Kisah Penuh Liku dan Menegangkan!

Novel ini memikat hati pembaca dengan cerita yang begitu realistis, sehingga sangat gampang membayangkan sosok dan kepribadaian sejumlah tokoh yang muncul dalam kisahnya. —John H. McGlynn, penerjemah dan editor berkebangsaan Amerika.

Kisah Ini Mengandung Satire, Jenaka, dan Tajam!

Kisah ini mengandung satire ringan, jenaka, dan juga tajam—sesuatu yang memang telah menjadi salah satu kekuatan dari gaya bercerita dia. —Joko Pinurbo, penyair.

Dapatkan Novel Burung Terbang di Kelam Malam karya Arafat Nur!

Sebuah novel menarik berbalut intrik politik dan kisah cinta yang unik. —Anton Kurnia, penulis cerita dan editor buku sastra.

Novel Paling Romantis Tentang Sisi Gelap Politik dan Cinta

Beragam konflik yang dialami tokoh-tokohnya saling menjalin dan menjadi cerminan sebuah realitas yang lebih besar: betapa manusia akan selalu berhadapan dengan sisi gelap kemanusiaan mereka sendiri. —Ika Yuliana Kurniasih, editor Penerbit Bentang.

Berani, Genit, dan Terus Menggoda Hingga Akhir Cerita!

Novel ini seperti menelanjangi sisi-sisi gelap manusia yang tersembunyi, dan bahkan akan mengguncang jiwa. Yang pasti sangat bertolak-belakang dengan bayangan Aceh yang sebelumnya ada dalam pikiran kita semua. —Sandi Firly, penulis novel Lampau.

Sabtu, 12 April 2014

Mendedah Tahta dan Wanita Tuan Beransyah

Judul buku      : Burung Terbang di Kelam Malam
Penulis             : Arafat Nur
Penerbit           : PT Bentang Pustaka
Cetakan           : Pertama, Februari 2014
Tebal buku      : xvi + 376 halaman

Oleh: Raras Indah F

DARI judul novel ini kita tidak akan menyangka akan digiring Arafat Nur menuju perjalanan seorang wartawan harian di Aceh bernama Fais yang penuh gejolak, gairah, serta sindiran sosial dan politik. ‘Tak ubah serupa burung yang terbang sendirian di kelam malam. Ke mana pun aku memandang, yang tampak adalah dunia gelap gulita, tidak ada sedikit pun titik terang.

Meskipun Fais adalah seorang wartawan yang bisa diperhitungkan di kalangan para penguasa Aceh, ia terkenal bersih dari ‘uang saku’ pejabat. Ia menceritakan sisi kelam kehidupan para pekerja berita yang dipandang parasit terhadap para pejabat. Hatinya bertentangan dengan pekerjaan yang digelutinya. Hal ini lantaran ia melihat adanya berbagai ‘sandiwara buruk’ antara pejabat dengan wartawan. Pun dengan pemegang kantor berita tempatnya bekerja.

Di saat para wartawan mengejar Tuan Beransyah untuk sesuap nasi, ia malah ingin menguak kebusukan lelaki tambun itu. Beransyah adalah seorang pedagang emping melinjo yang mencalonkan diri sebagai calon walikota. Isu yang beredar, ia mengoleksi banyak gundik di Aceh, dan ternyata hal itu benar. Fais tidak terima jika kotanya harus dipimpin manusia macam Beransyah. Oleh karena itu, ia tidak segan-segan mendatangi para wanita yang telah dibuang oleh Beransyah itu. Pertemuannya dengan Aida, Haliza, Nana, Rahmah, Saudah, dan beberapa gundik Beransyah lainnya telah memunculkan babak permasalahan tersendiri.

Dari perkenalan dan pertemuan-pertemuan terlarangnya dengan para wanita tersebut, Fais mendapati mirisnya kehidupan beberapa perempuan di Aceh. Kebanyakan perempuan tersebut berasal dari kalangan orang tidak mampu. Karena keterbatasan penghasilan, dengan mudah mereka menerima pinangan Beransyah yang kemudian tanpa daya mau ditinggalkan begitu saja oleh lelaki yang diduga memiliki hubungan dengan sejumlah mafia ganja ini.

Jalan yang dilalui Fais tidaklah terang. Di sela-sela investigasinya terhadap kehidupan Beransyah, ia mengalami jatuh bangun dengan para wanita tersebut. Pun nasib pekerjaannya yang sering terkatung-katung. Klimaksnya terjadi saat artikelnya tentang kebusukan Beransyah dimuat di kantor beritanya. Alhasil, ia menjadi mangsa buruan Beransyah yang dicari-cari. Jika tanpa suatu keajaiban tertentu, ia mengira dirinya dengan mudah telah menjadi mayat yang terbuang di pematang sawah.

Fais adalah tokoh yang bisa menggelitik hati para perempuan tersebut. Bagaimana tidak? Ia lelaki polos nan pendiam yang berkelana begitu saja tanpa arah, bahkan ihwal perempuan. Ia menikmati dosa dan taubat secara kontinu. Namun, dari situlah akhirnya ia mendapatkan makna hidup yang sebenarnya, termasuk cinta sejatinya.

Arafat menuliskan kisah Fais dengan bahasa yang mudah dicerna tapi mampu menggelitik hati pembaca. Sindiran jenakanya sarat dengan kritikan sosial dan politik. Pemenang Sayembara Menulis Novel DKJ 2010 serta peraih Khatulistiwa Literary Award 2011 ini menyoroti kehidupan orang-orang di Aceh pasca perang dan tsunami besar di sana, terutama para perempuan yang sebelumnya tidak kita duga itu akan terjadi di bumi ‘Serambi Makkah’. Kelakuan buruk para politikusnya juga bisa merefleksikan kotornya kehidupan para politikus di negeri ini.

Meskipun pemikiran Fais kuat dan tajam, namun ia belum memiliki kekuatan yang lebih ketika berinteraksi dengan Beransyah dan para gundiknya itu. Sebagaimana novel yang ditulis Fais, kiranya Arafat dengan sendirinya telah memaparkan hasil tulisan artikel Fais yang memuat mengenai gelagat buruk Beransyah. Karenanya pula, pembaca dapat menebak sendiri bagaimana bentuk artikel yang ditulis Fais itu tanpa perlu dihadirkan lagi secara khusus.

Novel ini mampu menyampaikan banyak pesan. Kita adalah manusia yang pasti memiliki pertentangan nurani dengan keadaan. Hal ini yang membuat manusia tidak bisa mengelak untuk bersalah dan kembali bertaubat. Namun, dari situlah ia akan lebih matang dalam memijajaki hidup ini. Begitulah sekiranya pesan yang ingin disampaikan oleh Arafat.

Cerita apa saja yang dilontarkan Fais soal buruknya kelakuan politikus di Aceh? Makna hidup apa yang ditemukan Fais setelahnya? Temukan jawabannya di buku ini. Selamat membaca!(dikutip dan disesuaikan dari lpmhimmahuii.org)

Jumat, 04 April 2014

Bincang-Bincang Arafat Nur di Twitter



Assalamualaikum majelis #TwiTalkPenulis sekalian. Moga sehat dan kuat.

Baiklah, saya akan membeberkan sedikit kenapa dan apa pula sebabnya saya menulis novel Burung Terbang di Kelam Malam (BTKM).

Setelah novel Lampuki, saya selalu saja diliputi dilema ketika memastikan bentuk novel yang selanjutnya. Sampai kemudian saya menemukan bentuk serupa novel BTKM yang sudah ada di pasaran sekarang ini.

Adapun keputusan ini saya ambil setelah banyak keluhan dari pembaca remaja yang sulit mencerna Lampuki. Lampuki dianggap memiliki teks sastra yang terlalu berat bagi pembaca umum.

Saya kira masalah ini tidak boleh diabaikan. Saya juga ingin pembaca remaja dapat menikmati sastra yang saya tulis. Mereka adalah generasi dengan jumlah yang besar, yang saya anggap punya potensi dan kecerdasan seperti generasi pembaca novel serius sekarang. Untuk sementara ini mereka perlu diperhatikan dan dimanja dengan sastra yang lebih lugas dan ringan.

Namun, saya juga tidak ingin mengorbankan kualitas sastranya.  Saya menuliskan Burung Terbang di Kelam Malam dengan maksud bahwa sebuah novel sastra juga ternyata bisa ringan.

Tentu kerja ini melelahkan. Tidak semudah yang saya bayangkan. Setidaknya, bila pun novel ini punya sisi kekurangan, tapi harus banyak sisi kelebihannya sehingga bisa menutupi kekurangannya.

Terlalu banyak pertimbangan yang saling berbenturan. Saya tetap tidak bisa mengikuti selera dan kemauan saya sendiri sebab novel membutuhkan banyak pembaca. Inilah yang terus saya upayakan; membuat novel dengan selera banyak orang, tapi dengan usaha tetap menjaga kualitas isinya.

Novel ini sebagai suatu upaya untuk mengajak remaja menikmati bacaan sastra yang lebih serius, tentu tanpa mengesampingkan pembaca yang telah ada. Saya tidak ingin pembaca terdahulu mengalami kecewa. Maka, sekuatnya saya mempertahankan apa yang telah menjadi jati diri saya.

Sebelum BTKM ini dilepaskan ke pasaran, saya telah melakukan pengujian novel ini terhadap mereka yang tidak suka baca sastra.  Mereka bisa tertawa dan menikmatinya sampai tuntas. Sampai kemudian terkenang-kenang, dan dengan semangat ingin menyampaikan pendapatnya.

Sejauh ini, terhadap mereka yang telah membaca BTKM memang belum ada yang menyatakan kekecewaan. Dan saya berharap tidak ada yang kecewa dengan “format agak beda” dari format novel sebelumnya.

BTKM mengajak untuk memilihat secara dekat dan dengan pandangan jernih segala realitas kehidupan sesungguhnya, tanpa menambah atau mengurangi.( #TwiTalkPenulis)

Senin, 31 Maret 2014

Kisah Cinta dalam Sejarah Suram dan Intrik Politik

Burung Terbang di Kelam Malam

Oleh: Linda Satibi

 

Judul                         :  Burung Terbang di Kelam Malam
Penulis                        :  Arafat Nur
Penerbit                      :  PT Bentang Pustaka
Tebal Buku                :  xiv + 376 halaman
Cetakan                      : Pertama, Februari 2014
ISBN                           :  978-602-7888-93-7

Kiriman buku tiba dari Bentang. Sebuah novel fiksi berjudul Burung Terbang di Kelam Malam karya Arafat Nur. Mata saya berbinar dengan reward kali ini. Karena saya kira nama Arafat Nur sudah merupakan jaminan karya yang bagus. Padahal saya belum pernah baca novelnya. Hanya yang saya tahu dia itu pemenang DKJ dan menyabet KLA juga.

Saya buka halaman awal, oh.. lembar endors. Halaman berikut, oh masih lembar endors. Halaman berikutnya, masih lembar endors juga! Total ada 26 orang yang memberikan testimoni untuk novel ini. Mereka orang-orang ternama di dunia sastra. Hadeuh.. agak berkurang antusias saya jadinya. Maaf saja, saya tidak begitu suka dengan novel yang ramai endors.

Tapi, sudahlah. Saya pun mulai membuka halaman berikut yang berisi daftar isi. Saya baca, judulnya panjang-panjang. Ini mengingatkan pada kawan baik saya seorang penulis bernama Arul Chandrana yang imajinasinya meledak-ledak. Dia juga gemar menulis judul dengan kalimat panjang dan aneh. Eh, tapi kok Arafat Nur ini pilihan bahasanya begitu, ya? pikir saya. Engh.. saya agak risih membacanya. Ah, sudahlah (lagi).. mungkin ini hanya sensasi judul. Saya pun lanjut membaca isi novel ini.

Lembar demi lembar saya nikmati. Hmm.. ini bukan jenis novel yang biasa dengan gaya populer atau romantis yang manis. Kalimat-kalimat dalam novel ini terasa kaku, tapi bukan kaku yang tidak menyenangkan. Terkadang saya merasa seperti sedang membaca karya sastra lama, jaman pujangga baru. Alih-alih merasa bosan dengan gaya bahasa begitu, saya malah terus terseret untuk melanjutkan membaca kisah ini.

Jadi kisahnya tentang apa? Tokoh utamanya seorang pemuda tampan rupawan bernama Fais. Dia wartawan dan sedang mencoba untuk menulis novel. Karena wajahnya itu, gadis-gadis cantik jelita demikian mudahnya bertekuk lutut. Namun, Fais ini bukan tipe play boy juga, malah dia cuek dan tidak pernah tebar pesona.

Novel yang akan ditulisnya adalah tentang Tuan Beransyah, seorang tokoh pengusaha sukses yang licik, dan sedang mencoba peruntungan di dunia politik. Ia mencalonkan diri menjadi walikota. Pencitraan dirinya boleh dibilang gemilang. Dia seakan seorang yang alim dan dermawan. Fais benci bukan kepalang kepada Tuan Beransyah. Ia bertekad untuk mengurai kebusukannya melalui novel yang akan ditulisnya itu. Kesukaan Tuan Beransyah menambah istri, akan dibongkarnya. Sebab Tuan Beransyah selalu pandai berkelit dari dugaan bahwa dirinya tukang kawin.

Fais pun memulai petualangannya dengan menelusuri alamat-alamat tempat tinggal bini-bini simpanan Tuan Beransyah. Dalam perjalanan itulah, aneka rupa masalah dijumpainya. Bini-bini Tuan Beransyah itu beragam. Ada yang muda belia, ada yang usia pertengahan, ada yang menuju paruh baya, ada pula yang memang sudah tua. Untuk yang muda dan jenjang 30-an, mereka semua cantik-cantik. Dan dengan daya pikat yang dimilikinya, Fais dengan mudah mendapatkan bahan catatan untuk keperluan novelnya.

Interaksinya dengan beraneka perempuan itu, membuat Fais gamang pada perasaannya sendiri. Sesungguhnya ia sudah punya teman dekat yang serupa kekasih, bernama Safira. Tapi ia bingung dengan kondisi dirinya yang masih merasa belum bisa untuk terikat dalam satu hubungan. Dan kelanjutan kisahnya, bisa kalian baca sendiri nanti, bila sudah membeli novel ini.

Lalu, apakah novel ini menarik? Bagi saya, iya. Tokoh utamanya, meski saya sedikit sebal dengan tampangnya yang menawan, tapi ia benar-benar merefleksikan “burung terbang di kelam malam”. Ia melayang tak paham arah, sekelilingnya gelap sekelam malam. Meski sesungguhnya ia punya sayap yang kuat. Hanya saja ia tak berinduk tak bersemang. Seringkali langkahnya oleng. Namun, di kali lain ia khusyuk menegakkan sholat.

Karakter Fais cukup ajeg sepanjang cerita. Ia seorang peragu, acuh tak acuh pada lingkungan, dan hasratnya mudah tergoda. Deskripsi karakter tersampaikan lewat gerak-gerik,  keputusan yang diambil, dialog, serta penuturannya sendiri. Untuk bagian terakhir itu, saya kadang merasa bosan karena beberapa kali Fais mengulangnya.

Tuan Beransyah sendiri muncul hanya sedikit sekali. Padahal boleh dibilang ia tokoh yang menghidupi kisah ini. Karakternya bisa ditangkap pembaca melalui dialog tokoh-tokoh lain, konflik yang dialami tokoh pendukung, dan melalui deskripsi suasana yang terjadi. Penulis kisah ini mahir menggambarkan pribadi Tuan Beransyah tanpa harus memunculkannya sering-sering.

Karakter tokoh-tokoh lain tidak terlalu rumit. Mereka seputar istri-istri simpanan Tuan Beransyah dan orang-orang di sekitar Fais yang tidak banyak, mengingat interaksi sosial Fais yang minim.

Sekarang tentang bahasa yang mengalun di sekujur kisah. Ini bukan bahasa Melayu ala Andrea Hirata yang mendayu, merdu merayu. Ternyata begini rupa orang Aceh bila menyulam kata. Sedehana, tegas, dan lugas. Kesederhanaannya itu terkadang menerbitkan senyum. Di lain waktu ia menggiriskan hati.

Namun, entah merupakan balas dendam atas Jawa yang bahasanya kerap digunakan bak bahasa nasional, yang dipahami seluruh warga negara, dalam novel ini Arafat Nur menyisipkan beberapa bahasa Aceh yang seolah bahasa tersebut sudah selayaknya kami pahami. Pada kenyataannya kami yang bukan orang Aceh harus menerka-nerka maksud kata-kata itu, semisal: pesong dan kereta.

Membaca novel ini, jangan berharap ada diksi yang memukau dengan sulaman kata-kata indah. Jangan pula mencari quote-quote yang cetar menggelegar. Tidak akan ketemu. Kalimat-kalimat dalam novel ini sungguh sederhana, apa adanya. Penulisnya tidak berusaha menarik-narik perhatian pembaca dengan meliuk-liukkan kata. Tapi, dalam kepolosannya itu, justru kesan yang tercipta sungguh mendalam.  

Lalu, tentang setting tempat. Aceh. Pembaca diajak menyelami Aceh pasca perang. Deskripsi mengurai detil. Membuat hati pilu mengingat saudara sebangsa yang mengalami penderitaan begitu rupa akibat konflik berkepanjangan.

Di luar sana, masih tampak jelas gambaran suram masa lalu yang terus membayangi sampai sekarang, yang entah berakhir sampai kapan. Terlihat puing-puing sejumlah bangunan yang rusak dan dibakar semasa perang dulu. Kendaraan-kendaraan rusak parah akibat kena hantam pelontar roket pemberontak yang dulu kerap mengadang pasukan-pasukan kecil pemerintah di jalan-jalan sepi sewaktu perang tengah gencar-gencarnya melanda. (halaman 46).
Burung Terbang di Kelam Malam

Tidak hanya gambaran kerusakan fisik, namun kondisi psikologis masyarakat yang kemudian banyak mengalami perubahan. Gadis-gadis kecil yang kehilangan kakak-kakak lelakinya, para pemuda yang tewas. Tak terhitung juga perempuan-perempuan yang menjadi janda mendadak tersebab suaminya hilang lalu ditemukan terbujur berkalang tanah. Para orangtua yang ditinggal pergi anak-anaknya. Dan rupa-rupa kehilangan lainnya. Perubahan ini mengakibatkan pergeseran perilaku.

Aceh yang terkenal sebagai Serambi Mekah, ternyata memiliki banyak borok. Pergaulan bebas anak muda tidak kalah mengerikan dengan yang terjadi di ibukota. Demikian pun tingkat kriminal lainnya.

Aroma kritik sosial memang menguar tajam dari novel ini. Pemerintahan yang korup, politik yang kotor, penyedotan sumber kekayaan daerah, dan kondisi sosial masyarakat yang carut marut, mendapat sorotan tajam.

Kota kecil ini memang menyedihkan. Semakin hari tambah terpuruk ditinggalkan para penghuni yang pergi dan mati. Semasa perang dulu, terlalu banyak orang mati dan dibantai. Orang-orang Jawi yang terkenal rajin menggarap ladang di wilayah-wilayah pedalaman terpaksa meninggalkan rumah dan kebunnya karena terusir oleh pemberontak yang muak terhadap raut wajah mereka yang berhidung pesek. (halaman 163)

Bahkan tanpa tedeng aling-aling, dinyatakan kegeramannya kepada salah seorang presiden negeri ini.

Dia memerhatikan aku lagi, sikapnya seperti seorang penguasa besar. Aku jadi ingat presiden perempuan negeri ini yang memerintahkan membunuh orang Aceh kali kedua, setelah presiden sebelumnya yang bermata sipit dijatuhkan. Kira-kira begitulah lagak perempuan ini ketika berhadapan denganku. (halaman 170)

Meski novel ini mengungkap sisi gelap hiruk-pikuk politik, namun bukan berarti ia novel yang membuat kening berkerut. Bahasanya cukup ringan, dengan dibumbui gaya jenaka pada beberapa bagiannya.

Dibeberkan juga kehidupan wartawan dengan dunia pers yang tidak jauh dari cipratan lumpur politik. Pers yang dimanfaatkan oleh tokoh politik merupakan kerjasama kemunafikan yang serasi. Sungguh memuakkan. Namun, para kuli tinta itu tak berdaya, rupiah memang memiliki daya magis yang manis.

Bagaimana dengan kisah romansa dalam novel ini? Saya merasakan hanyut pada bagian menjelang akhir. Karena memang alur sejak awal terasa lambat, kejutan-kejutan menghentak lebih terasa saat mendekati ending. Saya betul-betul merasakan merindunya Fais kepada Safira, situasi yang rumit di antara mereka, rasa takut kehilangan yang mencekam, hingga genangan di pelupuk meluruh membasahi pipi saya.

Lantas, adakah yang mengganjal dari novel ini? Yup! Seperti yang saya sebutkan di awal, tentang risihnya saya membaca judul-judul bab, demikian pula rasa risih itu terus berlanjut saat saya tenggelam dalam isi kisah ini. Penulis tidak sungkan mengungkapkan hal-hal yang mengarah ke adegan dewasa. Sepintas terkesan vulgar. Kalaupun ada yang tersirat halus, pembaca dewasa tentu bisa menangkap jelas maksudnya. Sejujurnya saya merasa tidak nyaman.

Namun, konon dalam karya sastra, memang disediakan ruang untuk bereksplorasi di wilayah aktivitas ‘begituan’. Dan, dalam hal Fais ini, mungkin penulis ingin menyampaikan bahwa Fais memang doyan ‘begituan’. Pada satu titik kemudian, cinta sejati lah yang menempati seluruh ruang hati. Maka, kontradiksi tersebut diperlukan untuk dramatisasi kisah, dan semacam pelajaran kepada pembaca, betapa cinta terlarang tidak akan membuat jiwa menjadi tenang.

Hanya saja, saya tetap menyayangkan munculnya adegan-adegan dewasa, meski memang dibutuhkan dalam cerita ini. Penggambarannya yang blak-blakan, membuat jengah. Walaupun kemudian Fais menyesal dan merasa berkubang dalam dosa yang menjijikkan. Tobatnya itu ternyata tobat sambal. Ah, mungkin ini pula yang ingin disampaikan penulis bahwa perbuatan dosa itu demikian menjerat hingga tobat terasa berat. Semoga di balik vulgariyah itu, pembaca lebih menangkap pesan-pesan kebaikannya.

Oh ya, yang menarik juga dari novel ini adalah endingnya. Saya membaca novel ini benar-benar menikmatinya dengan menyerahkan diri ke dalam cerita, tanpa mereka-reka apakah si ini akan menjadi begitu atau si itu ternyata begini. Saya hanyutkan diri begitu saja. Sehingga tiba pada ending, saya benar-benar merasakan asyiknya terbelalak, menahan napas sejenak, dan bergumam; Wow![]