Kisah Penuh Liku dan Menegangkan!

Novel ini memikat hati pembaca dengan cerita yang begitu realistis, sehingga sangat gampang membayangkan sosok dan kepribadaian sejumlah tokoh yang muncul dalam kisahnya. —John H. McGlynn, penerjemah dan editor berkebangsaan Amerika.

Kisah Ini Mengandung Satire, Jenaka, dan Tajam!

Kisah ini mengandung satire ringan, jenaka, dan juga tajam—sesuatu yang memang telah menjadi salah satu kekuatan dari gaya bercerita dia. —Joko Pinurbo, penyair.

Dapatkan Novel Burung Terbang di Kelam Malam karya Arafat Nur!

Sebuah novel menarik berbalut intrik politik dan kisah cinta yang unik. —Anton Kurnia, penulis cerita dan editor buku sastra.

Novel Paling Romantis Tentang Sisi Gelap Politik dan Cinta

Beragam konflik yang dialami tokoh-tokohnya saling menjalin dan menjadi cerminan sebuah realitas yang lebih besar: betapa manusia akan selalu berhadapan dengan sisi gelap kemanusiaan mereka sendiri. —Ika Yuliana Kurniasih, editor Penerbit Bentang.

Berani, Genit, dan Terus Menggoda Hingga Akhir Cerita!

Novel ini seperti menelanjangi sisi-sisi gelap manusia yang tersembunyi, dan bahkan akan mengguncang jiwa. Yang pasti sangat bertolak-belakang dengan bayangan Aceh yang sebelumnya ada dalam pikiran kita semua. —Sandi Firly, penulis novel Lampau.

Minggu, 20 April 2014

Duka Dunia untuk Gabriel Garcia Marquez

 Kematian Gabriel Garcia Marquez pada Kamis (17/4/2014) ditangisi di seluruh dunia. Bagi orang-orang yang mengenal dia atau karyanya, Marquez dipuji sebagai raksasa sastra modern. Sepanjang hayatnya, Marquez menegaskan bahwa dia selalu adalah seorang wartawan.

Marquez adalah penulis dari novel dan cerpen yang memabukkan, penuh dengan nuansa khas Amerika Latin, seperti takhayul, kekerasan, dan kesenjangan sosial. Dia secara luas dianggap sebagai penulis berbahasa Spanyol paling populer setelah Miguel de Cervantes yang hidup pada abad ke-17.

Lahir di Kolombia 87 tahun lalu, pemenang Nobel Sastra pada 1982 ini disandingkan kebesarannya dengan Mark Twain dan Charles Dickens. 

Karya-karyanya, antara lain Chronicle of a Death Foretold, Love in the Time of Cholera, dan Autumn of the Patriarch, laris manis melebihi karya cetak apa pun dalam bahasa Spanyol, selain Injil. Novel epik yang dia tulis pada 1967, One Hundred Years of Solitude, terjual lebih dari 50 juta kopi dan diterjemahkan ke lebih dari 25 bahasa.

Cara Marquez bertutur tentang kehidupan sehari-hari membuat dia terkenal sebagai praktisi sastra realisme magis. Dia bisa menulis sebuah cerita fiksi dengan unsur fantastis, seperti ketika bertutur tentang anak laki-laki yang lahir dengan ekor babi atau seorang pria yang terseret awan kupu-kupu kuning.

Lewat akun Twitter, Presiden Kolombia menuliskan ungkapan dukacitanya untuk Marquez, dengan menyisipkan salah satu judul novel Marquez di dalamnya. "A thousand years of solitude and sadness at the death of the greatest Colombian of all time," tulis dia. Seribu tahun kesendirian dan kesedihan karena kematian dari orang Kolombia terbesar sepanjang masa.

Juga lewat Twitter, Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy mengungkapkan, "Rasa sayang dan kekaguman terhadap seorang penulis penting, sastra Spanyol maupun universal, di paruh kedua abad ke-20."

Kalimat pertama pada novel One Hundred Years of Solitude telah menjadi salah dari sekian kalimat pembuka yang sangat terkenal. "Bertahun-tahun kemudian, saat ia menghadapi regu tembak, Kolonel Aureliano Buendia ingat tentang satu sore saat ayahnya membawa dia menemukan es."

Gerald Martin, penulis biografi setengah resmi tentang Garcia Marquez, mengatakan kepada Associated Press bahwa One Hundred Years of Solitude adalah novel pertama yang menggambarkan pengakuan Amerika Latin tentang diri mereka sendiri, mendefinisikan keberadaan mereka, merayakan semangat mereka, intensitas mereka, spiritual sekaligus takhayul, serta kecenderungan mereka untuk gagal.

Penghormatan terakhir

Keluarga Marquez merencanakan upacara pribadi untuk memberikan penghormatan terakhir bagi penulis ini. Rencananya, jasad Marquez akan dikremasi. Sementara itu, Pemerintah Meksiko menjadwalkan upacara penghormatan publik pada Senin (21/4/2014), bertempat di Palace of Fine Arts, pusat art decoyang bersejarah di Mexico City, Palace of Fine Arts.

Duta Besar Kolombia untuk Meksiko, Julio Gabriel Ortiz, lewat wartawan mengusulkan agar abu Marquez ditebar di antara Meksiko dan Kolombia. Belum ada konfirmasi dari keluarga soal disetujui atau tidaknya usul tersebut.

"Akan ada sebagian (abu) di Meksiko, tentu saja. Saya bepikir bahwa ada bagian lain yang juga bisa berada di Kolombia," ujar Ortiz. "Kami ingin mendapatkan kehormatan itu, memiliki bagian abunya yang beristirahat dengan tenang di sana."

Ketika menerima Nobel pada 1982, Marquez dalam pidatonya menggambarkan Amerika Latin sebagai sumber kreativitas yang tak pernah terpuaskan, penuh kesedihan sekaligus keindahan, bergantian dengan keberuntungan. Puisi dan pengemis, musisi dan para nabi, prajurit dan bajingan, sebut dia, menjadi realitas tak terkendali.

"Kami harus bertanya dengan sedikit imajinasi saja, mengenai masalah penting kami, tentang kurangnya cara konvensional yang bisa membuat hidup kami dapat lebih diyakini," kata Garcia Marquez. Seperti kebanyakan penulis Amerika Latin, Garcia Marquez melampaui dunia huruf. Dia menjadi pahlawan bagi kaum kiri Amerika Latin, menjadi sekutu awal pemimpin revolusi Kuba Fidel Castro, sekaligus pengkritik intervensi Washington ke Vietnam hingga Cile.

Selama bertahun-tahun, Garcia Marquez tak bisa mendapatkan visa kunjungan ke Amerika Serikat, tetapi para pemimpin negara, termasuk Amerika, terus mendekatinya. Bill Clinton dan Francois Mitterand adalah dua di antara presiden yang menjadi temannya.

Tak hanya fiksi

Bersama Norman Mailer dan Tom Wolfe, Garcia Marquez adalah pelaku awal penulisan nonfiksi sastra yang kemudian dikenal sebagai "new journalism". Jejak jurnalisme sastrawinya berupa karya-karya seperti Story of A Shipwrecked Sailor, yang bertutur tentang kehidupan pelaut yang bertahan hidup selama 10 hari terombang-ambing di lautan.

Tulisan lain non-fiksi Marquez adalah profil pemimpin Venezuela, Hugo Chavez. Dia menggambarkan dengan sangat jelas tentang Pablo Escobar yang menyobek tatanan sosial dan moral di tanah kelahirannya, Kolombia. 

Pada 1994, Garcia Marquez mendirikan Iberoamerican Foundation for New Journalism, yang membuat pelatihan dan kompetisi untuk meningkatkan standar jurnalistik naratif dan investigatif bagi para wartawan di seantero Amerika Latin. "Dunia telah kehilangan salah satu penulis terbesar yang visioner dan salah satu favorit saya saat saya muda," kata Presiden Amerika Serikat Barack Obama. 

Garcia Marquez lahir di Aracataca, sebuah kota kecil dekat pantai Karibia, Kolombia, pada 6 Maret 1927. Ia adalah anak tertua dari 11 anak-anak Luisa Santiaga Marquez dan Gabriel Garcia Elijio, pengirim kawat dan apoteker homeopati yang suka mengembara, yang juga adalah ayah dari setidaknya empat anak-anak di luar pernikahannya.

Saya adalah wartawan

Sesaat setelah lahir, Marquez dititipkan kepada kakek dari pihak ibu yang kemudian pindah ke Barranquilla untuk membuka apotek. Cerita tentang kakek-neneknya merupakan inspirasi dari cerita fiksi "Macondo", dan Arataca menjadi rujukan lokasi novel yang sama. Sebuah desa dikelilingi perkebunan pisang, yang kemudian juga menjadi latar novel One Hundred Years of Solitude.

"Saya sering diberi tahu oleh keluarga bahwa saya mulai menceritakan banyak hal, cerita dan sebagainya, sejak mulai bisa bicara," kata Garcia pada suatu ketika dalam sebuah wawancara. Menjalani pendidikan di sekolah berasrama, dia menjadi bintang kelas dan sekaligus pembaca yang rakus, dan menggemari karya-karya Hemingway, Faulkner, Dostoevsky, dan Kafka.

Karya pertama Marquez adalah cerita fiksi pendek untuk koran El Espectator, pada 1947. Meski dipaksa ayahnya belajar ilmu hukum, kebosanan mengantarkan Marquez mendedikasikan diri untuk jurnalisme. 

Namun, haluan tulisannya adalah pandangan politik kiri. Pembantaian di dekat Aracataca pada 1928 dan pembunuhan kandidat presiden dari sayap kiri, Jorge Eliecer Gaitan, pada 1948, sangat memengaruhi gaya tulisan Marquez sesudahnya. 

Sempat tinggal beberapa tahun di Eropa, Marquez kembali ke Kolombia pada 1958, menikahi Mercedes Barcha yang adalah anak tetangganya sejak kecil. Pasangan ini memiliki dua anak. Pada 1981, dia meninggalkan Kolombia setelah dituduh bersimpati kepada pemberontak M-19 dan mengirimkan sejumlah uang untuk gerilyawan Venezuela. Mexico City menjadi tempat tinggal dia berikutnya sampai meninggal.

Pada 1976, Marquez pernah terlibat perseteruan terkenal dengan penulis Peru, Mario Vargas Llosa. Mereka adu tinju di luar bioskop di Mexico City, dan pada sebuah kesempatan, alasan perkelahian itu pernah dibahas secara terbuka. "Seorang pria hebat telah meninggal. Karya-karyanya telah membuat sastra kita menjadi besar dan bergengsi," ujar Vargas Llosa, Kamis, dalam wawancara televisi.

Melewati kemiskinan hingga sebagian besar masa dewasanya, Marquez sedikit berubah oleh ketenaran dan kekayaan pada kemudian hari. Namun, dia adalah tuan rumah yang ramah bagi tamu-tamunya, yang dengan penuh semangat menceritakan kisah-kisah panjang untuk para tamu.

Garcia Marquez menolak tawaran menjadi duta besar, juga menolak untuk dicalonkan sebagai presiden Kolombia. Namun, dia terlibat dalam upaya mediasi Pemerintah Kolombia dan pemberontak sayap kiri. 

Pada 1998, dalam usia 70-an tahun, dia mewujudkan impian seumur hidup dengan membeli saham mayoritas sebuah majalah berita Cambo di Kolombia, memakai uang dari hadiah Nobel-nya. Pada tahun berikutnya, dia terserang kanker getah bening. Hingga jatuh sakit, dia masih berkontribusi besar bagi majalah itu. 

"Saya adalah jurnalis. Saya selalu adalah seorang wartawan," kata Marquez pada suatu ketika kepada Associated Press. "Semua buku saya tak mungkin saya tulis jika saya bukan wartawan karena semua bahan (buku itu) berasal dari kejadian nyata."(Kompas)

Burung Terbang di Kelam Malam   
Burung Terbang di Kelam Malam
JIKA kehidupan adalah sebuah perjalanan, Fais adalah seorang petualang yang berjalan sendirian di antara riuhnya dunia. Di tengah masyarakat yang mengelu-elukan sosok Tuan Beransyah, Fais memilih jalannya sendiri. Ia ingin membuktikan bahwa kandidat wali kota yang dikenal alim, dermawan, dan pandai agama itu tidak lain adalah sosok yang amat munafik.

Maka, dimulailah sebuah perjalanan dengan kejutan di setiap tikungannya. Perjalanan itu tidak saja membuat Fais menemukan kebenaran di balik politik pencitraan yang memuakkan, tetapi juga kebenaran perasaannya. Fais akhirnya sadar, pertemuan dengan perempuan-perempuan yang sempat menggetarkan hatinya justru adalah jalan yang membawanya pulang pada cinta sejatinya.

Burung Terbang di Kelam Malam adalah novel terbaru Arafat Nur yang mengungkap kehidupan sosial yang begitu dekat; tentang sisi gelap politik dan cinta. Hubungan cinta terlarang, perasaan tidak berdaya, takut kehilangan, dan kesedihan  yang begitu kental, tanpa kehilangan rasa humor. Sebuah kisah yang berliku, tetapi diceritakan dengan sangat lugas dan mengalir.

Arafat Nur Garap Novel Tempat Paling Sunyi

Azamy Muchlis

Waktu itu aku lupa bahwa usia Rinjani sudah menanjak dua delapan, dan kesan yang kupikirkan adalah dia masih gadis tanggung, seakan-akan waktu tak singgah padanya. Senyumnya betul-betul menggetarkan sehingga aku hampir lupa diri kala menjabat tangannya. Sejenak dia pun tanpak tertegun, agak terkejut menatapku, seoalah-olah wajahku mengingatkannya pada sesuatu....

ITULAH penggalan novel Tempat Paling Sunyi karya Arafat Nur yang sedang dalam proses penggarapan akhir. Novel setebal 32 bab ini, menurut Arafat, sangat menyentuhnya. "Saya terbawa-bawa dengan kesan-kesan sederhana yang ditimbulkan. Saya begitu bergairah dalam menggarapnya. Sehingga saya tak membutuhkan waktu begitu lama untuk menyelesaikannya," ucap Arafat, Senin (21/4).
       Tentang gagasan menulis novel ini sendiri datangnya tak disangka-sangka ketika sebulan dia pulang dari memberi materi seminar sastra di Padang. Waktu itu dia memang memiliki banyak waktu senggang, sehingga dia menelusuri hutan Sawang mencari untuk mencari batu cincin di sungai. Pada hari yang lain dia sering bertemu muka dan berbincang-bincang dengan seorang guru ngaji yang memiliki suatu keistimewaan-- dapat bercakap-cakap dengan makhluk halus.
       Kehidupan sehari-hari tentang dunia kepenulisan dan hubungannya dengan penulis-penulis Aceh, turut andil dalam mempengaruhi novel ini. Maka, Hari Seribu Malam akan membeberkan secara lugas tentang dunia dan kehidupan penulis yang ada di wilayah konflik, serta masalah-masalah yang dihadapi. Hup! Tapi tidaklah sesederhana itu ceritanya. Kisahnya benuh dengan lika-liku kehidupan Mustafa yang rumit, penuh tekanan, dan juga cintanya. Kegagalannya dengan istri pertama membuatnya harus mengawini perempuan lain, yang sampai akhir hayatnya tetap menjadi perempuan simpanan.
      Berikut ini adalah sinopsisnya:
     Mustafa, seorang novelis yang tinggal di wilayah kecil dan dilanda kekacauan, mengalami banyak masalah pelik di seputar hidupnya sendiri dan harus menghadapi sejumlah peristiwa besar lain di lingkungan kota tempat tinggalnya. Di tengah-tengah kerumitan urusan keluarga dan kekacauan situasi yang senantiasa timbul, dia bertekad kuat dan berusaha keras untuk menyelesaikan sebuah novel yang diyakini kelak akan menjadi karya hebat yang dapat memengaruhi orang dan mengubah negeri yang selalu dalam kancah pertikaian ini.
Mustafa mengalami banyak hal rumit, pertengkaran dengan istrinya, Yulisa, yang kerap terjadi saban hari menyebabkannya tidak bisa bekerja. Sementara orang-orang di sekelilingnya memandang aneh dan sama sekali tak mengerti dengan novel—bahkan mertuanya bertanya, “binatang apa itu?” Menulis novel yang merupakan cita-cita Mustafa dalam hidupnya itu segera kandas oleh situasi keluarga dan situasi politik yang tidak mendukung, tetapi begitu dia mengenal Rinjani, yang kemudian menjadi istri simpananya, gairahnya menyala kembali, sampai kemudian dia dapat merampungkan novelnya. Namun, novel itu malah lenyap setelah sempat terbit dengan jumlah sangat terbatas yang kemudian menyebabkannya sebagai penulis gagal.
Novel ini mengisahkan romantika pelik hubungan manusia, keterasingan hubungan dengan Tuhan, dan kegamangan menghadapi dunia. Diceritakan dengan sederhana, lugas, jenaka, sendu, sedih, dan gembira. Kaya cita rasa, termasuk masalah-masalah rumit yang berhubungan dengan dunia kepenulisan dan sastra, keterkaitannya dengan politik dan hubungan dengan Sang Pencipta. Juga membahas secara sepintas lalu perbandingan antara sastra Indonesia dengan sastra asing, yang merupakan pandangan tokoh pada buku ini dalam menggarap novelnya.

Mereka Anggap Novel Sekadar Cerita Cabul


Oleh Teguh Affandi


JUJUR saya belum baca Lampuki karya Arafat Nur (sedih nan menyesal), tetapi novel Burung Terbang di Kelam Malam (BTKM) ini tidak menjadi soal sebagai awalan membaca karya Arafat Nur. Saya termasuk orang yang cerewet dengan sampul, maka sampul BTKM sangat manis nan lembut, dominan warna ungu muda dengan ilustrasi burung-burung yang tidak belebihan tapi asyik.

Aku percaya apa pun pekerjaan yang dilakukan seseorang tertentu pasti mendatangkan manfaat, bentuknya bermcam-macam dan tidak nyata. Tidak mungkin orang melakukan sesuatu tanpa ada tujuan kalau bukan orang tersebut salah urat (h.8)

Fais seorang wartawan dan sedang menyambi menulis novel. Kerja jurnalistiknya terbentur dengan pencalonan Tuan Beransyah menjadi calon kuat walikota. Dan Fais tahu Tuan Beransyah bukan lelaki yang baik, sebagaimana pesona Tuan Beransyah pada masyarakat umum. Tuan Beransyah hobi bermain perempuan. Fais bertemu dengan Kak Aida yang ternyata adalah gundik dari Tuan Beransyah. Entah gundik keberapa? Pada bagian awal, novel ini sangat feminis karena mengkritik dengan sadis tentang kekeuasaan laki-laki yang diwakili oleh Tuan Beransyah yang pongah dan arogan terhadap perempuan, macam Aida.

"Baginya, aku inilah hanyalah umpan telurnya. Tapi bagiku, landok (red:lelaki tua lapuk) tua itu tidak lebih dari telur busuk. Cuiih!" (h.12), demikian Kak Aida yang mengata-ngatai suami sirinya, Tuan Beransyah yang sudah bertahun-tahun tidak pulang, kepada Fais.

Feminis juga ditampakkan dari bagaimana penokohan perempuan yang mendahului perkataan laki-laki. Kak Aida yang dikisahkan baru bertemu sekali dengan Fais, justru menerima Fais sebagai tamu dan bercakap-cakap akrab. Apalagi Aida bertanya demikian. Apakah menurutmu aku ini masih cantik?(h.5). (Mungkin ini budaya daerah penulis, kalau di Jawa sangat tidak sopan apabila melakukan demikian).

Kalau boleh saya sebut keagresifan seorang perempuan, juga dikisahkan oleh tokoh Safira, kenalan Fais yang baru selama dua bulan (noted: 2 bulan), tetapi saat baru dikunjungi oleh Fais, dia malah bertanya demikian: tentu saja karena aku memikirkanmu! Apakah kamu tidak memikirkanku? Kenapa, sih, pertanyaanmu itu sungguh tidak berperasaan sekali?(h.23)

Apakah sudah sedemikian perempuan punya hak sama dalam mengungkapkan perasaan tanpa malu-malu? Mungkin demikian perempuan yang selalu dibatasi oleh "layak-tidak layak" apabila perempuan mendahului laki-laki dalam berkisah perihal hati.

Rasa pemberontakan akan kungkungan juga dilakukan "perempuan kota itu" terhadap pemakaian hijab. Kebanyakan perempuan tidak benar-benar ingin mengenakan kain tutup kepala, selain hanya oleh rasa terpaksa, terutama gadis-gadis belia yang hanya memakainya waktu bepergian saat mendatangi tempat keramaian, semacam pasar dan kota.(h.22) Safira memakai jins dan kemeja ketat.

Ceritera Fais yang berpetualang hingga bertemu banyak perempuan menjadi catatan tersendiri dalam novel ini. Ternyata Fais juga laki-laki yang bisa dikategorikan sejenis dengan Tuan Beransyah, karena Fais juga suka mempermainkan "telur"-nya di beberapa perempuan di perjalannya. Aida, Nana, Laila, Safira, Diana, yang menaruh rasa pada Fais. Beberapa wanita bahkan sempat ditanami benih Fais.

Sikap agresif yang ditampakkan oleh Aida, Nana, dan beberapa wanita di novel BTKM ini dijawab oleh penulis dengan klausa yang sangat lucu (bukan dalam arti jelek, tapi lucu satire): Kenapa gadis-gadis yang kugolongkan mudah laku malah terlalu sulit mendapatkan jodoh? Apakah salah satu penyebabnya jumlah laki-laki telah menjadi sedikit akibat terlalu banyak yang mati di pertempuran?(h.108).

Jadi perempuan-perempuan yang manis ketika perang berkecamuk di Aceh, ditiduri tentara, dan saat tentara di tarik menyisakan bindam kepada para wanita manis yang menjanda dengan fakta jumlah laki-laki makin menipis. (Sebentar saya tertawa dahulu...) Mungkin juga secara halus ini adalah sindiran kepada wanita Aceh dan wanita pada umumnya, meski belum bertemu jodoh tetap saja Keep calm and be positive thinking, karena kata Afghan Jodoh Pasti bertemu.


Lalu bagaimana kelanjutan Fais menulis novel demi membongkar keboborkan Tuan Beransyah yang hendak maju sebagai walikota? Menggelitik adalah kiritk Arafat Nur terhadap dunia literasi, bahwa banyak orang-orang tidak mengenal novel secara utuh. Kebanyakan mereka menganggap novel sekadar menuliskan cerita cabul yang menghibur. Tetapi, Arafat Nur lantas membenturkan kepada fakta bahwa banyak novel yang justru menggugah dunia: Banyak orang terpelajar beranggapan bahwa novel lebih berbahaya daripada senjata. Benda itu dianggap merusak akhlak, meracuni pikiran, dan menjerumuskan anak-anak pada perbuatan maksiat.(h.118)

Jedeer! Tentu ingat beberapa novel yang dijadikan rujukan bahkan bahan ajar di berbagai universitas, sekadar menyebut judul Para Priyayi by Umar Kayam, Tetralogi Pulau Buru by Pramoedya Ananta Toer, Atheis by Achdiat K Mihardja, dll. So, tetap ada bacaan sampah dan ada bacaan menggugah, termasuk itu jenis novel.

Pertanyaan besar tentang kisah Tuan Beransyah yang hendak ditulis Fais dan perjalanan Fais adalah; sebenarnya siapa yang suka memamerkan "telur"-nya kepada kaum hawa? Tuan Beransyah atau Fais? Karena semakin ke depan Fais juga menunjukkan perangai bahwa dialah Tuan Beransyah. Fais juga lelaki muda 28 tahun yang suka bermain kelamin dengan wanita-wanita, istri dan gundik Tuan Beransyah, Diana tetangganya... So, apa bedanya?

Nasib Fais, yang hampir mengubah fokus cerita, hanya mengupas kehidupan Fais dan asmara yang rumit. Banyak gadis terpesona pada Fais dan ditidurinya. Ini melenakan atas kisah Tuan Beransyah yang menjadi titik mula novel BTKM ini. Tetapi, justru ini menjadi belokan yang disimpulkan di akhir.

Aku kurang suka kupasan yang banyak masalah politik. Jadi bisa kusimpulkans secara kasar, kisah Tuan Beransyah hanya simbolik untuk kisah Fais yang tidak jauh-jauh dari "menjatuhkan telur" di tubuh banyak wanita.

Ekpektasi di awal novel BTKM ini akan diakhiri dengan kehadiran Arafat Nur atas novel yang sudah rampung ditulis Fais. Jadi dalam benakku, endingnya bakal novel ini adalah hasil tulisan Fais. Jadi, garis semu akan sirna. Ternyata, endingnya adalah twist! Meski agak kasar. Kusangka Safira adalah gundik Tuan Beransyah, ternyata....? Duh, betul-betul tak kebayang! Pokoknya baca sendiri, deh!

Secara keseluruhan novel ini sangat asyik dibaca, seperti sedang mendengar seorang pencerita berkisah dengan teratur dan runut. Ada beberapa hal yang unik dari novel ini, selain cover yang patut diacungi jempol: Aku tertarik dari judul-judul bab dari novel ini. Berupa kalimat yang merdu dilafazkan dan sangat mirip dengan peribahasa. Coba tengok: Bab 2. Aku Ingin Kamu Menuliskan Ciumanku Ini Dalam Novelmu Itu; Bab 10. Sebelum Berpisah, Bolehkah Aku Menciummu?; Bab 18. Nanti, Sesudahnya, Kamu Bisa Mandi Sekalian!, dll... Seru abis!

Fais dalam novel ini menjadi sangat hidup, bahkan terkesan jangan-jangan ini tulisan adalah pendapat Arafat Nur, bukan pendapat tokoh Fais. Meski tokoh utama Fais, tetapi bejibun nama-nama perempuan justru menjadi cerita dari BTKM. Twist endingnya agak kasar, tapi kontan terhenyak dan bilang "wow!". 
Dan yang patut diacungi jempol adalah cara tutur Arafat Nur yang mengalir saja. Tidak butuh liukan-liukan dalam berbahasa. Mengalir tenang sampai selesai. Benar-benar bercerita.
[ goodreads/nagita]




Sabtu, 12 April 2014

Mendedah Tahta dan Wanita Tuan Beransyah

Judul buku      : Burung Terbang di Kelam Malam
Penulis             : Arafat Nur
Penerbit           : PT Bentang Pustaka
Cetakan           : Pertama, Februari 2014
Tebal buku      : xvi + 376 halaman

Oleh: Raras Indah F

DARI judul novel ini kita tidak akan menyangka akan digiring Arafat Nur menuju perjalanan seorang wartawan harian di Aceh bernama Fais yang penuh gejolak, gairah, serta sindiran sosial dan politik. ‘Tak ubah serupa burung yang terbang sendirian di kelam malam. Ke mana pun aku memandang, yang tampak adalah dunia gelap gulita, tidak ada sedikit pun titik terang.

Meskipun Fais adalah seorang wartawan yang bisa diperhitungkan di kalangan para penguasa Aceh, ia terkenal bersih dari ‘uang saku’ pejabat. Ia menceritakan sisi kelam kehidupan para pekerja berita yang dipandang parasit terhadap para pejabat. Hatinya bertentangan dengan pekerjaan yang digelutinya. Hal ini lantaran ia melihat adanya berbagai ‘sandiwara buruk’ antara pejabat dengan wartawan. Pun dengan pemegang kantor berita tempatnya bekerja.

Di saat para wartawan mengejar Tuan Beransyah untuk sesuap nasi, ia malah ingin menguak kebusukan lelaki tambun itu. Beransyah adalah seorang pedagang emping melinjo yang mencalonkan diri sebagai calon walikota. Isu yang beredar, ia mengoleksi banyak gundik di Aceh, dan ternyata hal itu benar. Fais tidak terima jika kotanya harus dipimpin manusia macam Beransyah. Oleh karena itu, ia tidak segan-segan mendatangi para wanita yang telah dibuang oleh Beransyah itu. Pertemuannya dengan Aida, Haliza, Nana, Rahmah, Saudah, dan beberapa gundik Beransyah lainnya telah memunculkan babak permasalahan tersendiri.

Dari perkenalan dan pertemuan-pertemuan terlarangnya dengan para wanita tersebut, Fais mendapati mirisnya kehidupan beberapa perempuan di Aceh. Kebanyakan perempuan tersebut berasal dari kalangan orang tidak mampu. Karena keterbatasan penghasilan, dengan mudah mereka menerima pinangan Beransyah yang kemudian tanpa daya mau ditinggalkan begitu saja oleh lelaki yang diduga memiliki hubungan dengan sejumlah mafia ganja ini.

Jalan yang dilalui Fais tidaklah terang. Di sela-sela investigasinya terhadap kehidupan Beransyah, ia mengalami jatuh bangun dengan para wanita tersebut. Pun nasib pekerjaannya yang sering terkatung-katung. Klimaksnya terjadi saat artikelnya tentang kebusukan Beransyah dimuat di kantor beritanya. Alhasil, ia menjadi mangsa buruan Beransyah yang dicari-cari. Jika tanpa suatu keajaiban tertentu, ia mengira dirinya dengan mudah telah menjadi mayat yang terbuang di pematang sawah.

Fais adalah tokoh yang bisa menggelitik hati para perempuan tersebut. Bagaimana tidak? Ia lelaki polos nan pendiam yang berkelana begitu saja tanpa arah, bahkan ihwal perempuan. Ia menikmati dosa dan taubat secara kontinu. Namun, dari situlah akhirnya ia mendapatkan makna hidup yang sebenarnya, termasuk cinta sejatinya.

Arafat menuliskan kisah Fais dengan bahasa yang mudah dicerna tapi mampu menggelitik hati pembaca. Sindiran jenakanya sarat dengan kritikan sosial dan politik. Pemenang Sayembara Menulis Novel DKJ 2010 serta peraih Khatulistiwa Literary Award 2011 ini menyoroti kehidupan orang-orang di Aceh pasca perang dan tsunami besar di sana, terutama para perempuan yang sebelumnya tidak kita duga itu akan terjadi di bumi ‘Serambi Makkah’. Kelakuan buruk para politikusnya juga bisa merefleksikan kotornya kehidupan para politikus di negeri ini.

Meskipun pemikiran Fais kuat dan tajam, namun ia belum memiliki kekuatan yang lebih ketika berinteraksi dengan Beransyah dan para gundiknya itu. Sebagaimana novel yang ditulis Fais, kiranya Arafat dengan sendirinya telah memaparkan hasil tulisan artikel Fais yang memuat mengenai gelagat buruk Beransyah. Karenanya pula, pembaca dapat menebak sendiri bagaimana bentuk artikel yang ditulis Fais itu tanpa perlu dihadirkan lagi secara khusus.

Novel ini mampu menyampaikan banyak pesan. Kita adalah manusia yang pasti memiliki pertentangan nurani dengan keadaan. Hal ini yang membuat manusia tidak bisa mengelak untuk bersalah dan kembali bertaubat. Namun, dari situlah ia akan lebih matang dalam memijajaki hidup ini. Begitulah sekiranya pesan yang ingin disampaikan oleh Arafat.

Cerita apa saja yang dilontarkan Fais soal buruknya kelakuan politikus di Aceh? Makna hidup apa yang ditemukan Fais setelahnya? Temukan jawabannya di buku ini. Selamat membaca!(dikutip dan disesuaikan dari lpmhimmahuii.org)

Jumat, 04 April 2014

Bincang-Bincang Arafat Nur di Twitter



Assalamualaikum majelis #TwiTalkPenulis sekalian. Moga sehat dan kuat.

Baiklah, saya akan membeberkan sedikit kenapa dan apa pula sebabnya saya menulis novel Burung Terbang di Kelam Malam (BTKM).

Setelah novel Lampuki, saya selalu saja diliputi dilema ketika memastikan bentuk novel yang selanjutnya. Sampai kemudian saya menemukan bentuk serupa novel BTKM yang sudah ada di pasaran sekarang ini.

Adapun keputusan ini saya ambil setelah banyak keluhan dari pembaca remaja yang sulit mencerna Lampuki. Lampuki dianggap memiliki teks sastra yang terlalu berat bagi pembaca umum.

Saya kira masalah ini tidak boleh diabaikan. Saya juga ingin pembaca remaja dapat menikmati sastra yang saya tulis. Mereka adalah generasi dengan jumlah yang besar, yang saya anggap punya potensi dan kecerdasan seperti generasi pembaca novel serius sekarang. Untuk sementara ini mereka perlu diperhatikan dan dimanja dengan sastra yang lebih lugas dan ringan.

Namun, saya juga tidak ingin mengorbankan kualitas sastranya.  Saya menuliskan Burung Terbang di Kelam Malam dengan maksud bahwa sebuah novel sastra juga ternyata bisa ringan.

Tentu kerja ini melelahkan. Tidak semudah yang saya bayangkan. Setidaknya, bila pun novel ini punya sisi kekurangan, tapi harus banyak sisi kelebihannya sehingga bisa menutupi kekurangannya.

Terlalu banyak pertimbangan yang saling berbenturan. Saya tetap tidak bisa mengikuti selera dan kemauan saya sendiri sebab novel membutuhkan banyak pembaca. Inilah yang terus saya upayakan; membuat novel dengan selera banyak orang, tapi dengan usaha tetap menjaga kualitas isinya.

Novel ini sebagai suatu upaya untuk mengajak remaja menikmati bacaan sastra yang lebih serius, tentu tanpa mengesampingkan pembaca yang telah ada. Saya tidak ingin pembaca terdahulu mengalami kecewa. Maka, sekuatnya saya mempertahankan apa yang telah menjadi jati diri saya.

Sebelum BTKM ini dilepaskan ke pasaran, saya telah melakukan pengujian novel ini terhadap mereka yang tidak suka baca sastra.  Mereka bisa tertawa dan menikmatinya sampai tuntas. Sampai kemudian terkenang-kenang, dan dengan semangat ingin menyampaikan pendapatnya.

Sejauh ini, terhadap mereka yang telah membaca BTKM memang belum ada yang menyatakan kekecewaan. Dan saya berharap tidak ada yang kecewa dengan “format agak beda” dari format novel sebelumnya.

BTKM mengajak untuk memilihat secara dekat dan dengan pandangan jernih segala realitas kehidupan sesungguhnya, tanpa menambah atau mengurangi.( #TwiTalkPenulis)