Kamis, 05 Juli 2012

Lampuki, Deskripsi Tentang Roman Muka Kita

Oleh: Musmarwan Abdullah

Pendahuluan
“Siapa yang berani mengejek orang Aceh?” Kalimat ini terdengar angkuh. Apalagi diajukan dalam sebuah forum resmi seperti ini; sebuah forum yang tak terpikir sebelumnya untuk ikut terkontaminasi dengan hal-hal picik seumpama prasangka etnik, rasial, dan kedaerahan.
Hingga sejauh ini, baik di pidato-pidato perseorangan, forum-forum resmi, media massa, apalagi dalam sebuah karya monumental semisal karya sastra—puisi, cerpen dan novel—belum ada seorang pun, atau sekelompok orang di Indonesia yang punya kenekatan mengungkapkan sesuatu tentang Aceh melalui bahasa yang miring, ironis, miris, dan penuh satir bahkan ejekan.
Jawa, orang Jawa dan sejumlah seluk kebudayaannya pernah dihantam oleh gaya satir yang penuh perendahan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam tetraloginya; Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca.
Ada semacam analogi yang berkembang di tataran para pegiat sastra di Aceh pascakonflik (berakhir 2005), bahwa jika ada penulis yang berani berkarya dengan tema sarat pelintiran terhadap Aceh, orang Aceh dan segenap sisi kebudayaan Aceh, maka kasus Salman Rusdy—yang tak bisa lagi hidup tenang setelah menerbitkan novel Ayat Ayat Setan yang menghina tokoh panutan Islam dan kemudian menimbulkan kemarahan tokoh spiritual Iran—akankah terulang di Indonesia?
Maka tak ada seorang novelis pun yang berani mengambil risiko ini di Indonesia untuk berbicara sevulgar yang mereka mau terhadap Aceh. Kendati, berdasarkan sejumlah perbincangan pribadi penulis dengan sejumlah pesastra di luar Aceh, mereka memendam pertanyaan dan penasaran terhadap sejumlah hal yang bersifat jungkir-balik antara idealisme dan fakta yang berbicara di tataran kehidupan sehari-hari. Misalnya antara keacehislaman dan ganja, antara Aceh dan dunia kemafiaan di Jakarta serta sejumlah daerah lain di Indoneisa, seperti di Batam, Kepulauan Riau, misalnya. Dan sejumlah perkara lainnya yang bersifat membingungkan antara idealisme keacehan dan yang bertentangan dengannya.
Tapi apa boleh buat. Lampuki telah melakukan itu.
Perspeksi Lampuki
Adalah suatu ketidakikhlasan yang terjadi pada para kritikus sastra dan pengamat serius kesusastraan, baik di tataran dunia, Indonesia, apalagi Aceh, yaitu ketika mereka—sepertinya—tidak mampu untuk tidak mengaitkan isi sebuah novel dengan fakta yang terjadi pada diri atau di lingkungan pengarang novel  tersebut.
Begitu juga dengan para pengarang novel; adalah suatu kasus keterjeratan mental yang terjadi pada mereka dari zaman ke zaman, baik di tingkat dunia, Indonesia, apalagi Aceh, di mana mengarang sebuah novel seakan-akan adalah sebuah proses pemindahan fakta sejarah, lingkungan atau keseharian yang terjadi di seputar dirinya dalam suatu format prosais yang penuh dengan deskripsi-deskripsi dan dialog-dialog.
Dua kenyataan tersebut telah membuat dunia sastra berjalan tersaruk-saruk hingga tidak mampu melesat menuju ke suatu format sastrawi paling mutakhir yang akan mengubah cara pandang kita terhadap dunia dan kehidupan dengan sistem persepektif yang baru dan mencerahkan.
Agaknya perkembangan sastra abad XVIII di Eropa mampu berjalan seiring menyaingi lesatan kemajuan sebagaimana yang terjadi di dunia tekhnologi informasi, elektronik, permesinan, kedokteran dan lain sebagainya. Tapi sekarang sastra jauh tertinggal dari kemajuan dunia di bidang lainnya.
Di perlombaan-perlombaan sastra dunia selama ini yang ada hanya kemenangan-kemenangan. Namun tak ada satu pun dari hasil kemenangan itu yang mampu mengeksplorasi tatanan dunia dari zaman ke zaman dan dari berbagai kebudayaan yang telah ada hingga tatanan dunia baru saat ini ke dalam suatu cara pandang yang diperbaharui.
Namun sedikit banyak Lampuki telah mulai melakukannya. Contohnya, jika ada pertanyaan, apa pendapat Anda tentang perang? Maka jawabannya adalah, tanyakan pendapat itu pada seorang teungku yang kesehariannya sebagai seorang tukang bangunan upahan dan malam-malamnya diisi dengan aktivitas mengajar mengaji pada anak-anak bengal di lingkungannya. Jika pun Anda ingin mendapatkan sebuah jawaban yang sangat persis terhadap, “Apa pendapat Anda tentang perang?” mungkin jawabannya sangat sederhana, yakni, “Perang adalah sejumlah tumpuk tahi ayam di atas balai-balai kayu tempat anak-anak nakal diajari mengenal Tuhan.”
Penyederhanaan definisi perang yang seperti itu tak pernah dimiliki oleh pemikiran-pemikiran sastrawi mana pun di dunia ini. Begitu juga ketika kita bertanya, “Apa itu serdadu?” Maka Lampuki menjawab, “Serdadu adalah sekelompok komunitas manusia kera yang telah diajari memegang senjata.” Maka jangan pernah mau menjadi serdadu jika Anda yakin bahwa Anda bukan manusia keturunan kera.
Thesis seperti itu, dalam perjalanannya kelak, akan mempengaruhi suatu tatanilai atau perspektif baru bagi dunia untuk memperbaharui cara pandang kita, betapa untuk sebuah persaingan, dalam hal apapun, kekerasan bukan lagi penentu kalah-menang.

Satir Lampuki
Bagaimana mempersandingkan tingkat kemajuan di bidang hal-hal yang bersifat material seumpama dunia tekhnologi dengan sastra yang pada hakekatnya adalah dunia absurd, di mana efek dan eksistensinya hanya dapat diraba melalui pikiran, perasaan, dan kesan.
Dan ternyata bisa. Seorang anak yang belum mampu mengucapkan kata panas atau terbakar, hanya mampu bergidik dan menunjukkan tanda-tanda fisik yang bermakna kengerian apabila berhadapan langsung dengan api. Fisiknya belum bisa memberi reaksi serupa apabila efek api disampaikan dalam wujud perlambangan bahasa. Ini menunjukkan betapa sebuah benda baru berarti sesuatu bilamana dibahasakan.
Tekhnologi tinggi seperti sekarang ini hanya mampu dicapai ketika kata sudah mampu memperlambangkan segala kerumitan yang ada pada dinamika dunia kemateriaan. Bangsa yang tidak kreatif tidak memiliki banyak kosa kata dalam budaya tutur keseharian mereka. Dengan demikian, kemajuan di segala bidang berangkat dari kemajuan berbahasa.
Bahkan sesuatu yang tidak bisa kita lihat, apalagi diraba, namun ketika bahasa merangkai suatu pencitraan terhadapnya maka mahamisteri itu pun menjadi begitu ada dan bahkan lebih adanya dibandingkan wujud-wujud benda di sekeliling kita. Itulah—melalui thesis sifat-20 atau diagram pembahasaan lainnya—subtansi ilahiah menjadi begitu mewujud bahkan di kedalaman sanubari terjauh para pengaku atheis sekalipun.
Persoalan Aceh dan Jakarta yang demikian rumit dalam tatanan keindonesiaan bahkan menelantarkan waktu nyaris setengah abad untuk menemukan titik terang dan penyelesaian, ternyata di dalam Lampuki wujud kemusykilan itu menjadi begitu sederhana; dan sekiranya dari dulu kita mendalami hakekat itu mungkin tak perlu ada yang namanya permusuhan Aceh-Jakarta, apalagi semua itu harus ditandai dengan keyatiman-keyatiman yang tak terperi di kedua belah pihak dan kesedihan panjang yang senantiasa menggerayangi sekat tipis dendam.
Apa perspektif Lampuki dalam konteks permusuhan antardua kepentingan yang saling berseberangan hingga mesti ada yang namanya Tahun Tahun Pembantaian segala? Jawabannya sederhana. Di satu pihak, orang terlalu yakin dan nyaris memaksa seluruh standar pengakuan dunia bahwa dia terlalu tampan dengan format hidungnya yang samasekali tidak mancung itu. Sementara di lain pihak, orang terlalu meletakkan segala pertaruhan eksistensi dirinya pada sekecai kumis yang tebal.
Birama dan Narasi Lampuki
Lampuki adalah sebuah novel; secara umum disebut karya sastra. Kesusastraan sebagai bagian dari produk seni, bertujuan utama menghibur. Efek utama yang timbul dari sebuah aktivitas penghiburan adalah rasa bahagia. Kebahagiaan, yang dalam arti kata lebih dari hanya sekedar rasa senang ketika membaca sebuah karya sastra, bisa ditimbulkan oleh sejumlah sebab, di antaranya:
1. teks mampu menimbulkan langgam birama yang berstruktur berdasarkan budaya berbahasa para pembaca. Ini dapat kita lihat dalam sistem bahasa berpantun di tengah penutur Melayu; walau dari sisi rangkaian teks tidak bermakna sesuatu, namun tetap menyenangkan untuk diucapkan sebagai bagian dari pemberian jatah bagi ekspresi jiwa manusia yang pada dasarnya adalah makhluk besuara dan berbahasa.
2. Setiap kalimat mampu mencerminkan watak bernarasi orang pada umumnya. Kita ambil contoh, betapa orang setengah memaksa diri membaca sebuah artikel ilmiah; semata-mata karena mereka membutuhkan apa yang ada dalam artikel tersebut; dan setelah itu mereka puas karena sudah mendapatkan sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui.
Namun, jujur atau tidak kita harus mengakui bahwa jiwa kita baru saja didera dan kita merasa sangat lelah karena sistem penyampaian dalam artikel, karya ilmiah, reportoar dan bentuk penulisan dalam berbagai karya nonsastra lainnya tidak mencerminkan watak bernarasi pembaca.
Kita ingat ketika Umar bin Khataab As tersentak kaget tatkala suatu malam mendengar adik perempuannya membaca Alquran. Dia mengerti pada semua yang dibaca adiknya karena memang itu ditulis dalam bahasa tutur mereka, namun yang membuat dia tersentak, kenapa serangkaian kalimat tersebut memiliki suatu sistem pembahasaan yang sangat beda dengan bahasa yang telah mereka gunakan berabad-abad.
Dengan demikian kita tarik suatu kesimpulan, tidak ada titik terminasi dalam berbahasa kendati kosa kata masih yang itu-itu juga. Selalu ada ruang kosong untuk diisi dengan kreativitas terbaru demi mengeksplorasi segala wujud ide yang sebelumnya hanya terbenam di wilayah terdalam kecerdasan manusia yang tidak terungkapkan lantaran belum menemui rangkaian pembahasaan untuk mengekspresikannya.
Kita teringat pada Galileo Galilei yang membumikan ilmu pengetahuan hasil penelitiannya tentang angkasa luar dengan bahasa narasi, bercerita dan berdialog; dan betapa setelah itu berpikir ilmiah menjadi langgam berpikir masyarakat setempat kendati sang individu hanya seorang petani yang nyaris saban waktu berada di tanah perladangannya.
Begitu juga beragam teori filsafat yang umumnya berbasis kerumitan yang tak mungkin dicerna oleh masyarakat awam, namun ketika Jostein Gaarder mengkreativitaskan pemikiran-pemikiran rumit itu dalam Dunia Sophie, sebuah novel Norwegia, maka teori filsafat yang pada mulanya hanya menjadi bahan kajian di tataran akademik, sudah mampu dicerna oleh remaja sekolah menengah dan orang-orang dengan tingkat pendidikan biasa.
Langgam birama yang terstruktur dan watak bernarasi tersebut sangat kental dimiliki Lampuki.
Keutuhan Sastrawi Lampuki
Karya sastra yang tidak mengambil jarak pencinptaan dengan pribadi dan lingkungan pengarang akan cendrung menimbulkan tiga kesan berbeda pada tiga komunitas pembaca.
1.            Pembaca yang mengenal persis pengarang atau latar-belakang setting cerita cendrung mengapresiasi karya tersebut dengan sikap mental sebagai seorang pembaca berita;
2.            Pembaca di luar lingkungan itu, atau yang mengenal latar-belakang setting cerita hanya dari berita, baik berita tertulis (koran) atau audio (radio) dan audio visual (televisi), akan mencerap isi karya tersebut secara lebih utuh sebagai buah sastrawi;
3.            Sedangkan pembaca asing yang samasekali tidak mengenal latar-belakang serta kebudayaan setting cerita akan sepenuhnya mampu mencerap karya tersebut sebagai sebuah karya sastra yang utuh dan total.
Pembaca Lampuki dari Lokseumawe atau Aceh pada umumnya akan mengesani Teungku Pengajian, Ahmadi, serdadu dari pulau seberang dan—yang terpenting—perangai dan watak kolektif warga Kampung Selangkangan, sebagai sebuah cermin yang memperlihatkan kepada mereka akan kerumitan wujud diri sendiri yang sebelumnya tenggelam di bawah tindihan kejumudan perihal utama sehari-hari hingga jarang menjadi buah pikiran untuk diinsafi, disadari atau untuk diketahui.
Subtansi Lampuki bagi orang Lhokseumawe dan Aceh adalah sebagai pengabar yang sehabis melakukan liputan di wilayah diri sendiri orang-orang Aceh, lalu menuliskan dalam wujud berita, bahwa inilah Anda dan yang terjadi pada diri Anda waktu itu, dan bahkan kini, malah bukan tidak mungkin hingga nanti, atau inilah kita yang sesungguhnya.
Sedangkan bagi pembaca di luar lingkungan dan asing akan mampu mencerap Lampuki sebagai sebuah karya sastra yang utuh dan berdiri-sendiri. Misalnya, tanpa harus menyebut Aceh, Jawi, Jawa, seberang pulau, Jepang, Belanda, Hasan Tiro, pembaca juga mampu menikmati Lampuki sebagai sebuah jalinan yang kusut-masai antara si arogan yang tidak tampan, si tampan yang menjengkelkan, dan sebuah komunitas kecil yang kerukunannya justru terbentuk berkat pengedepanan sinisme, kedengkian, iri dan saling membenci serta konflik politik dan peperangan yang begitu mengerikan namun begitu bersahaja dalam deskripsi seorang guru mengaji.
Dalam konteks keacehan dan keindonesiaan, jika Anda bertanya, apa itu Lampuki? Jawab: Lampuki adalah deskripsi sastrawi tentang struktur roman muka kita yang tak mungkin kita terima dengan senang hati, namun sanubari memaksa kita untuk menerima fakta yang ada bahwa kita sesungguhnya tak lebih sebagai salah satu bagian dari sebuah komunitas “sakit” dengan kerukunan antarsesama yang dibentuk justru berdasarkan kemesuman, dengki, dan kebencian. Lampuki, memang unik!
*Musmarwan Abdullah adalah cerpenis, jurnalis, dan pengamat sastra yang tinggal di Sigli, Pidie. Dia merupakan pembaca "maniak" karya klasik Eropa dan karya-karya sastra modern dunia.