Sabtu, 01 Desember 2012

Orang Pesong dari Lampuki


Oleh Aham Mubary

Info Buku:
Judul: Lampuki
Penulis: Arafat Nur
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, Mei 2011
Tebal: 433 halaman
ISBN: 978-979-024-354-5

MALAM itu, sejenak sebelum pengajian usai, tiba-tiba seisi balai menegang. Seorang lelaki bersuara nyaring dan lantang berteriak-teriak mengucapkan salam yang seketika menyentak kami sekalian. Manakala dia muncul di pintu, sosok tegapnya segera menarik perhatian. Pandangan murid-muridku terpacak kaku, terpukau senyap manakala menatap rupa garang itu, serupa ketakjuban atau ketakutan mereka kala melihat hantu. Demikian kalimat pertama novel Lampuki pada subjudul Khotbah Berapi-api pada Larut Malam (hlm: 20).
     Mungkin tak akan pernah lekang dari ingatan, pada siapa saja yang merasakan kegetiran atau bahkan trauma masa silam yang buram. Ketika pada sebuah kampung rekaan bernama Lampuki; orang-orang yang menenteng senjata api, datang dan pergi menebar ancaman. Namun adakalanya kehadiran sosok-sosok orang pesong (gila) seperti di atas, kerap melentingkan kegigilan bagi anak-anak yang sedang menuntut ilmu agama di balai pengajian. Di Aceh, belajar ilmu agama di balai-balai pengajian atau meunasah (surau) sudah berjalan sejak lama. Nyaring pengajian anak-anak bagaikan dengung lebah yang membahana mengusir sepi malam.
      Pun ketika sepatu lars para serdadu pemerintah, kerap mengoyak jalanan kampung Lampuki di malam hari: Mereka semakin menebarkan kecurigaan, menuding, menuduh, mengecam, mengancam, mencecar, dan memaki-maki serupa kelakuan Ahmadi kala berang. Lalu, mereka menyatakan bahwa kampung ini menyembunyikan musuh negara. Sukijan semakin rajin mendatangi rumah-rumah sehingga aku pun tiada luput dari pemeriksaan.

Burung Terbang di Kelam Malam
   Novel Lampuki, yang memenangkan Anegerah Sastra Khatulistiwa 2010-2011 untuk kategori Fiksi, mencoba merekam hiruk-pikuk kecamuk kelam perang yang pernah menimpa Aceh. Sebelumnya, Lampuki juga menjadi pemenang unggulan dalam sayembara menulis novel Dewan Kesenian Jakarta, 2010. Sebenarnya, apa yang diapungkan oleh Arafat Nur, dalam Lampuki, bukanlah melulu perihal perang antara dua kekuatan; TNI/Polri di satu pihak, dan GAM di pihak lainnya. Namun lebih pada kelakuan segelintiran orang-orang pesong yang kerap dijumpai di Lampuki.
      Seperti yang ditulis di halaman 16: Terlalu banyak hal yang mengepung dan mengusikku di sini. Semula aku tiada menduga sama sekali. Benar-benar gila! Aku terperangkap, terjepit dan terpicit dalam persoalan yang membingungkan; terpaksa mengakrabi tingkah menyimpang orang-orang pesong yang dengan riang gembira terus saja berteriak-teriak memanggil bencana untuk lekas datang dan mengepung kampung celaka ini…
    Pengarang dengan sangat lincah berhasil membangun setiap karakter penokohan dalam Lampuki, melalui narator ‘aku’. Sebut saja misalnya kemunculan sosok Ahmadi yang berkumis tebal: … kumis tebalnya, yang bagaikan bulu ijuk itu, telah menebarkan keresahan di balaiku. Serupa kumis itu pula, wajah tirusnya amat dingin dan kaku; pancaran matanya tajam menilik sejumlah muka muridku. Aku bertanya-tanya, apa gerangan dia datang ke mari, dan hampir larut malam pula.
    Pengarang juga mencoba mengambil jarak dengan dua pihak yang saling bertikai, antara pemerintah dengan GAM. Narrator yang dipinjam oleh pengarang seakan berjibaku dengan psy war untuk saling “berperang” menjelaskan kebenaran mereka masing-masing. Yang satu ingin agar Aceh tetap bernaung di bawah Indonesia, sedangkan pihak pembangkang berkehendak agar Aceh terbebaskan dari Indonesia. Umumnya kisah berlatar konflik politik dan amuk perang, biasanya bermuara pada penyampaian pesan-pesan kemanusiaan. Dan ini pula yang banyak kita jumpai dalam Lampuki: … dia menuduh bahwa semua kaumku dan penduduk tanah ini adalah pemberontak, pembangkang yang suka menimbulkan kekacauan dan merongrong kedaulatan negara yang sah.
    Sudah tentu pendapatnya salah, sebab mereka yang duduk di pemerintahan sini juga orang Aceh. Mereka jelas bukan pemberontak, justru mereka kaki tangan pemerintah.
   Silat lidah ini sekilas menempatkan Lampuki menjadi “pengadil” bagi pembaca. Dengan narator yang tak segan-segan mengingatkan seperti seorang ibu yang perlu menasehati anak bocahnya yang nakal. Namun, secara umum, Lampuki sangat berhasil dalam menempatkan setiap diksi dan paradoksal antar tokoh, yang seakan-akan tidak pernah mau berhenti pada satu titik tertentu untuk mengurangi tensi ketegangan. Dengan pemilihan diksi yang cermat, bahkan cenderung memilih model penceritaan yang didaktif, membuat novel ini punya nilai lebih. Kendati pun berlatar sejarah kekerasan dan sosial di Aceh, namun tanpa ampun, pengarangnya juga mencomot nama sejumlah tokoh GAM seperti Hasan Tiro dan Ishak Daud, tanpa menggantinya dengan nama tokoh samaran.
   Sesungguhnya, apa yang disampaikan Lampuki adalah lebih dari sekadar satirisme realitas sosial dan kenelangsaan masyarakat Aceh yang pernah merasakan tersakiti saat dalam kecambah konflik kekerasan menimpa daerah itu selama tiga dasawarsa. Jika kemudian yang berkumis tebal adalah tipikal militansi dalam diri Ahmadi, dan Sukijan yang mencukur licin kumisnya merupakan perwakilan tentara yang menjaga keutuhan negara. Akhirnya kedua kutup ini harus memilih untuk saling berhadapan. Namun, di mana pun dan sampai kapan pun, perang memang tidak pernah menawarkan kemenangan bagi pemilihnya, meski terkadang dia tetap menjadi pilihan bagi segelintir orang-orang pesong seperti dalam Lampuki.[]