Sabtu, 19 Mei 2012

Semalam di Rumah Mantan Kombatan GAM

Oleh: Rizki Affiat
SAYA teringat novel Lampuki karya Arafat Nur yang secara satir berkisah tentang Aceh jaman konflik di Era Reformasi. Ahmadi, si tokoh fiksi di cerita itu, dideskripsikan sebagai kombatan berkumis dahsyat yang ideologis, tapi naïf, bebal, dan kampungan. “Ideologi” dalam kisah ‘perang’ Ahmadi digambarkan sebagai sesuatu yang jauh dan terpisah dari kehidupan dan penderitaan rakyat Aceh yang acapkali menjadi korban tak bersalah dari kedua pihak yang berperang.
      Novel ini menarik karena membuat kita tidak hitam putih dalam melihat konteks perang di Aceh. Tidak melakukan glorifikasi dan romantisme sejarah, melainkan melihat secara nanar dari sisi masyarakat. Novel ini melucuti kebanggaan dan kesombongan (yang seolah sama), membuat kita bercermin tentang apa sebetulnya segala argumen, alasan, dan tindakan dari sebuah gerakan perjuangan dan nyawa-nyawa manusia dalam perang.

Tapi bagaimanakah kita menarik garis yang proporsional antara ironi satir tragedi peperangan dengan glorifikasi berlebihan dari alasan perang yang mengarah ke chauvinisme?
        Membandingkan tokoh Ahmadi, yang sangat mungkin ada banyak jumlahnya, dengan Sang Mantan Kombatan dari Pasee atau Woyla – untuk sekedar dua contoh saja – dalam pengamatan saya yang prematur, mencipta diskontinuitas. Begitupun ketika saya coba membandingkan literatur dan referensi tentang para mantan kombatan yang telah berkuasa, kaya, dan dianggap melupakan masyarakat. Ada ‘sejarah kontemporer’ yang terpinggirkan dari narasi tentang konflik Aceh: para mantan kombatan yang setia pada alasan pertama mereka berjuang, tapi juga tetap setia pada konsensus perdamaian karena mematuhi instruksi.
       Dan setelah semua ini, sekian tahun ini, apa yang mereka dapatkan? Atau mungkin pertanyaan mereka bukanlah “apa yang kami dapatkan” melainkan “apa yang sudah rakyat Aceh dapatkan?” – dan pertanyaan terakhir itulah yang terlontar dari mulut-mulut mereka ketika saya temui.
        Usai lama berbincang, beliau pun meminta agar saya menginap satu malam di rumah sederhana milik beliau bersama istrinya. Sepertinya itu merupakan tradisi yang lazim untuk tamu bagi masyarakat Pasee. Saya pun mengiyakan, sementara sobat saya harus kembali ke kampungnya dan akan menjemput saya besoknya.
       Kepada sang istri, Sang Mantan Kombatan memperkenalkan saya sebagai orang dari Jakarta. Istrinya menghampiri saya dengan daster dan jilbab polosnya. Kami pun mengobrol-obrol saling memperkenalkan diri. Rumah pasangan itu begitu sederhana. Hanya ada satu kursi kayu panjang, satu kipas, satu televisi tua, dan mesin dispenser. Sang Mantan Kombatan memperlihatkan foto-foto anaknya yang terpampang di dinding lalu mempersilahkan saya duduk di kursi. Karena mereka duduk di lantai, saya turun dari kursi dan ikut duduk di lantai, tapi kemudian mereka menggelar tikar tipis untuk saya.
      Mereka menyambut saya dengan suka cita: karena tidak ada persediaan air, mereka menimba air ke sumur di rumah tetangga dan menampungnya ke beberapa ember. Setelah itu sang istri memasakkan sayur dan ikan goreng hasil melaut sendiri. Karena kamar untuk saya tidak ada lampu dan kasur, mereka memasang senter dan menggelar tikar serta matras tipis. Dengan ekstra kerumunan nyamuk yang cukup ganas juga di tengah cuaca panas, sang istri memasang kipas angin, obat nyamuk bakar dan menyediakan selimut, yang lalu saya gunakan sebagai alas tidur.
      Di kamar mandi lampu tidak menyala sehingga malam itu ember-ember berisi air sumur diletakkan di teras rumah. Sang Istri mencuci piring dan mandi dengan kain di teras rumah, sementara saya merapikan barang-barang saya di kamar.
       Makan malam bersama mereka dengan nasi dan suguhan lauk ikan berkuah serta ikan goreng menurut saya sudah sangat nikmat. Sepanjang malam saya menghabiskan waktu dengan Sang Mantan Kombatan dan istrinya, berbincang-bincang dengan mereka dan banyak merenung. Istrinya masih cenderung muda, namun sudah melahirkan 10 anak. Sang istri rupanya menikah pada usia 14 tahun. 
      Anak tertuanya sebaya usia dengan saya. Dengan kondisi seperti itu, saya takjub membayangkan bagaimana keluarga besar ini bertahan di tengah kemelut konflik. Rupanya, setelah beberapa saat mengobrol, si istri menaruh kepercayaan pada saya. Beliau bahkan meminta saya menemaninya dengan menginap beberapa hari lagi.(http://rizkiaffiat.wordpress.com/2011/08/11/semalam-di-rumah-mantan-kombatan-gam/)