lain telanjang. Tapi, orang gila sepertiku harus bugil dulu untuk melihat orang lain telanjang.”
Buku ini merangkum sejumlah kisah satiris, fantastis, menggelitik, konyol, dan juga inspiratif menyihir. Tokohnya adalah orang-orang unik yang, masih tersisa sekarang, memiliki imajinasi dan pikiran paling liar yang dapat mengubah pandangan hidup Anda lebih beda, lebih cerdas, cerah, bergairah, dan ceria. Kisahnya benar-benar ganjil, gila, menghibur, dan juga menyihir; tapi dijamin bukan sihir!
Senin, 19 Juni 2017
Novel Arafat Nur National Bestseller
Percikan Darah di Bunga
ARAFAT NUR
PERAIH KHATULISTIWA LITERARY AWARD
Di dalamnya ada orisinalitas, alur yang lancar, kisah
yang mengejutkan, serta penokohan detail dengan karakter yang sangat kuat. Cara
penuturannya juga berbeda dengan novel kebanyakan. Buku yang sebaiknya tidak
Anda lewatkan.
-Helvy Tiana Rosa, Sastrawan dan dosen sastra.
BILA suatu saat nanti di sini tak ada lagi tangisan, belum tentu itu adalah
sebuah tanda kesedihan panjang sudah berakhir. Tak ada tangisan di mata Dhira
Ayu sekalipun jiwanya merintih dengan kebiadaban manusia atas manusia yang
berlangsung terus-menerus di tanah ini, tanpa henti, dan tidak ada yang mampu
menghentikannya.
Di sebuah lembaga kemanusiaan Dhira bertemu Ahmadun, lelaki yang seumur hidupnya tidak pernah menangis. Bahkan saat dia mengalami penyiksaan hebat bagaikan azab di tepi jurang neraka, sama sekali tidak ada air mata yang jatuh. Wajahnya dirusak, disayat-sayat, kuku-kukunya dicabut, dan tubuhnya setengah remuk dipukuli, tetapi dia tetap tidak menangis.
Ada yang membuat lelaki itu terus hidup. Sesuatu yang bergerak dan tumbuh perlahan dalam dirinya yang lama sendiri dan sepi. Perihal sama juga dirasakan Dhira, gadis yang pernah mengalami pelecehan dan sempat membuatnya sangat membenci lelaki.
Dalam hidupnya, mereka tidak pernah menangis. Lalu tiba-tiba ada yang membuat Ahmadun bercucuran air mata. Bercucuran dengan begitu derasnya, linang yang tanpa bisa dihentikan, mengucur bagai curahan hujan deras dari langit yang gelap. Itu terjadi di suatu pagi buta, saat dia menemukan darah yang memercik ke bunga-bunga yang berserakan....
Jumat, 12 Mei 2017
About Arafat Nur
Arafat
Nur, born on 22 December 1974 in Lubuk Pakam, North Sumatera is an Indonesian
novelist, poet, and a short stories writer. He has earned a number of awards,
such as the winner of Short Story Writing held by Taman Budaya Aceh (1999), the
first consolation prize winner of Short Story Competition held by Telkom Online
(2005), and the third winner of Novel Writing National Competition held by
Lingkar Pena Forum (2005). His poems were published in Keranda-Keranda anthology (2000), Aceh dalam Puisi (2003), Mahaduka
Aceh (2005), Lagu Kelu (2005),
while his short stories were published in Remuk anthology (2000), And this year
he realease his first own poem book, Keajaiban
Paling Hebat di Dunia(20017). Arafat Nur has also published novels,
including Meutia Lon Sayang (2005), Cinta Mahasunyi (2005), Percikan Darah di Bunga (2005), Lampuki (2011), and Tanah Surga Merah (2017). He won Khatulistiwa Literary Award (KLA)
in 2011, through his novel Lampuki.
Jumat, 05 Mei 2017
Tanah Surga Merah; Antara Politik dan Kritik Sosial
Sekarang arah telah berbalik tajam, aku bukan lagi pahlawan melainkan penjahat
buronan diintai polisi dan diburu orang-orang Partai Merah yang menaruh dendam
kesumat.
Adalah Murad mantan pejuang
kemerdekaan Aceh dan mantan anggota Partai Merah yang kini menjadi buronan
polisi dan Partai Merah karena dianggap sebagai pemberontak. Setelah sekian
lama melarikan diri, akhirnya Murad kembali ke Aceh, ke kota kelahirannya.
Setelah masa damai, banyak mantan pejuang kemerdekan Aceh menduduki kursi
kepemerintahan. Ada juga diantara mereka yang menjadi kepala daerah.
Biasanya, masalah
yang kerap mereka bincangkan hanyalah seputar proyek, jabatan dan perempuan.
Biarpun sudah menjadi anggota dewan dan pejabat terpandang, sifat
kekanak-kanakan mereka tak pernah berkurang. Inilah yang terjadi bila
orang-orang rakus dan bodoh menjadi penguasa negeri.
Kepulangan Murad tidak berjalan
mulus meskipun dia telah menyamar menjadi orang lain. Banyak dari
teman-temannya dulu yang sekarang menjadi musuhnya tetap mengenali Murad. Belum
apa-apa Murad telah dikeroyok beramai-ramai, walau akhirnya mereka percaya
bahwa Murad bukanlah Murad, sang pemberontak partai Merah. Murad menumpang di
rumah Abduh, sahabatnya dulu yang sekarang menjadi guru sejarah. Abduh
seringkali menyayangkan budaya baca buku yang sangat rendah di Aceh dan
herannya budaya pacaran menjurus mesum meningkat di Aceh.
"Tolong jangan paksa aku membaca buku. Aku ini
orang Aceh yang tidak suka baca buku. Kesukaanku adalah menipu."
"Aku orang Indonesia. Orang Indonesia juga tidak
suka buku. Kami ini keturunan orang yang dijajah Belanda dan Jepang. Kami tak
suka buku. Kami suka menekan dan menyakiti orang."
Murad mengunjungi teman-temannya
sesama mantan pejuang kemerdekaan yang hidupnya jauh dari kemewahan.
Teman-temannya yang memutuskan untuk tidak bergabung dengan Partai Merah yang
kini berubah menjadi partai yang anggotanya berperilaku semena-mena, sombong
dan hanya memikirkan uang. Kehidupan Murad tidak pernah tenang dan harus
berpindah-pindah untuk menghindari kawanan Partai Merah yang ingin
menghabisinya.
Tiba-tiba
saja aku merasa asing pada tanah kelahiranku yang pulang ke rumah sendiri pun
harus diam-diam dan sembunyi-sembunyi seperti pencuri. Orang-orang dekat dan
sahabat karib kini menjadi musuh, bahkan mereka hendak membunuhku. Sementara
aku harus menjauhi keluarga dan teman-teman dekat yang tidak terlibat politik.
Sungguh asing rasanya negeri ini, tetapai aku terlanjur tidak bisa hidup di
tempat lain. Tanah ini rumahku, surgaku; tanah surga merah.
***
Buku ini terasa nyata bagiku
dibeberapa bagian walaupun buku ini adalah fiksi. Ada beberapa hal yang masih
relevan dan mungkin masih terjadi di Aceh. Membaca bab Partai Tuhan Aku
langsung ingat dengan salah satu kampanye cagub Aceh kemarin dan bab Sumpah
berikan Suara untuk Partai Tuhan adalah bab favoritku, karena sangat jelas
dengan mengatas namakan agama dan Tuhan, maka hal-hal yang mungkin diluar
logika dan tidak masuk akal adalah sah-sah saja. Agama dijadikan barang
dagangan untuk menarik minat pembeli.
"Kalau Aceh
ingin merdeka, kemenangan Partai Merah kali ini haruslah mutlak, tidak boleh
ditawar-tawar, jangan berikan kesempatan pada partai lain. Hanya Partai Merah
sajalah yang mampu memperjuangkan nasib bangsa kita, yang akan membawa Aceh ke
puncak kejayaan di masa mendatang. Partai lain hanya memperjuangkan kesenangan
mereka sendiri, tak lebih dari itu!"
"Bila partai
ini kalah, Tuhan akan marah pada rakyat Aceh! ini kesempatan yang diberikan
Allah untuk memperbaiki nasib rakyat Aceh yang telah lama dijajah oleh
orang-orang yang tak jelas agamanya. Kita bangsa besar di dunia, dan kita harus
bisa menolong diri kita sendiri. Jangan terlalu berharap pengakuan Amerika dan
Inggris, mereka orang kafir, mereka tidak mungkin mendukung kita!
"Kalian semua
harus memberikan suara untuk Partai Merah, sebagaimana yang kalian ketahui, ini
adalah Partai Tuhan!
Buku ini bukan hanya tentang
politik tapi juga penuh dengan kritik sosial. Penulis juga menggambarkan
kegagalan pemerintah yang tetap tidak dapat mengubah kehidupan rakyat bahkan
keadaan penduduk semakin terpuruk. Dana-dana program-program perekonomian
rakyat dan juga program pembangunan lain, banyak dialihkan pada sesuatu yang
tidak jelas, yang ujung-ujungnya untuk kekayaan partai dan anggotanya. Melalui
buku ini aku mengetahui bahwa di Aceh masih ada daerah yang belum mendapat
perhatian dari pemerintah, daerah yang benar-benar tertinggal yang penduduknya
masih percaya tahayul, jauh dari agama, belum teraliri listrik, dan anak-anak
yang tidak bersekolah. Entahlah, aku tidak terlalu yakin daerah tersebut hanya
rekaan penulis.
Penulis juga menggambarkan bahwa tidak ada yang benar-benar hitam ataupun putih dalam politik, semua serba abu-abu. Kita tidak pernah tau siapa sesungguhnya kawan maupun lawan. Penulis juga menggambarkan bahwa sah saja menjadikan orang lain kambing hitam demi kepentingan politik. Seperti Murad yang dituduh terlibat dalam kerusuhan yang tidak dilakukannya. Sepertinya wajar saja orang lain mengambil keuntungan terhadap situasi tertentu. Tidak peduli dengan nasib orang lain, yang penting bagaimana menjadi yang terkuat. Ah, politik dan kekuasaan seakan menutup hati nurani manusia. Seperti perkataan salah satu teman Murad, "mereka yang duduk dikursi kekuasaan telah ditutup hatinya dan sebenarnya dikutuk Tuhan." Melalui buku ini saya juga paham tentang orang yang sebenarnya tidak tau apa-apa tapi malah ikut-ikutan, merasa benar dan sok tau. Terkadang mereka sendiri hanya dimanfaatkan dan seakan semuanya beres dengan uang dan tahta.
Aku tertawa saat penulis
menyentil kebiasaan orang Aceh yang lebih suka menghabiskan waktu dengan duduk
dan mengobrol seharian penuh di kedai kopi dan memang tidak suka membaca buku.
Melalui buku ini aku melihat tidak ada yang berubah dari Aceh. Semoga Aceh
kembali bangkit ke arah postif dan tidak hanya dijadikan sebagai alat untuk
memperkaya diri sendiri dengan mengatas namakan rakyat.
Seandainya endingnya tidak
menggantung seperti itu, aku pasti akan memberi lima bintang (butuh
kelanjutannya nih). Aku akhirnya ngeh hubungan kaver dan ending buku
ini. Btw, penulis berani banget dalam menjabarkan beberapa hal dan
beberapa tokoh walaupun namanya disamarkan tetap saja agak ketebak dan bikin
ketawa miris. Menurutku Tanah Surga Merah salah satu buku yang harus dibaca
masyarakat Aceh.
Favorit line :
Tapi, di Indonesia maupun di Aceh
tidak begitu. Manusianya berperilaku suka-suka, menerobos lampu jalan sesuka
hatinya, suka melanggar aturan, dan merasa bangga. Anjing tidak demikian!
Jangan kalian pikir semua doa
Nabi Muhammad diterima Allah Ta'ala. Ada satu doa yang tak dijawb-Nya, yaitu
permohonan Nabi agat umat islam bersatu. Bagaimana mungkin Allah bisa
mengabulkan doa semacam itu bila umat islam sendiri senang bertengkar dan hidup
berpecah belah?
Setan bukan saja dari golongan
jin. Setan juga ada dari golongan manusia. Kalian tidak sadar kalau diri kalian
yang kalian anggap suci murni itu adalah orang-orang yang dilaknat Tuhan?
Langganan:
Postingan (Atom)









