Selasa, 09 Juni 2015

Kegemaran Musik dan Menulis Novel



Tempat Paling Sunyi dan novel catatan tangan

Lagi mendengar lagu Ten Out Of Ten dinyanyikan Louchie Lou & Michie One, yang merupakan kolaborasi dengan simponi Mozart 40. Rasanya senang sekali. Sekitar 10 tahun lalu, pada 2005, waktu aku masih tinggal di rumah baru tempat setting novel Lampuki, aku kerap memutar VCD lagu ini, karena televisi tidak bisa menangkap siaran, baik RCTI maupun TVRI, apalagi lainnya. Padahal aku telah memasang antena 2F dengan tiang besi yang cukup tinggi, karena aku tidak punya uang untuk membeli parabola. Uangku habis semua untuk beli rumah dan kebutuhan lain.

Kaset VCD ini hilang dipinjam seseorang dan tidak pernah dikembalikan lagi. Sialnya aku tidak tahu apa judul dan siapa penyanyinya. Bertahun-tahun aku mencarinya di Youtube, tapi tidak ketemu. Ketika kutanyakan pada kawan-kawan, mereka juga kebingungan. Memang ada seorang teman penyiar radio yang tahu, tapi dia juga tidak tahu judul dan penyanyinya. Sampai akhirnya aku menemukan lagu ini di sebuah HP yang baru diisi lagu baru. Aku menyimak liriknya dan saksama dan menyalinnya di mesin Google, ternyata penyanyinya Louchie Lou & Michie One. Tapi aku kecewa, vidio klipnya tidak sama dengan yang kutonton waktu dulu yang begitu heroik dan agak “erotis”. Mungkin klip yang ini tidak original. Ya, sudah.

Dulu lagu ini kuputar siang-malam tanpa jenuh mendengarnya, baik sepulang kerja atau lesehan, di sela-sela menonton film horor dari kaset DVD sewaan. Bahkan ketika sendirian di rumah aku berjoget-joget riang, seperti orang mabuk kepayang pada seseorang. Waktu itu aku masih seperti remaja tanggung, bahkan sekarang kala aku mendengarkan ulang, aku merasa kembali ke remaja tanggung, walaupun umurku bukan lagi belasan. Berapa ya umurku sekarang? Aku lupa! Hahaha....

Entah memang selera musikku buruk, aku tidak tahu. Pada kenyataannya musik ini juga ditiru penyanyi Indonesia dan artis Aceh. Aku tidak tahu siapa penyanyi dan judul lagunya karena memang tidak pernah peduli, karena sama sekali tiruannya membuat sakit telinga. Ketika mendengarkan lagu aslinya, jiwaku dilambung-lambung entah kemana. Saat itu aku memang sedang mengancang-ancang draf novel Lampuki dan merenungi tentang makna hidup dan perang. Ternyata hidup ini memang berada di antara kekosongan dan angan-angan. Silakan baca tentang perenungan waktu dan betapa tak berdayanya manusia di novel terbaru saya, Tempat Paling Sunyi yang sudah mulai beredar di sejumlah toko buku di Tanah Air.

Senin, 08 Juni 2015

Novel Ini Mengalir Indah Sekali!

Oleh Teguh Afandi

 

Tempat Paling Sunyi

NOVEL ketiga dari Arafat Nur yang diam-diam menjeratku dengan gaya bahasa sederhana, namun menyimpan teka-teki seru. Sebenarnya novel ini berkisah persoalan keluarga, meski ada sisipan tentang kondisi Aceh saat perang dan tsunami, itu hanya sekdarnya saja.

      Dikisahkan, Mustafa memiliki istri Salma yang benar-benar istri yang aneh terhadap suami. Lebih percaya omongan Syarifah, ibunya ketimbang suaminya. Latar belakang keluarganya adalah pejabat kaya raya (pasca Aceh didera pembangungan, banyak pejabat korup) yang membuat Salma menjadi manja dan tidak mengerti bahwa Mustafa adalah laki-laki yang biasa-biasa aja, cenderung miskin dengan tidak punya keterampilan lain.

       Mustafa hanya juru ketik di rental komputer dan diam-diam memendam keinginan menulis novel. Di sisi lain, Salam memiliki kecemburuan mahatinggi. Setiap kali Mustafa pergi lembur, Salma menderanya dengan cemburu membabi buta. Didakwa punya perempuan lain, dsb. Hingga akhirnya Mustafa pergi lama atau minggat dan ada perempuan lain bernama Riana, guru yang dahulu adalah langganan Mustafa di rental komputer.

       Mereka pun jatuh cinta dan hingga menikah di bawah tangan. Di ujung-ujung, Riana merasa sah-sah saja Mustafa untuk sesekali kembali ke Salma karena Salma tetaplah istri pertama dan sah bagi Mustafa. Riana pun melahirkan Andin, anak dengan Mustafa, keturunan yang tidak diperoleh dari Salma.

       Menulis novel bagi Mustafa dalah perjuangan. Selain kondisi keluarganya tidak memungkinkannya konsentrasi dalam menulis, Mustafa merasa menulis novel adalah ikhtoyar untuk memperoleh kebermanfaatan. Menurutnya novel mampu mengubah pandangan dan usaha paling jujur dalam perjuangan.

       Hal unik dalam novel ini adalah keberadaan dua tokoh utama, yaitu "aku" dan Mustafa. Aku adalah orang yang pasca kematian Mustafa mendatangi lokasi untuk sekadar jalan-jalan dan menemukan fakta perihal novel "Tempat Paling Sunyi" karangan Mustafa yang raib entah kemana.

        Tokoh Aku kemudian mencari data dan menemukan catatan-catatan kecil yang dijadikan untuk menuliskan kisah Mustafa secara utuh (yang kemudian jadi novel TEMPAT PALING SUNYI ini). Jadi seperti ada tokoh lain yang hidup selain Mustafa. Bagus.

       Ceritanya menarik, kadar perang dan kondisi Aceh tidak sekental LAMPUKI, memang. Aku suka karena kisahnya mengalir indah sekali![]

----https://www.goodreads.com/book/show/25557826-tempat-paling-sunyi


Selasa, 12 Mei 2015

Mari Kita Bicara dari Hati ke Hati

(Untuk Sebuah Pembelajaran yang Harus Dimaklumi)
 Oleh Arafat Nur

Tempat Paling Sunyi
SAYA minta maaf pada pembaca saya yang ingin catting, saya tak bisa, saya tak punya waktu, apalagi orang yang ingin catting begitu banyak. Belum lagi menghadapi pertanyaan yang bertubi-tubi, dari minta buku sampai minta diajari menulis. Sebenarnya saya sangat ingin, tapi saya tak punya banyak waktu. Saya online hanya ketika di kantor. Selebihnya saya sibuk dengan pekerjaan lain; menulis, membaca, mengumpulkan data, sesekali mengajar (sering tidak dapat imbalan), dan pada malamnya saya mengaji. Saya juga disibuki dengan menelusuri kampung-kampung terpencil, berbicara dengan banyak orang, membuat laporan harian, kadang juga mengurus rumah, masak, dan mencuci pakaian.

Saya agak terganggu bila ada inbox yang masuk lebih dari tiga kali. Kalau isinya hanya sekadar saja, tidak terlalu penting, saya tidak menanggapi. Begitu juga yang minta pertemanan di akun ini (akun informasi novel, perihal pribadi, dan sastra), tidak semuanya bisa ditanggapi. Pertemanan akan diterima bila si peminta mengunjungi akun ini dan membaca status dengan tanda “like” atau muncul komentar di status terbaru. Itulah sebabnya ada seratusan lebih permintaan pertemanan di akun ini yang masih menunggu, sebagian besarnya saya lihat tidak menyukai buku. Sebagaimana pengalaman yang sudah-sudah, mereka yang menjadi teman, tidak pernah singgah, malahan tidak kenal, sehingga banyak orang lain yang mengeluh sampai kemudian saya harus membuat akun baru lain.

Disebabkan saya tidak menanggapi inbox dan pertemanan, kemudian saya dikatakan sombong, sok, dan macam-macamlah. Kalau memang ingin bercakap-cakap panjang lebar masalah sastra dengan saya bisa di twitter @arafat_nur atau gabung langsung di Komunitas Sastra Lhokseumawe (KSL). Untuk gabung bisa hubungi Sdr Nasrul, Yusri, dan Zahra. Satu hal lagi yang membuat saya mendongkol, mereka yang ingin belajar menulis pada saya tidak suka membaca buku, dan tidak pula membaca novel saya. Jadi, bagaimana saya harus mengajarinya? Percayalah, kalau tidak suka membaca tidak akan berhasil sampai kapan pun.

Teman-teman yang baik hatinya, saya menulis karena saya mencintai Tuhan, mencintai alam, mencintai manusia, mencintai kalian. Saya menulis bukan untuk ketenaran, bukan semata demi uang (karena saya tak bisa kaya dengan menulis). Tujuan saya menulis untuk kebaikan, perubahan, kasih-sayang, berkomunikasi dengan banyak orang sambil memberikan hiburan, dan berharap bisa terjadi perubahan bagi pribadi pembaca, bagi keadaan negeri, dan bagi kehidupan kita semua agar lebih berkualitas.

Mohon maaf sekali lagi, status ini tidak bermaksud menyinggung siapa pun, selain hanya curhatan saya kepada teman-teman yang sudah saya anggap bagian dari keluarga saya. Saya katakan ini atas nama kekeluargaan, persahabatan, dan persaudaraan. Semoga bisa dimengerti dan dimaklumi. Dan jangan lupa nantikan Tempat Paling Sunyi terbit pada pertengahan Juni ini. Insya Allah!

Kamis, 07 Mei 2015

Tempat Paling Sunyi, Novel Terbaru Arafat Nur



Tempat Paling Sunyi (Gramedia, 2015)
Aku tidak bermaksud menulis ulang Tempat Paling Sunyi, kecuali beberapa bagian yang bisa kutemukan gambarannya secara jelas. Kisah ini sendiri kubiarkan mengalir apa adanya, tanpa aku bermaksud menutupi kenyataan sebenarnya, dengan berlandaskan pada sejumlah catatan Mustafa, juga hasil penyelusuranku terhadap kisah hidup lelaki itu, sehingga aku tetap mengukuhkan diri dengan judul yang sama lantaran tidak menemukan judul lain yang lebih tepat.

Rabu, 06 Mei 2015

Tempat Paling Sunyi

Azamy Muchlis



Waktu itu aku lupa bahwa usia Riana sudah menanjak tiga puluhan dan kesan yang kupikirkan adalah dia masih gadis tanggung, seakan-akan waktu tak singgah padanya. Senyumnya betul-betul menggetarkan sehingga aku hampir lupa diri kala menjabat tangannya. Sejenak dia pun tanpak tertegun, agak terkejut menatapku, seoalah-olah wajahku mengingatkannya pada sesuatu....



Tempat Paling Sunyi
ITULAH penggalan novel Tempat Paling Sunyi (Gramedia, 2015) karya Arafat Nur yang sedang dalam proses penerbitan yang direncanakan Juni depan. Novel setebal 328 halaman ini, menurut Arafat, sangat menyentuhnya. "Saya terbawa-bawa dengan kesan-kesan sederhana yang ditimbulkan. Saya begitu bergairah dalam menggarapnya. Sehingga saya tak membutuhkan waktu begitu lama untuk menyelesaikan drafnya. Tapi proses revisinya sampai empat tahun," ucap Arafat, Rabu (6/5).

       Tentang gagasan menulis novel ini sendiri datangnya tak disangka-sangka ketika sebulan dia pulang dari memberi materi seminar sastra di Padang. Waktu itu dia memang memiliki banyak waktu senggang, sehingga dia menelusuri hutan Sawang mencari untuk mencari batu cincin di sungai. Pada hari yang lain dia sering bertemu muka dan berbincang-bincang dengan seorang guru ngaji yang memiliki suatu keistimewaan-- dapat bercakap-cakap dengan makhluk halus.

       Kehidupan sehari-hari tentang dunia kepenulisan dan hubungannya dengan penulis-penulis Aceh, turut andil dalam mempengaruhi novel ini. Tempat Paling Sunyi membeberkan secara lugas tentang dunia dan kehidupan penulis yang ada di wilayah konflik, serta masalah-masalah yang dihadapi. Hup! Tapi tidaklah sesederhana itu ceritanya. Kisahnya benuh dengan lika-liku kehidupan Mustafa yang rumit, penuh tekanan, dan juga kisah unik cintanya. Kegagalannya dengan istri pertama membuatnya harus mengawini perempuan lain, yang sampai akhir hayatnya tetap menjadi perempuan simpanan.

      Berikut ini adalah sinopsisnya:


     Mustafa, seorang novelis yang tinggal di wilayah kecil dan dilanda kekacauan, mengalami banyak masalah pelik di seputar hidupnya sendiri dan harus menghadapi sejumlah peristiwa besar lain di lingkungan kota tempat tinggalnya. Di tengah-tengah kerumitan urusan keluarga dan kekacauan situasi yang senantiasa timbul, dia bertekad kuat dan berusaha keras untuk menyelesaikan sebuah novel yang diyakini kelak akan menjadi karya hebat yang dapat memengaruhi orang dan mengubah negeri yang selalu dalam kancah pertikaian ini.

Tempat Paling Sunyi
Mustafa mengalami banyak hal rumit, pertengkaran dengan istrinya, Salma, yang kerap terjadi saban hari menyebabkannya tidak bisa bekerja. Sementara orang-orang di sekelilingnya memandang aneh dan sama sekali tak mengerti dengan novel—bahkan mertuanya bertanya, “Binatang apa itu?” Menulis novel yang merupakan cita-cita Mustafa dalam hidupnya itu segera kandas oleh situasi keluarga dan situasi politik yang tidak mendukung, tetapi begitu dia mengenal Riana, yang kemudian menjadi istri simpananya, gairahnya menyala kembali, sampai kemudian dia dapat merampungkan novelnya. Namun, novel itu malah lenyap setelah sempat terbit dengan jumlah sangat terbatas yang kemudian menyebabkannya sebagai penulis gagal.

Novel ini mengisahkan romantika pelik hubungan manusia, keterasingan hubungan dengan Tuhan, dan kegamangan menghadapi dunia. Diceritakan dengan sederhana, lugas, jenaka, sendu, sedih, dan gembira. Kaya cita rasa, termasuk masalah-masalah rumit yang berhubungan dengan dunia kepenulisan dan sastra, keterkaitannya dengan politik dan hubungan dengan Sang Pencipta. Juga membahas secara sepintas lalu perbandingan sastra di Indonesia[]

Rabu, 12 November 2014

Empat Lelaki yang Punya Puluhan Istri

1. Muhammad Belo Abubakar

4 Orang ini istrinya puluhan

Muhammad Belo Abubakar asal Nigeria menjadi bahan perbincangan, sebab menikahi 86 perempuan dan memiliki 170 anak. Ini poligami terbesar sepanjang sejarah.

Belo mengatakan, dia sebenarnya tidak menginginkan poligami lebih dari empat namun banyak perempuan meminta dia menikahi mereka. Kaum hawa itu kagum pada Belo, lantaran lelaki itu punya kemampuan untuk menyembuhkan penyakit.

Gara-gara jadi perbincangan, banyak orang menyarankan Belo untuk memulangkan 84 istrinya ke rumah mereka masing-masing dan menyisakan empat terpilih mendampingi dia. Kabarnya lelaki itu setuju dengan usul itu, namun juru bicara Belo, Muhammad Tahir membantah. Dia mengatakan kliennya menyayangi seluruh istrinya bahkan dia berencana menikah lagi.

Banyak istri Belo malah umurnya lebih muda dari anak pertamanya. Di antara mereka ada janda, namun tidak sedikit perawan. Dewan Islam Nigeria (NSCIA) mengecam Belo sebab beristri lebih dari diajarkan Nabi Muhammad. Dia dianggap sirik. NSCIA menyerukan umat Islam agar tidak usah mengurusi Belo dan jangan mengikuti jejaknya.

2. Ziona Chana 

4 Orang ini istrinya puluhan

Lelaki India bernama Ziona Chana tidak mengalami kerepotan dengan mempunyai 39 istri dan 94 anak. Dia malah menganggap ini anugerah dari Tuhan. Apalagi rumahnya juga diramaikan 14 menantu dan 33 cucu. Mereka hidup di rumah layaknya apartemen dengan jumlah kamar mencapai 100 di Desa Baktwang.

Chana menerapkan disiplin ala militer pada keluarganya. Sedari pagi seluruh anggota keluarga dipimpin oleh istri tertua Chana bernama Zathiangi menyiapkan sarapan, membersihkan rumah, hingga mencuci. Sekali masak mereka bisa menghabiskan 30 ayam utuh, 59 kilogram kentang, dan 99,7 kilogram beras.

Chana juga tidak melarang anak lelakinya memiliki istri banyak seperti dia. Lelaki itu bahkan pernah menikahi 10 perempuan dalam setahun, dan melakukan hubungan seks dengan dua istri sekaligus. Saban hari para istrinya bergiliran mengunjungi kamar Chana untuk meminta 'jatah'.

3. Saleh Al-Sayeri

 4 Orang ini istrinya puluhan

Saleh Al-Sayeri menjadi lelaki Arab Saudi mempunyai banyak istri. Dia menikahi 58 perempuan bahkan sebagian besar nama mereka sudah lupa. Selain itu dia juga tidak ingat berapa anak dimilikinya.

Poligami dilakukannya sudah menghabiskan sekitar Rp 15,5 miliar untuk biaya mas kawin dan juga perceraian. Beberapa istri memang sudah minta talak lantaran tak kuat dimadu. Meski pikun akut Al-Sayeri ingat pertama kali menikah di usia 14 tahun. "Pernikahan tidak membosankan. Saya menikmatinya," ujar dia.

Kelakuan Al-Sayeri ini mendapat kritikan dari beberapa pegiat perempuan. Salah seorang wanita berpindah ke agama Islam bernama Mary Katty sampai bertanya, kenapa Al-Sayeri tidak mengikuti syariat Islam dengan mempunyai empat istri saja.

4. Winston Blackmore

 4 Orang ini istrinya puluhan

Lelaki asal Kanada Winston Blackmore melawan hukum di negaranya dengan menikahi 24 perempuan dan hingga kini dia mempunyai 121 anak. Saat tulisan ini dibuat pada 2010, dia tengah menunggu anak bungsunya lahir.

Meski punya ratusan anak, Blackmore tidak melupakan satu-satu nama mereka. Agar lebih mudah, setiap tahun anaknya lahir selalu diberi abjad berbeda. Anak bungsunya kali ini lahir di tahun 'J'.

Blackmore sempat ditangkap dan ditahan lantaran beristri banyak. Namun pengadilan hanya menjatuhkan hukuman percobaan dan dia diancam akan dijebloskan ke penjara jika menambah pasangan.

Meski ayahnya melakukan praktik poligami, namun anak-anak lelaki Blackmore sudah memutuskan, bahkan sejak usia mereka belia, mereka hanya ingin punya satu istri. "Punya banyak pasangan sangat merepotkan. Ayah saya terkadang bingung mau tidur di mana sebab ibu saya bermuka cemberut jika ayah tidur dengan ibu yang lain," ujar Michael, salah satu anak Blackmore.(rikiya)
  --------------------------------------------------------------

Burung Terbang di Kelam Malam


Jika kehidupan adalah sebuah perjalanan, Fais adalah seorang petualang yang berjalan sendirian di antara riuhnya dunia. Di tengah masyarakat yang mengelu-elukan sosok Tuan Beransyah, Fais memilih jalannya sendiri. Ia ingin membuktikan bahwa kandidat wali kota yang dikenal alim, dermawan, dan pandai agama itu tidak lain adalah sosok yang amat munafik.


Maka, dimulailah sebuah perjalanan dengan kejutan di setiap tikungannya. Perjalanan itu tidak saja membuat Fais menemukan kebenaran di balik politik pencitraan yang memuakkan, tetapi juga kebenaran perasaannya. Fais akhirnya sadar, pertemuan dengan perempuan-perempuan yang sempat menggetarkan hatinya justru adalah jalan yang membawanya pulang pada cinta sejatinya.

Burung Terbang di Kelam Malam mengungkap kehidupan sosial yang begitu dekat; tentang sisi gelap politik dan cinta. Hubungan cinta terlarang, perasaan tidak berdaya, takut kehilangan, dan kesedihan  yang begitu kental, tanpa kehilangan rasa humor. Sebuah kisah yang berliku, tetapi diceritakan dengan sangat lugas dan mengalir.

Diterbitkan oleh: Penerbit Bentang

(PT Bentang Pustaka)

Anggota Ikapi

Jl. Plemburan No. 1, Pogung Lor,

RT. 11, RW. 48 SIA XV, Sleman, Yogyakarta – 55284

Telp./Faks: (0274) 889248/(0274) 883753

Surel: bentang.pustaka@mizan.com

http://bentang.mizan.com

http://bentangpustaka.com

Didistribusikan oleh:

Mizan Media Utama

Jln. Cinambo (Cisaranten Wetan) No. 146,

Ujungberung, Bandung 40294

Telp.: (022) 7815500 – Faks: (022) 7834244

Surel: mizanmu@bdg.centrin.net.id

Perwakilan:

Pekanbaru Telp.: 0761-20716/Faks: 0761-29811 Medan Telp./Faks: 061-8229583 Jakarta Telp.: 021-7874455/Faks: 021-7864272 Yogyakarta Telp.:0274-889249/Faks: 0274-889250 Surabaya Telp.: 031-8281857/Faks: 031-8289318 Makassar Telp./Faks 0411-440158 Banjarmasin Telp./Faks: 0511-3252178. Banda Aceh: Pustaka Paramitha dan Alif Taufiqiyah. Lhokseumawe: TB Arun Pos. Bisa juga di Toko: Mizan Online Bookstore: www.mizan.com.

Selasa, 22 Juli 2014

Asal Usul Malam Lailatul Qadr



Sebagai seorang muslim, kita pasti sudah tidak asing akan sebuah malam yang sungguh luar biasa pahalanya di bulan Ramadhan, malam turunnya Lailatul Qadr. Malam diturunkannya kitab Al-Qur’an, dan malam yang yang pahalanya lebih baik dari seribu bulan.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Nur Karim,
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan."
(Al-Qadr [97]: 1-3).

Pernahkah sahabat menanyakan mengapa lebih baik dari 1000 bulan? Atau, mengapa 1000 bulan? Atau adakah kisah tentang 1000 bulan?

Kisah tentang 1000 bulan, berawal dari seorang Nabiyullah yang bernama Nabi Syam’un al-Ghozi as. Nabi dari kalangan Bani Israil. Beliau adalah hakim ketiga terakhir pada zaman Israel kuno.

Nabi Syam’un al-Ghozi as., memiliki beberapa nama; dalam bahasa Ibrani, disebut Å imÅ¡on; sedangkan dalam bahasa Tiberias, disebut Å himÅ¡hôn; lalu dalam Alkitab Nasrani, disebut Samson. Sedangkan dalam bahasa Arab, beliau disebut dengan Syamsyawn atau Syam'un. Nama Syam’un sendiri artinya "yang berasal dari matahari”, sedangkan al-Ghozi, artinya “yang berasal dari Ghozi” (Ghaza, sekarang).

Sebagaimana diterangkan dalam Kitab “Muqasyafatul Qulub” karangan Syeikh Muhammad bin Muhammad Abu Hamid al Ghazali bahwa, Rasulullah saw. saat berkumpul bersama para sahabat dibulan suci Ramadhan, beliau bercerita tentang seorang Nabi bernama Syam’un al-Ghozi as.

Diriwayatkan bahwa suatu kali Nabi Muhammad saw., terlihat tesenyum sendiri, lalu ditanya oleh para sahabatnya “Apa yang membuatmu tersenyum wahai Rasulullah”" Beliau menjawab, “Diperlihatkan kepadaku dihari akhir, ketika seluruh manusia dikumpulkan di padang ma’syar, ada seorang Nabi yang membawa pedang dan tidak mempunyai pengikut satupun, masuk ke dalam surga, dia adalah Syam'un.”

Nabi Syam’un al-Ghozi as. adalah seorang pahlawan berambut panjang yang memiliki kemukjizatan dapat melunakkan besi, dan dapat merobohkan istana.
Dengan hanya bersenjatakan tulang rahang seekor unta yang di bentuk menyerupai sebuah pedang pendek yang tajam, Nabi berperang melawan bangsa yang menentang Allah SWT, dengan penuh keberanian dan selalu dapat mengalahkan mereka. Pada riwayat lainnya dikatakan bahwa senjata beliau adalah janggut seekor unta yang dengan sekali sabetan saja, tewaslah para musuhnya.

Menghadapi kesaktian Nabi Syam’un al-Ghozi as, membuat para kafirun kewalahan. Mereka mencari jalan untuk bisa menundukkannya.
Akhirnya ide licik-pun ditemukan. Mereka menawarkan hadiah berupa uang dan perhiasan yang berlimpah kepada istri Nabi, dengan syarat ia bersedia melumpuhkan suaminya. Istri Nabi yang ternyata seorang kafir, sangat tergiur oleh hadiah itu.

Maka pada suatu malam ketika Nabi Syam’un al-Ghozi as. tertidur lelap, dengan pelan-pelan istrinya mengikat tangan dan kaki suaminya. Tiba-tiba Nabi terbangun dan dengan mudahnya memutuskan tali pengikat tersebut.
Di malam lainnya, kembali istri durhaka tersebut mengikat tangan dan kaki Nabi Syam’un al-Ghozi as yang tidur, dengan rantai besi. Lagi-lagi setelah Nabi terbangun, dengan mudahnya diputuskannya rantai besi itu. Karena sayang dan cintanya kepada isterinya, akhirnya Nabi berkata, "Istriku, tak seorang pun dapat mengalahkan aku karena rahasia kekuatanku ada pada rambutku. Jika engkau ingin mendapatkanku dalam keadaan tak berdaya maka ikatlah aku dengan potongan rambutku“.

Setelah mengetahui rahasia kekuatan suaminya, istri laknat ini kemudian mencari kesempatan untuk menggunting rambut suaminya. Akhirnya, di suatu malam ketika Nabi Syam’un al-Ghozi as. sedang tertidur lelap, istrinya mengguting beberapa rambut Nabi, sejumlah 8 helai rambut yang panjangnya sampai ke tanah. Lalu istri keji ini mengikat kedua tangan Nabi dengan 4 helai rambut, dan 4 lainnya diikatkan pada kedua kakinya.
Ketika Nabi terbangun, beliau tidak bisa berbuat apa-apa karena telah diikat oleh kekuatannya sendiri. Istrinya kemudian memberitahu para kafirun, lalu mereka datang dan membawa Nabi. Istri yang bejat ini mendapatkan hadiah yang banyak sebagaimana yang sudah dijanjikan.

Nabi Syam’un al-Ghozi as. lalu dibawa kehadapan raja para kafirun. Mulailah mereka memotong kedua telinga, bibir, kedua tangan dan kakinya. Tidak hanya itu, Nabi juga disiksa dengan dibutakan kedua matanya, lalu diikat pada sebuah tiang istana dan dipertontonkan kepada khalayak istana. Mereka menyiksa Nabi dengan tujuan agar beliau mati secara perlahan-lahan. Istrinya yang jahat, ikut pula menyaksikan penyiksaan tersebut tanpa rasa belaskasihan.

Begitu hebatnya siksaan tersebut, membuat Allah SWT berbicara pada Nabi Syam’un al-Ghozi as., “Hai Syam’un apa yang engkau inginkan, Aku akan menindak mereka.”
Nabi menjawab, “Ya Allah, berikanlah kekuatan kepadaku hingga aku mampu menggerakkan tiang istana ini, dan akan kuhancurkan mereka.”

Maka dengan seizin Allah, Nabi Syam’un al-Ghozi as. menggoyangkan tiang istana tersebut, dan tiang itupun rubuh menimpa raja bersama seluruh khalayak istana termasuk istrinya yang durhaka dan orang-orang yang telah menyiksanya. Mereka semua mati tertimpa reruntuhan bangunan istana dan terkubur didalamnya. Do’a Nabi Syam’un al-Ghozi as diqobulkan Allah SWT. Hanya beliau sendiri yang selamat, lalu Allah mengembalikan seluruh anggota badan yang telah terpotong dan menyembuhkan segala sakitnya.

Setelah peristiwa itu, Nabi Syam’un al-Ghozi as. bersumpah kepada Allah SWT akan menebus semua dosanya dengan berjuang menumpas semua kebatilan dan kekufuran selama 1000 bulan tanpa henti. Nabi menyibukkan diri dalam beribadah kepada Allah. Malam hari dilalui dengan memperbanyak shalat malam, sedangkan siangnya beliau berpuasa. Nabi menjalankan ibadahnya selama seribu bulan hingga ajalnya tiba, yaitu 83 tahun 4 bulan.

Setelah mendengar kisah Nabi Syam’un al-Ghozi as, para sahabat Nabi Muhammad saw menangis terharu, kata mereka, “Ya Rasullulah, tahukah baginda akan pahalanya?”
Jawab Rasulullah, “Aku tidak tahu.”

Setelah Rasulullah selesai berkisah, Allah menurunkan Malaikat Jibril as. dengan membawa surat Al-Qadr kepada Nabi Muhammad saw.
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur`an) pada malam kemuliaan.
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril as. dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”
(Al-Qadr [97]: 1-5)

Wallahu a'lam bish shawab.(ist)


--------------------





Burung Terbang di Kelam Malam


Jika kehidupan adalah sebuah perjalanan, Fais adalah seorang petualang yang berjalan sendirian di antara riuhnya dunia. Di tengah masyarakat yang mengelu-elukan sosok Tuan Beransyah, Fais memilih jalannya sendiri. Ia ingin membuktikan bahwa kandidat wali kota yang dikenal alim, dermawan, dan pandai agama itu tidak lain adalah sosok yang amat munafik.


Maka, dimulailah sebuah perjalanan dengan kejutan di setiap tikungannya. Perjalanan itu tidak saja membuat Fais menemukan kebenaran di balik politik pencitraan yang memuakkan, tetapi juga kebenaran perasaannya. Fais akhirnya sadar, pertemuan dengan perempuan-perempuan yang sempat menggetarkan hatinya justru adalah jalan yang membawanya pulang pada cinta sejatinya.


Burung Terbang di Kelam Malam mengungkap kehidupan sosial yang begitu dekat; tentang sisi gelap politik dan cinta. Hubungan cinta terlarang, perasaan tidak berdaya, takut kehilangan, dan kesedihan  yang begitu kental, tanpa kehilangan rasa humor. Sebuah kisah yang berliku, tetapi diceritakan dengan sangat lugas dan mengalir.


Diterbitkan oleh: Penerbit Bentang

(PT Bentang Pustaka)

Anggota Ikapi


Jl. Plemburan No. 1, Pogung Lor,

RT. 11, RW. 48 SIA XV, Sleman, Yogyakarta – 55284

Telp./Faks: (0274) 889248/(0274) 883753

Surel: bentang.pustaka@mizan.com

http://bentang.mizan.com

http://bentangpustaka.com


Didistribusikan oleh:

Mizan Media Utama

Jln. Cinambo (Cisaranten Wetan) No. 146,

Ujungberung, Bandung 40294

Telp.: (022) 7815500 – Faks: (022) 7834244

Surel: mizanmu@bdg.centrin.net.id


Perwakilan:

Pekanbaru Telp.: 0761-20716/Faks: 0761-29811 Medan Telp./Faks:

061-8229583 Jakarta Telp.: 021-7874455/Faks: 021-7864272 Yogyakarta Telp.:0274-889249/Faks: 0274-889250 Surabaya Telp.: 031-8281857/Faks: 031-8289318

Makassar Telp./Faks 0411-440158 Banjarmasin Telp./Faks: 0511-3252178. Banda Aceh: Pustaka Paramitha dan Alif Taufiqiyah. Lhokseumawe: TB Arun Pos. Bisa juga di Toko: Mizan Online Bookstore: www.mizan.com.

Senin, 07 Juli 2014

2013 Nobel Prize in Literature Laureate Alice Munro on the Secret of a Great Story

by

“A story … has a sturdy sense of itself of being built out of its own necessity, not just to shelter or beguile you.”
The question of what makes a great story has occupied the minds of some of our most celebrated storytellers. Kurt Vonnegut had his eight tips and Barnaby Conrad his six, Ken Burns devised a formula, and John Steinbeck defied the very notion of such formulas. A good story, nonetheless, is hardly a relative notion: To use one of pop culture’s most tired yet most expressive similes, it’s like pornography — you know it when you read it. But what, then, makes a story great?
In the introduction to her 1996 anthology Selected Stories (public library), 2013 Nobel Prize in Literature laureate Alice Munro (b. 1931) adds to the collected wisdom of great writers and builds a beautiful metaphor for “the hermeneutical path taken up in the reading process”:
A story is not like a road to follow … it’s more like a house. You go inside and stay there for a while, wandering back and forth and settling where you like and discovering how the room and corridors relate to each other, how the world outside is altered by being viewed from these windows. And you, the visitor, the reader, are altered as well by being in this enclosed space, whether it is ample and easy or full of crooked turns, or sparsely or opulently furnished. You can go back again and again, and the house, the story, always contains more than you saw the last time. It also has a sturdy sense of itself of being built out of its own necessity, not just to shelter or beguile you.

In a 1994 Paris Review interview, she offers a curious counterpoint to the notion that the reading experience of a story is ever-evolving, by observing that so is its writing experience. Both challenging and affirming the notion of a story’s “sturdy sense of itself,” Munro notes that whenever she begins writing a story, she doesn’t fully know what it will be or where it will go — which is exactly as it should be:
"Any story that’s going to be any good is usually going to change."
And that, perhaps, is the gift of great literature: The invitation to continually discover and rediscover ourselves, both as readers and as writers, in the perpetually evolving experience of a good story.
Complement with Kurt Vonnegut on the shapes of stories, and see these shapes spring to life in Munro’s Selected Stories and Hateship, Friendship, Courtship, Loveship, Marriage: Stories.
For more notable wisdom on the written word, see Elmore Leonard’s 10 rules of writing, Walter Benjamin’s thirteen doctrines, H. P. Lovecraft’s advice to aspiring writers, F. Scott Fitzgerald’s letter to his daughter, Zadie Smith’s 10 rules of writing, David Ogilvy’s 10 no-bullshit tips, Henry Miller’s 11 commandments, Jack Kerouac’s 30 beliefs and techniques, John Steinbeck’s 6 pointers, and Susan Sontag’s synthesized learnings.(brainpickings.org)



Burung Terbang di Kelam Malam



Jika kehidupan adalah sebuah perjalanan, Fais adalah seorang petualang yang berjalan sendirian di antara riuhnya dunia. Di tengah masyarakat yang mengelu-elukan sosok Tuan Beransyah, Fais memilih jalannya sendiri. Ia ingin membuktikan bahwa kandidat wali kota yang dikenal alim, dermawan, dan pandai agama itu tidak lain adalah sosok yang amat munafik.


Maka, dimulailah sebuah perjalanan dengan kejutan di setiap tikungannya. Perjalanan itu tidak saja membuat Fais menemukan kebenaran di balik politik pencitraan yang memuakkan, tetapi juga kebenaran perasaannya. Fais akhirnya sadar, pertemuan dengan perempuan-perempuan yang sempat menggetarkan hatinya justru adalah jalan yang membawanya pulang pada cinta sejatinya.


Burung Terbang di Kelam Malam mengungkap kehidupan sosial yang begitu dekat; tentang sisi gelap politik dan cinta. Hubungan cinta terlarang, perasaan tidak berdaya, takut kehilangan, dan kesedihan  yang begitu kental, tanpa kehilangan rasa humor. Sebuah kisah yang berliku, tetapi diceritakan dengan sangat lugas dan mengalir.


Diterbitkan oleh: Penerbit Bentang

(PT Bentang Pustaka)

Anggota Ikapi


Jl. Plemburan No. 1, Pogung Lor,

RT. 11, RW. 48 SIA XV, Sleman, Yogyakarta – 55284

Telp./Faks: (0274) 889248/(0274) 883753

Surel: bentang.pustaka@mizan.com

http://bentang.mizan.com

http://bentangpustaka.com


Didistribusikan oleh:

Mizan Media Utama

Jln. Cinambo (Cisaranten Wetan) No. 146,

Ujungberung, Bandung 40294

Telp.: (022) 7815500 – Faks: (022) 7834244

Surel: mizanmu@bdg.centrin.net.id


Perwakilan:

Pekanbaru Telp.: 0761-20716/Faks: 0761-29811 Medan Telp./Faks:

061-8229583 Jakarta Telp.: 021-7874455/Faks: 021-7864272 Yogyakarta Telp.:

0274-889249/Faks: 0274-889250 Surabaya Telp.: 031-8281857/Faks: 031-8289318

Makassar Telp./Faks 0411-440158 Banjarmasin Telp./Faks: 0511-3252178. Banda Aceh: Pustaka Paramitha dan Alif Taufiqiyah. Lhokseumawe: TB Arun Pos. Bisa juga di Toko: Mizan Online Bookstore: www.mizan.com.

Rabu, 02 Juli 2014

Karya Terjemahan Para Pemenang Nobel Sastra


2006 - Orhan Pamuk
-          Istambul, Serambi 2009
-          Snow, Serambi 2008
-          New Life, Serambi 2008
-          White Castle, Serambi 2007
-          My Name is Red, Serambi


2004 - Elfriede Jelinek
-          Sang Guru Piano, KPG 2006


2003 - J. M. Coetzee
- Aib, Jalasutra 2005
- Kisah Hidup Michael K, Jalasutra 2003
- Jeritan Hati Nurani, Yayasan Obor Indonesia 1999


2002 - Imre Kertesz
-          Fateless, Bentang 2005

2001 - V. S. Naipaul
- Sebuah (Sepetak) Rumah Untuk Tuan Biswas, Jalasutra 2003
- Mencari Titik Pusat, Sadasiva 2003


2000 - Gao Xingjian
-          Gunung Jiwa, Jalasutra 2003


1994- Kenzaburo Oe
-          Jeritan Lirih, Jalasutra 2004


1993- Toni Morrison
-          Cinta, Serambi 2005


1990- Oktavio Paz
-          Puisi dan Esai Pilihan, Bentang 2002


1989 - Camilo Jose Cela
-          Keluarga Pascual Duarte, Gramedia Pustaka Utama, 1996


1988 - Naguib Mahfouz
-          Pengemis, Grafiti 1996
-          Lorong Midaq, Yayasan Obor Indonesia, 1996
-          Awal dan Akhir I dan II, Yayasan Obor Indonesia, 2001
-          Aku Musa, Engkau Firaun, Tarawang, 2000
-          Kabar Dari Penjara, Tarawang 2000
-          Hari Terbunuhnya Presiden, Fajar Pustaka Baru 2000
-          Di bawah Bayang-bayang Perang, Fajar Pustaka Baru 2000
-          Zahiya, Tarawang 2000
-          Hotel Miramar, Fajar Pustaka Baru 2001
-          Demit, Pustaka Alief 2003
-          Harafisy, Bentang 2004
-          Cinta di Kota Terlarang, Bentang
-          Kisah Seribu Satu Siang dan Malam, Bentang 2002
-          Lelaki dalam Pasungan, Jendela 2003
-          Karnak Cafe, Alvabet 2008


1982 - Gabriel García Márquez
-          Selamat Jalan Tuan Presiden, Bentang 1999
-          Seratus Tahun Kesunyian, Bentang,2003
-          Sang Jenderal dan Labirinnya, Jalasutra 2004
-          Klandestin di Chile, akubaca 2002
-          Tumbangnya San Diktator, Yayasan Obor Indonesia 1992
-          Wanita Yang datang Pukul 6 (cerpen dalam kumpulan cerpen Dongeng dari Sayap Kiri), Aksara Indonesia 2000.
-          Caldas


1971 - Pablo Neruda
-          Nyanyian Revolusi, Jalasutra Jakarta 2001
-          Para Pemalas dan Putri Duyung, Forum Sastra Bandung 1996.


1970- Alexandr Solzhenitsyn
-          Sehari Dalam Hidup Ivan Denisovich, Pustaka Jaya 1976
-          Gulag, Bentang 2005


1969 - Samuel Beckett
-          Menunggu Godot, Bentang 1999


1968- Yasunari Kawabata
-          Keindahan dan Kesedihan, Jalasutra 2003
-          Seribu Burung Bangau, Bentang Budaya 2001.
-          Rumah Perawan, 1977
-          Snow Cantry


1964- Jean-Paul Sartre
-          The Age of Reason, Jendela 2002
-          Kata-kata, Gramedia 2001
-          Dinding (cerpen dalam kumpulan cerpen Dongeng dari Sayap Kiri), Aksara Indonesia 2000
-          Pintu Tertutup,1979
-          Pelacur, 1954


1962- John Steinbeck
-          Sebuah Impian Lennie, Ufuk Press 2006
-          Tikus dan Manusia, Lentera 2005
-          Amarah 1 dan 2, Yayasan Obor Indonesia 2000
-          Bunga-bunga Krisan (cerpen dalam kumpulan cerpen Dongeng dari Sayap Kiri), Aksara Indonesia 2000
-          Cannery Row, Sumbu Dataran Tortilla, Pustaka Jaya 1977
-          Kena Gempur, 1951


1958- Boris Pasternak
-          Dr Zhivago, Djambatan 1960
-          Manusia Sejati, 1959


1957- Albert Camus
-          Orang Aneh, Nusa Indah-Matahari 1980
-          Orang Asing, Penerbit Djambatan 1984
-          Sampar, Yayasan Obor Indonesia 1985
-          Mite Sisifus: Pergulatan dengan Absurditas, Gramedia 1999
-          Pemberontak [The Rebel, Bentang Budaya 2000.
-          La Chute, Tinta 2004


1954 - Ernest Hemingway
-          To Have and Have Not, Selasa Publishing 2009
-          Lelaki Tua dan Laut, Selasar Publishing 2008
-          Angkatan Kelima, Pedati 2003
-          Salju Kilimanjaro, Yayasan Obor Indonesia2002
-          Pertempuran Penghabisan, Yayasan Obor Indonesia 1997


1950- Bertrand Russel
-          Sejarah Filsafat Barat, Pustaka Pelajar 2006
-          Pergelokan Pemikian, Yayasan Obor Indonesia 1991


1947- Andre Gilde
-          Pendidikan Istri (Yayasan Obor Indonesia 2008)


1946- Hermann Hesse
-          Sidharta, Bentang 2002
-          Perjalan ke Timur, Tirai 2004
-
Demian, Mata Angin


1938- Pearl Buck
-          Angin Timur Angin Barat 2009
-          Bumi Yang Subur, Gramedia 2008
-          Wang Si Macan, Gramedia 2008
-          Runtuhnya Dinasti Wang 2008
-          Maharani, Gramedia 2007
-          Mandala, Gramedia 2007
-          Peony, Gramedia 2006
-          Madame Wu, Gramedia


1934 - Luigi Pirandello
-          Cerita-cerita dari Sisilia, Jalasutra 2004
-          Pidato Nobel dan 3 Cerita Pilihan, Yayasan Akubaca 2001


1825 - George Bernard Show
-          Manusia AdiManusia, Bentang


1920 - Knut Hamsun
-          Lapar, Yayasan Obor Indonesia 1993


1913 - Rabindranath Tagore
-          Gitanjali, Pustaka Jaya
-          Sanyasi, 1979
-          Anak,1979
-          Tukang Kebun, Pustaka Jaya, 1996
-          Bhimala, Jejak 2008
-          Bulan Sabit, Bentang 2003
-          Siul Gelombang, Bentang 2003
-          Batu-batu Lapar, Bentang 2003
-          Masa Kecilku, Bentang 2003
-          Surat Dari Raja dan Anyelir Merah, Bentang 2003





Burung Terbang di Kelam Malam




Jika kehidupan adalah sebuah perjalanan, Fais adalah seorang petualang yang berjalan sendirian di antara riuhnya dunia. Di tengah masyarakat yang mengelu-elukan sosok Tuan Beransyah, Fais memilih jalannya sendiri. Ia ingin membuktikan bahwa kandidat wali kota yang dikenal alim, dermawan, dan pandai agama itu tidak lain adalah sosok yang amat munafik.



Maka, dimulailah sebuah perjalanan dengan kejutan di setiap tikungannya. Perjalanan itu tidak saja membuat Fais menemukan kebenaran di balik politik pencitraan yang memuakkan, tetapi juga kebenaran perasaannya. Fais akhirnya sadar, pertemuan dengan perempuan-perempuan yang sempat menggetarkan hatinya justru adalah jalan yang membawanya pulang pada cinta sejatinya.



Burung Terbang di Kelam Malam mengungkap kehidupan sosial yang begitu dekat; tentang sisi gelap politik dan cinta. Hubungan cinta terlarang, perasaan tidak berdaya, takut kehilangan, dan kesedihan  yang begitu kental, tanpa kehilangan rasa humor. Sebuah kisah yang berliku, tetapi diceritakan dengan sangat lugas dan mengalir.



Diterbitkan oleh: Penerbit Bentang

(PT Bentang Pustaka)

Anggota Ikapi



Jl. Plemburan No. 1, Pogung Lor,

RT. 11, RW. 48 SIA XV, Sleman, Yogyakarta – 55284

Telp./Faks: (0274) 889248/(0274) 883753

Surel: bentang.pustaka@mizan.com

http://bentang.mizan.com

http://bentangpustaka.com



Didistribusikan oleh:

Mizan Media Utama

Jln. Cinambo (Cisaranten Wetan) No. 146,

Ujungberung, Bandung 40294

Telp.: (022) 7815500 – Faks: (022) 7834244

Surel: mizanmu@bdg.centrin.net.id



Perwakilan:

Pekanbaru Telp.: 0761-20716/Faks: 0761-29811 Medan Telp./Faks:

061-8229583 Jakarta Telp.: 021-7874455/Faks: 021-7864272 Yogyakarta Telp.:

0274-889249/Faks: 0274-889250 Surabaya Telp.: 031-8281857/Faks: 031-8289318

Makassar Telp./Faks 0411-440158 Banjarmasin Telp./Faks: 0511-3252178. Banda Aceh: Pustaka Paramitha dan Alif Taufiqiyah. Lhokseumawe: TB Arun Pos. Bisa juga di Toko: Mizan Online Bookstore: www.mizan.com.