Rabu, 06 Februari 2013

Tragedi dan Ironi Politik Aceh dalam Novel Terbaru Arafat Nur

 
Burung Terbang di Kelam Malam
Oleh: Al Chaidar, Dosen Politik Universitas Malikussaleh

(Dimuat Harian Serambi Indonesia, Minggu, 8/12/2013) 
NOVEL Burung Terbang di Kelam Malam (Bentang, November 2013) karya Arafat Nur bukanlah novel biasa, bukan pula novel picisan. Novel ini merupakan potret gambaran kehidupan politik Aceh yang semakin hari semakin menuju ke arah fasisme. Demokrasi Aceh, dalam novel yang ironik ini, telah dibajak oleh segelintir orang pandir dan munafik yang menggunakan segenap kekuatan parokial untuk membungkam media tentang kehidupannya yang bergelimang dosa dan tindakan melawan hukum lainnya.
Novel setebal 400 halaman ini berlatar Aceh pada tahun 2005 hingga 2010 yang sarat dengan parodi dan tragedi. Mengisahkan tentang Fais, seorang wartawan sebuah surat kabar terkemuka, mencoba membongkar kebohongan seorang calon walikota di wilayahnya. Tuan Beransyah, sang kandidat ini, memiliki istri-istri simpanan yang berserakan di berbagai wilayah Aceh. Ia menantang semua orang untuk membuktikan petualangan seksualnya yang sudah terlanjur kondang dalam masyarakat.
Dalam upayanya menjawab tantangan tersebut, Fais menelusuri satu per satu istri-istri atau mantan istri Tuan Beransyah itu. Usaha penelusuran ini bukanlah mudah, melainkan sebuah kerja keras, sebuah upaya auto-ethnographic yang penuh tantangan dan biaya serta waktu dan pengorbanan yang mengakibatkan ia terperosok dalam lingkaran setan jaringan para istri sang Tuan. Fais akhirnya berhasil menulis hasil penyelidikannya itu dan diterbitkan di koran tempat ia bekerja—yang kemudian memecatnya karena dianggap sangat lancang. Ia kemudian melarikan diri karena hendak dibunuh, dan akhirnya bersembunyi di tempat kekasihnya yang sebelumnya telah kecewa atas kelemahannya yang tidak mampu menolak setiap godaan wanita kesepian.
Novel ini menarik karena mengungkapkan tentang situasi moral Aceh yang sudah rusak dan Fais terjerembab ke dalam pelukan perempuan-perempuan yang sudah tidak perawan lagi, sebagiannya adalah istri-istri telantar Tuan Beransyah yang mengalami alienasi dan kesepian badaniah (carnal loneliness).
Fais akhirnya diselamatkan oleh Safira, yang juga sudah tidak perawan lagi, yang mau mengerti perjuangannya dalam mengungkap dunia hitam masa lalu sang pemimpin. Fais, dalam perspektif Georg Lukacs (1963)  adalah tipe pahlawan Aceh modern yang problematik (problematic hero) di tengah nilai-nilai problematik (problematic values) peradaban Aceh pasca DOM (Daerah Operasi Militer) yang tidak menentu.
Pasca DOM, banyak perempuan yang ditinggal telantar oleh tentara bagai sepah dibuang. Perempuan-perempuan ini kemudian mencari pemuasannya sendiri dengan berbagai cara yang mungkin untuk tetap bertahan di tengah getaran dunia yang problematik (problematic world).  Dalam kalimat Georg Lukacs sendiri, “the modern novel had become 'the epic of an age in which the extensive totality of life is no longer directly given’. The novel form is therefore organised around the problematic hero in pursuit of problematic values within a problematic world.”
            Novel Arafat Nur ini adalah novel modern dalam kesusasteraan Aceh. Kendatipun novel sebagai “sastra” atau sebagai “seni” masih jarang dibicarakan, apalagi jika bicara tingkat kesusastraan Indonesia, Arafat Nur menuangkan persepsi masyarakat Aceh yang masih guyub tentang apa itu novel. Kehadiran novel Burung Terbang di Kelam Malam ini menunjukkan peradaban Aceh yang problematis mulai menemukan media ekspresi baru terutama jika dibandingkan dengan cerita epik lainnya: prosa dan puisi atau hikayat.
Padahal di abad 21 ini, novel merupakan genre kesusastraan yang bisa dibilang sangat populer, terutama jika dilihat dari kuantitas penulis maupun pembacanya, serta dari jumlah buku yang beredar. Hal ini barangkali disumbang oleh menjamurnya novel-novel yang, katakanlah, merupakan novel ringan atau novel hiburan, meskipun istilah itu pasti sangat bisa diperdebatkan. Tapi kita tak bisa menutup mata, barangkali banyak di antara penulis novel sendiri yang tak pernah peduli, tak pernah mempertanyakan, apa itu novel? Akan tetapi, Arafat Nur sangat sensitif dengan wacana tentang novel yang dipahami masyarakat Aceh.
            Lihatlah ketika dialog Fais bertemu dengan Aida, istri Tuan Beransyah yang ditelantarkan di Panton:
[“Ini tidak ada sangkut-pautnya dengan tugasku sebagai wartawan,” kataku kemudian, “aku hanya ingin menulis novel. Maka, kukatakan tadi bahwa pekerjaanku adalah penulis.”
“Apa itu novel?”
Aku baru sadar bahwa masih banyak orang yang asing terhadap benda itu. Jangankan membaca, menyentuh pun mereka tidak mau. Semasa sekolah dahulu mereka tidak menyukai jenis buku ini dan sangat membenci buku-buku pelajaran. Sekolah hanyalah sebuah keterpaksaan, tempat mencurahkan harapan bahwa dengan cara demikian kelak mereka bakal mendapat pekerjaan dan punya masa depan. Sekolah bukanlah tempat belajar, melainkan lebih banyak digunakan untuk kesibukan bermain dan pacaran. Itulah kenyataannya. Bahkan, sampai kuliah usai pun banyak di antara mereka yang tidak pernah menamatkan sebuah buku! Aku tidak tahu bagaimana mereka bisa lulus dan memperoleh nilai bagus.
“Novel itu semacam buku cerita,” kataku untuk mengingatkannya.
“Oh, iya, aku tahu!” sambarnya. “Seperti yang dibaca anak-anak nakal itu,bukan?”
Aku agak tersinggung, “Yang kutulis ini tidak begitu!”
“Terserah kamu saja,” ucapnya kurang peduli. “Tapi, aku senang kalau kamu menuliskan cerita tentang hidupku ini,” lanjutnya dengan raut muka berseri-seri.]
Kenapa novel ditulis? Kenapa novel dibaca? (Sebagaimana orang menjalani hidup malas bertanya apa itu hidup? Kenapa ada kehidupan?) Untuk saya, itu pertanyaan penting. Tanpa pertanyaan-pertanyaan itu, saya barangkali kehilangan gairah untuk menulis novel. Jika ada buku semacam ini yang ditulis oleh bukan penulis novel, tapi pastinya ia pembaca novel yang tekun, saya bisa menyebut satu yang sangat penting: The Theory of the Novel, karya filsuf Hungaria, Georg Luk√°cs. Sementara novel Arafat Nur ini menceritakan bagaimana pengalaman auto-etnografis Fais dalam menulis novel yang ia sendiri tengah berada dalam cerita itu. Lihatlah bagimana ketika Fais bertemu dengan orang yang sangat dicintainya, Safira, dan menceritakan rencananya untuk menulis novel:
[“Novel?” tanyanya aneh.
“Kenapa?”
“Kamu menuliskan cerita yang jorok-jorok, ya?”
“Tidak begitu,” aku menyanggah dan merasa perlu menjelaskan lebih lanjut.
“Pemahaman kita terhadap novel memang buruk sekali. Kalau sudah bicara tentang novel, seakan-akan yang diceritakan itu semuanya masalah jorok. Sebetulnya, tidak begitu. Aku tidak bakal menuliskan yang cabul kalau memang tidak perlu. Kalau nantinya memang dibutuhkan untuk mendukung kekuatan cerita, ya, aku tidak bisa menghindar.”
“Kamu menulis kehidupan nyata, ya? Maksudku, cerita yang benar-benar nyata?”
“Boleh juga kalau ada yang beranggapan begitu.”
“Berarti rumit, dong!”
“Tidak juga. Malah aku tidak suka yang rumit. Bukankah hidup ini sudah cukup rumit, untuk apa dibuat semakin pelik lagi? Aku lebih suka menulis hal biasa saja, apa adanya, tanpa berusaha menciptakan kesan luar biasa. Menurutku, novel itu harus sesuai dengan kenyataan yang ada, tidak sekadar menuruti selera murahan segelintir orang.”
“Wow!” serunya. “Kalaupun tidak terlalu mengerti, aku setuju sekali denganmu, Fais!”]
 Jika selama ini novel modern dan filsafat modern tampak seperti dua rel yang berjejeran, buku-buku semacam ini merupakan upaya segar mempertemukan keduanya, di mana kedua tradisi saling meminjam metode dan upaya kreatif mereka. Buku lainnya adalah Aspects of the Novel karya E.M. Forster.  Novel Arafat Nur ini juga menggambarkan banyak keheranan orang-orang Aceh, bahkan yang sudah terpelajar sekalipun dalam memandang aspek novel yang penuh cerita fiktif, khayal mengkhayal dan lucah. Arafat Nur telah menempatkan dirinya sebagai “truth teller” yang lihai dalam menyusun kata demi kata yang membentuk kalimat yang ajaib. Lihatlah bagaimana ia menuliskannya tentang ini:
[“Jadi, kamu ini wartawan, begitu?”
“Betul. Tapi, aku tidak sedang dalam urusan meliput berita, sekarang aku lebih disibukkan menulis novel ....”
“Novel? Wah, kamu suka mengkhayal, ya?”
Selalu saja aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menyebutkan kata “novel” sehingga aku harus memberikan keterangan tambahan dan berbagai penjelasan lain di seputarnya yang kuketahui lewat pengalaman membaca, sama sekali bukan teori—aku tidak paham kata rumit itu! Bukan maksudku ingin berterus terang, melainkan memang aku tidak tahu cara berbohong. Tidak ada alasan lain yang bisa kuutarakan untuk lebih meyakinkannya.
“Tidak juga,” kataku berusaha mengubah pandangannya. Tak penting lagi benar atau keliru. Dalam sastra yang paling penting adalah bagaimana mengutarakan alasan yang masuk akal. “Aku menuliskan berdasarkan pengalaman nyata,” lanjutku kemudian.]
Novel Arafat Nur ini sekali lagi membuktikan bahwa apa yang dikatakan George Orwell (1945) dalam Animal Farm, bahwa manusia hidup melawan penindasan totalitarianisme dan fasisme menjadi sesuatu yang niscaya. Dalam banyak hal, dua  buku itu bersinggungan satu sama lain dan terverifikasikan di dalam novel ini dengan dunia yang problematis; Aceh adalah dunia yang penuh dengan kesimpulan filosofis yang mendalam. Secara antropologis, manusia hidup dan mengembangkan kebudayaan berdasarkan responnya terhadap situasi yang ada. Jika Forster banyak bicara mengenai elemen-elemen novel, dalam beberapa tingkat nyaris teknis, buku Orwell lebih bersifat filosofis, terutama menyangkut novel modern.  Novel Arafat Nur menjadi cukup filosofis jika kita lihat Aceh dari kerangka konseptual George Orwell dan EM Forster.
Di Aceh, novel adalah barang langka. Tokoh Rohana atau Nana, dalam novel ini juga heran melihat Fais yang bekerja menulis novel. “Aku baru tahu kalau orang Aceh ada yang bikin novel!” (hlm. 121). Apa yang ditulis oleh Arafat Nur adalah sebuah “politics of truth” seperti George Orwell tulis dalam Homage to Catalonia (1938). Dalam konflik dan perang, novel yang jumlahnya lebih sedikit dari senjata, masih juga dianggap sangat berbahaya. Lihatlah bagaimana Arafat Nur menuliskan realitas politik kebenaran tentang hal ini:
[“Apa itu novel?” tanyanya dengan raut wajahnya yang sangat bodoh. “Rasanya seumur hidup aku belum pernah mendengar kata itu.”
Burung Terbang di Kelam Malam
Sadarlah aku kemudian bahwa terkadang benda itu sangat langka dan sulit ditemukan dalam masyarakat di sini. Mungkin dua tahun lalu—selagi perang masih berlangsung—bila ada orang yang menggeledahi rumah-rumah penduduk, mereka lebih mudah mendapati beberapa pucuk senjata api daripada menemukan sebuah novel. Bahkan, banyak orang terpelajar beranggapan bahwa novel lebih berbahaya daripada senjata. Benda itu dianggap dapat merusak akhlak, meracuni pikiran, dan menjerumuskan anak-anak pada perbuatan maksiat. Orang-orang cenderung mengenal novel picisan yang lumayan banyak beredar sehingga kemudian mereka menganggap semua novel sama saja.]
Novel sudah menjadi media baru, atau mungkin juga senjata baru, bagi masyarakat Aceh untuk menuliskan sejarah masalalunya; meninggalkan hikayat, prosa dan puisi lirih yang sangat terbatas baris dan sanjak. Bagi Arafat Nur, novel bukanlah domain khayal mengkhayal, melainkan workspace untuk melukiskan masa lalu yang sulit ditulis oleh skripsi, thesis atau disertasi sekalipun. Banyak tragedi Aceh yang tidak bisa ditulis dalam sebentuk buku, kecuali ada beberapa penulis yang sudah hilang urat takutnya dalam mengungkapkan tragedi Aceh (DOM, misalnya) di masa lalu. Novel modern adalah media baru yang tepat untuk menulis tentang tragedi Aceh yang sangat rumit dan problematis itu.
Sejarah adalah satu fakta, atau sesuatu yang dapat dibuktikan dengan fakta. Ilmuwan sejarah atau antropolog mau tidak mau terikat pada fakta-fakta yang pernah terjadi: dia tidak bebas dalam penggarapan bahan-bahan sejarah itu. Akan tetapi, seorang penulis novel sejarah dapat lebih bebas menciptakan ceritanya sendiri. Menurut Georg Lukacs (1963:53), novel sejarah ialah novel yang membawa masa lampau kepada kita dan membuat kita mengalami hakikat masa silam yang sebenarnya.[]