Kisah Penuh Liku dan Menegangkan!

Novel ini memikat hati pembaca dengan cerita yang begitu realistis, sehingga sangat gampang membayangkan sosok dan kepribadaian sejumlah tokoh yang muncul dalam kisahnya. —John H. McGlynn, penerjemah dan editor berkebangsaan Amerika.

Kisah Ini Mengandung Satire, Jenaka, dan Tajam!

Kisah ini mengandung satire ringan, jenaka, dan juga tajam—sesuatu yang memang telah menjadi salah satu kekuatan dari gaya bercerita dia. —Joko Pinurbo, penyair.

Dapatkan Novel Burung Terbang di Kelam Malam karya Arafat Nur!

Sebuah novel menarik berbalut intrik politik dan kisah cinta yang unik. —Anton Kurnia, penulis cerita dan editor buku sastra.

Novel Paling Romantis Tentang Sisi Gelap Politik dan Cinta

Beragam konflik yang dialami tokoh-tokohnya saling menjalin dan menjadi cerminan sebuah realitas yang lebih besar: betapa manusia akan selalu berhadapan dengan sisi gelap kemanusiaan mereka sendiri. —Ika Yuliana Kurniasih, editor Penerbit Bentang.

Berani, Genit, dan Terus Menggoda Hingga Akhir Cerita!

Novel ini seperti menelanjangi sisi-sisi gelap manusia yang tersembunyi, dan bahkan akan mengguncang jiwa. Yang pasti sangat bertolak-belakang dengan bayangan Aceh yang sebelumnya ada dalam pikiran kita semua. —Sandi Firly, penulis novel Lampau.

Selasa, 22 Juli 2014

Asal Usul Malam Lailatul Qadr



Sebagai seorang muslim, kita pasti sudah tidak asing akan sebuah malam yang sungguh luar biasa pahalanya di bulan Ramadhan, malam turunnya Lailatul Qadr. Malam diturunkannya kitab Al-Qur’an, dan malam yang yang pahalanya lebih baik dari seribu bulan.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Nur Karim,
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan."
(Al-Qadr [97]: 1-3).

Pernahkah sahabat menanyakan mengapa lebih baik dari 1000 bulan? Atau, mengapa 1000 bulan? Atau adakah kisah tentang 1000 bulan?

Kisah tentang 1000 bulan, berawal dari seorang Nabiyullah yang bernama Nabi Syam’un al-Ghozi as. Nabi dari kalangan Bani Israil. Beliau adalah hakim ketiga terakhir pada zaman Israel kuno.

Nabi Syam’un al-Ghozi as., memiliki beberapa nama; dalam bahasa Ibrani, disebut Šimšon; sedangkan dalam bahasa Tiberias, disebut Šhimšhôn; lalu dalam Alkitab Nasrani, disebut Samson. Sedangkan dalam bahasa Arab, beliau disebut dengan Syamsyawn atau Syam'un. Nama Syam’un sendiri artinya "yang berasal dari matahari”, sedangkan al-Ghozi, artinya “yang berasal dari Ghozi” (Ghaza, sekarang).

Sebagaimana diterangkan dalam Kitab “Muqasyafatul Qulub” karangan Syeikh Muhammad bin Muhammad Abu Hamid al Ghazali bahwa, Rasulullah saw. saat berkumpul bersama para sahabat dibulan suci Ramadhan, beliau bercerita tentang seorang Nabi bernama Syam’un al-Ghozi as.

Diriwayatkan bahwa suatu kali Nabi Muhammad saw., terlihat tesenyum sendiri, lalu ditanya oleh para sahabatnya “Apa yang membuatmu tersenyum wahai Rasulullah”" Beliau menjawab, “Diperlihatkan kepadaku dihari akhir, ketika seluruh manusia dikumpulkan di padang ma’syar, ada seorang Nabi yang membawa pedang dan tidak mempunyai pengikut satupun, masuk ke dalam surga, dia adalah Syam'un.”

Nabi Syam’un al-Ghozi as. adalah seorang pahlawan berambut panjang yang memiliki kemukjizatan dapat melunakkan besi, dan dapat merobohkan istana.
Dengan hanya bersenjatakan tulang rahang seekor unta yang di bentuk menyerupai sebuah pedang pendek yang tajam, Nabi berperang melawan bangsa yang menentang Allah SWT, dengan penuh keberanian dan selalu dapat mengalahkan mereka. Pada riwayat lainnya dikatakan bahwa senjata beliau adalah janggut seekor unta yang dengan sekali sabetan saja, tewaslah para musuhnya.

Menghadapi kesaktian Nabi Syam’un al-Ghozi as, membuat para kafirun kewalahan. Mereka mencari jalan untuk bisa menundukkannya.
Akhirnya ide licik-pun ditemukan. Mereka menawarkan hadiah berupa uang dan perhiasan yang berlimpah kepada istri Nabi, dengan syarat ia bersedia melumpuhkan suaminya. Istri Nabi yang ternyata seorang kafir, sangat tergiur oleh hadiah itu.

Maka pada suatu malam ketika Nabi Syam’un al-Ghozi as. tertidur lelap, dengan pelan-pelan istrinya mengikat tangan dan kaki suaminya. Tiba-tiba Nabi terbangun dan dengan mudahnya memutuskan tali pengikat tersebut.
Di malam lainnya, kembali istri durhaka tersebut mengikat tangan dan kaki Nabi Syam’un al-Ghozi as yang tidur, dengan rantai besi. Lagi-lagi setelah Nabi terbangun, dengan mudahnya diputuskannya rantai besi itu. Karena sayang dan cintanya kepada isterinya, akhirnya Nabi berkata, "Istriku, tak seorang pun dapat mengalahkan aku karena rahasia kekuatanku ada pada rambutku. Jika engkau ingin mendapatkanku dalam keadaan tak berdaya maka ikatlah aku dengan potongan rambutku“.

Setelah mengetahui rahasia kekuatan suaminya, istri laknat ini kemudian mencari kesempatan untuk menggunting rambut suaminya. Akhirnya, di suatu malam ketika Nabi Syam’un al-Ghozi as. sedang tertidur lelap, istrinya mengguting beberapa rambut Nabi, sejumlah 8 helai rambut yang panjangnya sampai ke tanah. Lalu istri keji ini mengikat kedua tangan Nabi dengan 4 helai rambut, dan 4 lainnya diikatkan pada kedua kakinya.
Ketika Nabi terbangun, beliau tidak bisa berbuat apa-apa karena telah diikat oleh kekuatannya sendiri. Istrinya kemudian memberitahu para kafirun, lalu mereka datang dan membawa Nabi. Istri yang bejat ini mendapatkan hadiah yang banyak sebagaimana yang sudah dijanjikan.

Nabi Syam’un al-Ghozi as. lalu dibawa kehadapan raja para kafirun. Mulailah mereka memotong kedua telinga, bibir, kedua tangan dan kakinya. Tidak hanya itu, Nabi juga disiksa dengan dibutakan kedua matanya, lalu diikat pada sebuah tiang istana dan dipertontonkan kepada khalayak istana. Mereka menyiksa Nabi dengan tujuan agar beliau mati secara perlahan-lahan. Istrinya yang jahat, ikut pula menyaksikan penyiksaan tersebut tanpa rasa belaskasihan.

Begitu hebatnya siksaan tersebut, membuat Allah SWT berbicara pada Nabi Syam’un al-Ghozi as., “Hai Syam’un apa yang engkau inginkan, Aku akan menindak mereka.”
Nabi menjawab, “Ya Allah, berikanlah kekuatan kepadaku hingga aku mampu menggerakkan tiang istana ini, dan akan kuhancurkan mereka.”

Maka dengan seizin Allah, Nabi Syam’un al-Ghozi as. menggoyangkan tiang istana tersebut, dan tiang itupun rubuh menimpa raja bersama seluruh khalayak istana termasuk istrinya yang durhaka dan orang-orang yang telah menyiksanya. Mereka semua mati tertimpa reruntuhan bangunan istana dan terkubur didalamnya. Do’a Nabi Syam’un al-Ghozi as diqobulkan Allah SWT. Hanya beliau sendiri yang selamat, lalu Allah mengembalikan seluruh anggota badan yang telah terpotong dan menyembuhkan segala sakitnya.

Setelah peristiwa itu, Nabi Syam’un al-Ghozi as. bersumpah kepada Allah SWT akan menebus semua dosanya dengan berjuang menumpas semua kebatilan dan kekufuran selama 1000 bulan tanpa henti. Nabi menyibukkan diri dalam beribadah kepada Allah. Malam hari dilalui dengan memperbanyak shalat malam, sedangkan siangnya beliau berpuasa. Nabi menjalankan ibadahnya selama seribu bulan hingga ajalnya tiba, yaitu 83 tahun 4 bulan.

Setelah mendengar kisah Nabi Syam’un al-Ghozi as, para sahabat Nabi Muhammad saw menangis terharu, kata mereka, “Ya Rasullulah, tahukah baginda akan pahalanya?”
Jawab Rasulullah, “Aku tidak tahu.”

Setelah Rasulullah selesai berkisah, Allah menurunkan Malaikat Jibril as. dengan membawa surat Al-Qadr kepada Nabi Muhammad saw.
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur`an) pada malam kemuliaan.
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril as. dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”
(Al-Qadr [97]: 1-5)

Wallahu a'lam bish shawab.(ist)


--------------------





Burung Terbang di Kelam Malam


Jika kehidupan adalah sebuah perjalanan, Fais adalah seorang petualang yang berjalan sendirian di antara riuhnya dunia. Di tengah masyarakat yang mengelu-elukan sosok Tuan Beransyah, Fais memilih jalannya sendiri. Ia ingin membuktikan bahwa kandidat wali kota yang dikenal alim, dermawan, dan pandai agama itu tidak lain adalah sosok yang amat munafik.


Maka, dimulailah sebuah perjalanan dengan kejutan di setiap tikungannya. Perjalanan itu tidak saja membuat Fais menemukan kebenaran di balik politik pencitraan yang memuakkan, tetapi juga kebenaran perasaannya. Fais akhirnya sadar, pertemuan dengan perempuan-perempuan yang sempat menggetarkan hatinya justru adalah jalan yang membawanya pulang pada cinta sejatinya.


Burung Terbang di Kelam Malam mengungkap kehidupan sosial yang begitu dekat; tentang sisi gelap politik dan cinta. Hubungan cinta terlarang, perasaan tidak berdaya, takut kehilangan, dan kesedihan  yang begitu kental, tanpa kehilangan rasa humor. Sebuah kisah yang berliku, tetapi diceritakan dengan sangat lugas dan mengalir.


Diterbitkan oleh: Penerbit Bentang

(PT Bentang Pustaka)

Anggota Ikapi


Jl. Plemburan No. 1, Pogung Lor,

RT. 11, RW. 48 SIA XV, Sleman, Yogyakarta – 55284

Telp./Faks: (0274) 889248/(0274) 883753

Surel: bentang.pustaka@mizan.com

http://bentang.mizan.com

http://bentangpustaka.com


Didistribusikan oleh:

Mizan Media Utama

Jln. Cinambo (Cisaranten Wetan) No. 146,

Ujungberung, Bandung 40294

Telp.: (022) 7815500 – Faks: (022) 7834244

Surel: mizanmu@bdg.centrin.net.id


Perwakilan:

Pekanbaru Telp.: 0761-20716/Faks: 0761-29811 Medan Telp./Faks:

061-8229583 Jakarta Telp.: 021-7874455/Faks: 021-7864272 Yogyakarta Telp.:0274-889249/Faks: 0274-889250 Surabaya Telp.: 031-8281857/Faks: 031-8289318

Makassar Telp./Faks 0411-440158 Banjarmasin Telp./Faks: 0511-3252178. Banda Aceh: Pustaka Paramitha dan Alif Taufiqiyah. Lhokseumawe: TB Arun Pos. Bisa juga di Toko: Mizan Online Bookstore: www.mizan.com.

Senin, 07 Juli 2014

2013 Nobel Prize in Literature Laureate Alice Munro on the Secret of a Great Story

by

“A story … has a sturdy sense of itself of being built out of its own necessity, not just to shelter or beguile you.”
The question of what makes a great story has occupied the minds of some of our most celebrated storytellers. Kurt Vonnegut had his eight tips and Barnaby Conrad his six, Ken Burns devised a formula, and John Steinbeck defied the very notion of such formulas. A good story, nonetheless, is hardly a relative notion: To use one of pop culture’s most tired yet most expressive similes, it’s like pornography — you know it when you read it. But what, then, makes a story great?
In the introduction to her 1996 anthology Selected Stories (public library), 2013 Nobel Prize in Literature laureate Alice Munro (b. 1931) adds to the collected wisdom of great writers and builds a beautiful metaphor for “the hermeneutical path taken up in the reading process”:
A story is not like a road to follow … it’s more like a house. You go inside and stay there for a while, wandering back and forth and settling where you like and discovering how the room and corridors relate to each other, how the world outside is altered by being viewed from these windows. And you, the visitor, the reader, are altered as well by being in this enclosed space, whether it is ample and easy or full of crooked turns, or sparsely or opulently furnished. You can go back again and again, and the house, the story, always contains more than you saw the last time. It also has a sturdy sense of itself of being built out of its own necessity, not just to shelter or beguile you.

In a 1994 Paris Review interview, she offers a curious counterpoint to the notion that the reading experience of a story is ever-evolving, by observing that so is its writing experience. Both challenging and affirming the notion of a story’s “sturdy sense of itself,” Munro notes that whenever she begins writing a story, she doesn’t fully know what it will be or where it will go — which is exactly as it should be:
"Any story that’s going to be any good is usually going to change."
And that, perhaps, is the gift of great literature: The invitation to continually discover and rediscover ourselves, both as readers and as writers, in the perpetually evolving experience of a good story.
Complement with Kurt Vonnegut on the shapes of stories, and see these shapes spring to life in Munro’s Selected Stories and Hateship, Friendship, Courtship, Loveship, Marriage: Stories.
For more notable wisdom on the written word, see Elmore Leonard’s 10 rules of writing, Walter Benjamin’s thirteen doctrines, H. P. Lovecraft’s advice to aspiring writers, F. Scott Fitzgerald’s letter to his daughter, Zadie Smith’s 10 rules of writing, David Ogilvy’s 10 no-bullshit tips, Henry Miller’s 11 commandments, Jack Kerouac’s 30 beliefs and techniques, John Steinbeck’s 6 pointers, and Susan Sontag’s synthesized learnings.(brainpickings.org)



Burung Terbang di Kelam Malam



Jika kehidupan adalah sebuah perjalanan, Fais adalah seorang petualang yang berjalan sendirian di antara riuhnya dunia. Di tengah masyarakat yang mengelu-elukan sosok Tuan Beransyah, Fais memilih jalannya sendiri. Ia ingin membuktikan bahwa kandidat wali kota yang dikenal alim, dermawan, dan pandai agama itu tidak lain adalah sosok yang amat munafik.


Maka, dimulailah sebuah perjalanan dengan kejutan di setiap tikungannya. Perjalanan itu tidak saja membuat Fais menemukan kebenaran di balik politik pencitraan yang memuakkan, tetapi juga kebenaran perasaannya. Fais akhirnya sadar, pertemuan dengan perempuan-perempuan yang sempat menggetarkan hatinya justru adalah jalan yang membawanya pulang pada cinta sejatinya.


Burung Terbang di Kelam Malam mengungkap kehidupan sosial yang begitu dekat; tentang sisi gelap politik dan cinta. Hubungan cinta terlarang, perasaan tidak berdaya, takut kehilangan, dan kesedihan  yang begitu kental, tanpa kehilangan rasa humor. Sebuah kisah yang berliku, tetapi diceritakan dengan sangat lugas dan mengalir.


Diterbitkan oleh: Penerbit Bentang

(PT Bentang Pustaka)

Anggota Ikapi


Jl. Plemburan No. 1, Pogung Lor,

RT. 11, RW. 48 SIA XV, Sleman, Yogyakarta – 55284

Telp./Faks: (0274) 889248/(0274) 883753

Surel: bentang.pustaka@mizan.com

http://bentang.mizan.com

http://bentangpustaka.com


Didistribusikan oleh:

Mizan Media Utama

Jln. Cinambo (Cisaranten Wetan) No. 146,

Ujungberung, Bandung 40294

Telp.: (022) 7815500 – Faks: (022) 7834244

Surel: mizanmu@bdg.centrin.net.id


Perwakilan:

Pekanbaru Telp.: 0761-20716/Faks: 0761-29811 Medan Telp./Faks:

061-8229583 Jakarta Telp.: 021-7874455/Faks: 021-7864272 Yogyakarta Telp.:

0274-889249/Faks: 0274-889250 Surabaya Telp.: 031-8281857/Faks: 031-8289318

Makassar Telp./Faks 0411-440158 Banjarmasin Telp./Faks: 0511-3252178. Banda Aceh: Pustaka Paramitha dan Alif Taufiqiyah. Lhokseumawe: TB Arun Pos. Bisa juga di Toko: Mizan Online Bookstore: www.mizan.com.

Rabu, 02 Juli 2014

Karya Terjemahan Para Pemenang Nobel Sastra


2006 - Orhan Pamuk
-          Istambul, Serambi 2009
-          Snow, Serambi 2008
-          New Life, Serambi 2008
-          White Castle, Serambi 2007
-          My Name is Red, Serambi


2004 - Elfriede Jelinek
-          Sang Guru Piano, KPG 2006


2003 - J. M. Coetzee
- Aib, Jalasutra 2005
- Kisah Hidup Michael K, Jalasutra 2003
- Jeritan Hati Nurani, Yayasan Obor Indonesia 1999


2002 - Imre Kertesz
-          Fateless, Bentang 2005

2001 - V. S. Naipaul
- Sebuah (Sepetak) Rumah Untuk Tuan Biswas, Jalasutra 2003
- Mencari Titik Pusat, Sadasiva 2003


2000 - Gao Xingjian
-          Gunung Jiwa, Jalasutra 2003


1994- Kenzaburo Oe
-          Jeritan Lirih, Jalasutra 2004


1993- Toni Morrison
-          Cinta, Serambi 2005


1990- Oktavio Paz
-          Puisi dan Esai Pilihan, Bentang 2002


1989 - Camilo Jose Cela
-          Keluarga Pascual Duarte, Gramedia Pustaka Utama, 1996


1988 - Naguib Mahfouz
-          Pengemis, Grafiti 1996
-          Lorong Midaq, Yayasan Obor Indonesia, 1996
-          Awal dan Akhir I dan II, Yayasan Obor Indonesia, 2001
-          Aku Musa, Engkau Firaun, Tarawang, 2000
-          Kabar Dari Penjara, Tarawang 2000
-          Hari Terbunuhnya Presiden, Fajar Pustaka Baru 2000
-          Di bawah Bayang-bayang Perang, Fajar Pustaka Baru 2000
-          Zahiya, Tarawang 2000
-          Hotel Miramar, Fajar Pustaka Baru 2001
-          Demit, Pustaka Alief 2003
-          Harafisy, Bentang 2004
-          Cinta di Kota Terlarang, Bentang
-          Kisah Seribu Satu Siang dan Malam, Bentang 2002
-          Lelaki dalam Pasungan, Jendela 2003
-          Karnak Cafe, Alvabet 2008


1982 - Gabriel García Márquez
-          Selamat Jalan Tuan Presiden, Bentang 1999
-          Seratus Tahun Kesunyian, Bentang,2003
-          Sang Jenderal dan Labirinnya, Jalasutra 2004
-          Klandestin di Chile, akubaca 2002
-          Tumbangnya San Diktator, Yayasan Obor Indonesia 1992
-          Wanita Yang datang Pukul 6 (cerpen dalam kumpulan cerpen Dongeng dari Sayap Kiri), Aksara Indonesia 2000.
-          Caldas


1971 - Pablo Neruda
-          Nyanyian Revolusi, Jalasutra Jakarta 2001
-          Para Pemalas dan Putri Duyung, Forum Sastra Bandung 1996.


1970- Alexandr Solzhenitsyn
-          Sehari Dalam Hidup Ivan Denisovich, Pustaka Jaya 1976
-          Gulag, Bentang 2005


1969 - Samuel Beckett
-          Menunggu Godot, Bentang 1999


1968- Yasunari Kawabata
-          Keindahan dan Kesedihan, Jalasutra 2003
-          Seribu Burung Bangau, Bentang Budaya 2001.
-          Rumah Perawan, 1977
-          Snow Cantry


1964- Jean-Paul Sartre
-          The Age of Reason, Jendela 2002
-          Kata-kata, Gramedia 2001
-          Dinding (cerpen dalam kumpulan cerpen Dongeng dari Sayap Kiri), Aksara Indonesia 2000
-          Pintu Tertutup,1979
-          Pelacur, 1954


1962- John Steinbeck
-          Sebuah Impian Lennie, Ufuk Press 2006
-          Tikus dan Manusia, Lentera 2005
-          Amarah 1 dan 2, Yayasan Obor Indonesia 2000
-          Bunga-bunga Krisan (cerpen dalam kumpulan cerpen Dongeng dari Sayap Kiri), Aksara Indonesia 2000
-          Cannery Row, Sumbu Dataran Tortilla, Pustaka Jaya 1977
-          Kena Gempur, 1951


1958- Boris Pasternak
-          Dr Zhivago, Djambatan 1960
-          Manusia Sejati, 1959


1957- Albert Camus
-          Orang Aneh, Nusa Indah-Matahari 1980
-          Orang Asing, Penerbit Djambatan 1984
-          Sampar, Yayasan Obor Indonesia 1985
-          Mite Sisifus: Pergulatan dengan Absurditas, Gramedia 1999
-          Pemberontak [The Rebel, Bentang Budaya 2000.
-          La Chute, Tinta 2004


1954 - Ernest Hemingway
-          To Have and Have Not, Selasa Publishing 2009
-          Lelaki Tua dan Laut, Selasar Publishing 2008
-          Angkatan Kelima, Pedati 2003
-          Salju Kilimanjaro, Yayasan Obor Indonesia2002
-          Pertempuran Penghabisan, Yayasan Obor Indonesia 1997


1950- Bertrand Russel
-          Sejarah Filsafat Barat, Pustaka Pelajar 2006
-          Pergelokan Pemikian, Yayasan Obor Indonesia 1991


1947- Andre Gilde
-          Pendidikan Istri (Yayasan Obor Indonesia 2008)


1946- Hermann Hesse
-          Sidharta, Bentang 2002
-          Perjalan ke Timur, Tirai 2004
-
Demian, Mata Angin


1938- Pearl Buck
-          Angin Timur Angin Barat 2009
-          Bumi Yang Subur, Gramedia 2008
-          Wang Si Macan, Gramedia 2008
-          Runtuhnya Dinasti Wang 2008
-          Maharani, Gramedia 2007
-          Mandala, Gramedia 2007
-          Peony, Gramedia 2006
-          Madame Wu, Gramedia


1934 - Luigi Pirandello
-          Cerita-cerita dari Sisilia, Jalasutra 2004
-          Pidato Nobel dan 3 Cerita Pilihan, Yayasan Akubaca 2001


1825 - George Bernard Show
-          Manusia AdiManusia, Bentang


1920 - Knut Hamsun
-          Lapar, Yayasan Obor Indonesia 1993


1913 - Rabindranath Tagore
-          Gitanjali, Pustaka Jaya
-          Sanyasi, 1979
-          Anak,1979
-          Tukang Kebun, Pustaka Jaya, 1996
-          Bhimala, Jejak 2008
-          Bulan Sabit, Bentang 2003
-          Siul Gelombang, Bentang 2003
-          Batu-batu Lapar, Bentang 2003
-          Masa Kecilku, Bentang 2003
-          Surat Dari Raja dan Anyelir Merah, Bentang 2003





Burung Terbang di Kelam Malam




Jika kehidupan adalah sebuah perjalanan, Fais adalah seorang petualang yang berjalan sendirian di antara riuhnya dunia. Di tengah masyarakat yang mengelu-elukan sosok Tuan Beransyah, Fais memilih jalannya sendiri. Ia ingin membuktikan bahwa kandidat wali kota yang dikenal alim, dermawan, dan pandai agama itu tidak lain adalah sosok yang amat munafik.



Maka, dimulailah sebuah perjalanan dengan kejutan di setiap tikungannya. Perjalanan itu tidak saja membuat Fais menemukan kebenaran di balik politik pencitraan yang memuakkan, tetapi juga kebenaran perasaannya. Fais akhirnya sadar, pertemuan dengan perempuan-perempuan yang sempat menggetarkan hatinya justru adalah jalan yang membawanya pulang pada cinta sejatinya.



Burung Terbang di Kelam Malam mengungkap kehidupan sosial yang begitu dekat; tentang sisi gelap politik dan cinta. Hubungan cinta terlarang, perasaan tidak berdaya, takut kehilangan, dan kesedihan  yang begitu kental, tanpa kehilangan rasa humor. Sebuah kisah yang berliku, tetapi diceritakan dengan sangat lugas dan mengalir.



Diterbitkan oleh: Penerbit Bentang

(PT Bentang Pustaka)

Anggota Ikapi



Jl. Plemburan No. 1, Pogung Lor,

RT. 11, RW. 48 SIA XV, Sleman, Yogyakarta – 55284

Telp./Faks: (0274) 889248/(0274) 883753

Surel: bentang.pustaka@mizan.com

http://bentang.mizan.com

http://bentangpustaka.com



Didistribusikan oleh:

Mizan Media Utama

Jln. Cinambo (Cisaranten Wetan) No. 146,

Ujungberung, Bandung 40294

Telp.: (022) 7815500 – Faks: (022) 7834244

Surel: mizanmu@bdg.centrin.net.id



Perwakilan:

Pekanbaru Telp.: 0761-20716/Faks: 0761-29811 Medan Telp./Faks:

061-8229583 Jakarta Telp.: 021-7874455/Faks: 021-7864272 Yogyakarta Telp.:

0274-889249/Faks: 0274-889250 Surabaya Telp.: 031-8281857/Faks: 031-8289318

Makassar Telp./Faks 0411-440158 Banjarmasin Telp./Faks: 0511-3252178. Banda Aceh: Pustaka Paramitha dan Alif Taufiqiyah. Lhokseumawe: TB Arun Pos. Bisa juga di Toko: Mizan Online Bookstore: www.mizan.com.