Rabu, 05 September 2012

5 Buku Pilihan


Lampuki karya Arafat Nur adalah sebuah narasi satir dari tanah rencong yang ditulis oleh “anak segala bangsa” Aceh sendiri. Kisah kisah tentang suasana serambi Mekkah di tahun tahun pembantaian dan tahun tahun perlawanan, dilukiskan oleh penulisnya dengan untaian kalimat yang bernas dan cerdas memilih milih kata. Suasananya serasa hidup. Buku ini juga tak kehilangan selera humor tatkala bercerita ihwal apapun, terutama tentang Ahmadi si kumis tebal yang menjadi pusat cerita.

oleh Asep duninov Ar

Saya menulis catatan ini persis di hari pertama bulan terakhir, Desember 2011. Warsa yang sebentar lagi pamit, berganti dengan tahun yang baru dan tentu saja dengan harapan harapan baru yang lebih baik. Yang bolong bolong diperbaiki. Yang sudah bagus ditingkatkan. Target target ditetapkan dan lantas dilambungkan agar kualitas hidup semakin mendaki menuju-meminjam jargon 1960an-progresif revolusioner.

Hidup memang mesti terus berjalan kendati banyak aral melintang di sana sini. Sebab kata Nietsczhe, seorang filsuf dari tanah Bavaria, pernah berujar bahwa dengan menanam harapan-lah manusia bisa bertahan hidup. Adanya harapan memberi motivasi kukuh nan tangguh bahwa hidup harus terus diperjuangkan, dicari celah celahnya sembari tak lupa bahwa dunia bukanlah terminal akhir dari sebuah episode panjang bernama kehidupan.

Nun katanya menurut kitab suci, bahwa ada hidup setelah buana ini tamat. Kehidupan yang teramat kekal dengan Tuhan semesta alam sebagai pemilik-Nya. Maka, pergantian tahun mesti dimaknai sebagai medium melihat kembali kedirian dan kemanusiaan kita di tahun tahun yang telah berlalu. Meminjam istilah yang hampir klise adalah sebagai sarana introspeksi diri apa yang telah dilakukan. Masih bengkok bengkok-kah, sudah luru tapi masih bentur bentur ke sana ke mari dan lain sebagainya. Bukannya malah menghabiskan pergantian tahun dengan sesuatu yang tak jelas.

Duh, dari tadi ngelantur kemana mana. Oke, kembali ke laptop. Nah, di hari pertama Bulan Desember ini saya hendak menyuguhkan kesan saya tentang sejumlah buku yang pernah dibaca di tahun 2011. Tentu versi saya. Memang cenderung subjektif. Tapi mau gimana lagi. Kalau mau, silakan tulis sendiri buku buku pilihan versi kalian masing masing.

Sudah barang tentu masih banyak buku buku bagus diluaran sana yang terbit pada tahun ini. saya membatasinya pada buku buku yang saya beli. Kenapa buku bagus yang lain tak dibeli? Alasannya tentu saja klasik: duit. Maklum sudah ada tanggungan yang mesti dinafkahi dan mesti berbagi dengan kebutuhan ini dan kebutuhan itu.

Buku buku yang saya tampilkan semuanya berbahasa Indonesia, lintas genre, dan ragam topik yang menjadi antusiasme saya dalam memilih milih buku bacaan. Saya makin sadar bahwa banyak membaca menambah keyakinan saya bahwa saya ini masih bodoh dan mesti banyak belajar. Benarlah apa yang pernah diucapkan oleh baginda Rasullullah bahwa menuntut ilmu itu dari buaian sampai liang lahat. UNESCO menerjemahkannya sebagai long life eduacation.
Buku buku ini tak diberi peringkat. Saya mengurutkannya menurut waktu terbit.

Pesan Pesan Islam: Rangkaian Kuliah Musim Semi 1953 di Cornell University, oleh Hadji Agus Salim
Sungguh amat disayangkan kalau melewatkan buku ini dan tak tersimpan dalam rak buku. Sebuah koleksi istimewa tentang percik percik pemikiran salah seorang founding fathers negeri ini. Hadji Agus Salim. Intelektual cum aktivis. Diplomat ulung, pendebat yang canggih, pendidik yang membebaskan. Tak lupa, ia seorang poliglot. Piawai dalam sejumlah bahasa.

Pendidikannya hanya sampai HBS. Ia tak jadi melanjutkan pendidikan dokter ke Belanda dengan menampik beasiswa yang diperjuangkan oleh Kartini. Agus Salim muda merasa, ia tak dihargai kemampuan otaknya sebagai lulusan terbaik HBS di tiga kota. Lantas banting setir bekerja di konsulat jenderal Belanda di Jeddah, Saudi Arabia sembari memperdalam ilmu agama pada Syekh Ahmad Khatib.
Buku ini adalah sebuah documenta historica tentang pemikiran seorang cendekiawan muslim di awal awal republik ini berdiri. Atas kesempatan yang diberikan oleh George Mc Turnan Kahin, seorang Indonesianis yang simpati pada perjuangan kemerdekaan Indonesia, Haji Agus Salim memberikan kuliah tentang Islam selama hampir enam bulan di sebuah universitas ternama di Amerika Serikat, Cornell University.

Haji Agus Salim memberikan pandangan tentang Islam sebagai sebuah agama yang terbuka, ramah, dan demokratis. Bukan sebuah agama yang sempit, penuh hunusan pedang, dan menerbitkan ketakutan.
Saya kira ini adalah sebuah buku yang wajib dibaca oleh siapa saja yang meminati pemikiran tentang Islam dari seorang cendekiawan papan atas yang pernah dipunyai oleh Indonesia. Dan Haji Agus Salim bukan hanya pandai berkata kata, ia juga berhasil menumbuhkan laku asketis tentang arti perjuangan. “Berjuang adalah menderita”

Bayang Bayang Tuhan: Agama dan Imajinasi, oleh Yasraf Amir Piliang
Entah kenapa, sejak mengenal buku buku pak Yasraf di awal awal tahun 2000-an saya bertekad untuk selalu membeli buku bukunya, walaupun saya akui tak mudah untuk memahami pemikiran pemikiran pak Yasraf yang sering didaulat sebagai pemikir kebudayaan kontemporer. Di satu pelatihan tingkat nasional saya pernah mengikuti ceramah pak Yasraf dan mendapat kesan bahwa memang cerdas orangnya.

Dalam buku ini pak Yasraf banyak menelaah tentang agama dan kelindannya tentang fenomena kebudayaan populer. Dan agama termasuk institusi yang diterjang oleh wabah atau virus popularitas. Dengan mudah dapat kita saksikan bagaimana sebuah ritual agama yang semestinya sakral, jauh dari hingar dan bingar nyatanya dibungkus oleh wadah yang manipulatif. Sehingga yang didapat adaalah kesan seolah olah. Seolah olah saleh. Seolah olah dermawan. Seolah olah baik. Seolah olah ramah. Dll

Mungkin itulah yang disebut sebagai pencitraan. Dan media massa ikut bertanggung jawab atasnya.
Walau terkesan berat, buku pak Yasraf selalu menyediakan glosarium istilah istilah yang sulit dipahami. Ini membantu pemahamam awal tentang konsepsi yang dibicarakan oleh penulis. Dan saya hanya bisa berkata…bacalah buku ini agar otak anda terus subversif sebagai upaya menangkal citraan citraan yang diselusupkan secara halus lewat varian media apapun.

Lampuki, Oleh Arafat Nur.
Buku ini sebuah narasi satir dari tanah rencong yang ditulis oleh “anak segala bangsa” Aceh sendiri. Kisah kisah tentang suasana serambi Mekkah di tahun tahun pembantaian dan tahun tahun perlawanan, dilukiskan oleh penulisnya dengan untaian kalimat yang bernas dan cerdas memilih milih kata. Suasananya serasa hidup. Buku ini juga tak kehilangan selera humor tatkala bercerita ihwal apapun, terutama tentang Ahmadi si kumis tebal yang menjadi pusat cerita.

Ahmadi, seorang “pemberontak” dengan kumis tebal melintang seolah menjadi momok bagi prajurit prajurit dari tanah seberang yang menguras bumi serambi mekkah sembari membuka selangkangan perempuan perempuan yang konon kabarnya banyak yang mempunyai nama cut.

Ahmadi dari Lampuki, selalu meresahkan legiun legiun daratan seberang yang terkenal medok. Ia, dengan dibantu-istrinya-Halimah dengan sesuka hati memungut pajak dari penduduk pribumi guna menyokong perjuangannya. Eh..eh..eh..Tak dinyana Halimah tergoda oleh anak bau kencur bernama Jibral Si Rupawan.
Ah, saya bukan pengamat dan kritikus sastra yang hebat. Lagi lagi saya mesti berucap klise: Bacalah novel bersampul merah menyala ini. Oh, ya. Novel ini baru saja diganjar penghargaan Khatulistiwa Award.
Sebentar, saya mau sholat dan mandi dulu. Tersisa dua buku lagi. Yuk..Mari.

Garis Batas: Perjalanan di Negeri Negeri Asia Tengah, oleh Agustinus Wibowo
Saya kira buku ini adalah sebuah anomali di tengah limpahan buku buku bertema backpacker-travelling yang isinya nyaris seragam: berangkat pake peswat apa, cara beli tiketnya bagaimana, tempat makan yang enak dimana, lokasi hunting foto yang selanjutnya bisa dipamerin di facebook yang bagus dimana, kira kira habis berapa, dan tetek bengek lainnya. Membanjirnya buku buku tersebut mengakibatkan backpacking hampir menjadi sebuah budaya massal yang dapat secara mudah diperagakan oleh siapa saja, termasuk barisan ababil yang gemar menenteng dslr…hehehehe…

Ya, tidak salah memang jika hobi membaca buku buku yang begituan. Hanya saja kurang greng gitu loh kalau hanya baca buku cara cepat, cara sukses. Padahal esensi terpenting dari sebuah backpacking adalah seni dari sebuah perjalanan itu sendiri yang dipenuhi kejutan kejutan, keterdugaan, dan hal hal yang bisa membuat ternganga dan tak percaya bagi si pelakunya. Dan sang penulis, Agustinus Wibowo, sukses melakukannya.

Ia berpetualang ke negeri negeri yang tak bisa dikunjungi oleh backpacker bahkan rombongan tour and travel dari Indonesia. Negeri negeri yang berakhiran Stan. Tajikistan, Kirghistan, Kazakhstan, Uzbekistan, dan Turkmenistan. Sejumlah tempat yang cukup “buta” untuk dijelajahi. Biasanya, seksi buku travelling menyediakan judul judul buku seperti 2 juta ke Malaysia, Thailand, Singapore. Hemat ke Eropa, dan semacamnya.

Agustinus Wibowo tak menyediakan hal hal remeh temeh itu. Ia bahkan lebih dalam, secara menukik dan menyelami suasana sosial dan kultural penduduk di negeri negeri tersebut dengan segala kekurangan dan keekstrimannya. Apa yang dilukiskan oleh penulisnya sungguh “basah”. Kita seolah olah diajak untuk ikut merasakan petualangan yang dialaminya. Sekali lagi, iqra haadzal kitaab.

Jurnalisme dan Politik di Indonesia: Biografi Kritis Mochtar Lubis (1922-2004) sebagai Pemimpin Redaksi dan Pengarang, oleh David T. Hill
Mochtar Lubis saya kira punya tempat tersendiri dalam horizon pers dan kesusateraan negeri ini. Maka tak heran jika seorang David T. Hill rela selama berpuluh tahun menekuni sosok yang besar di tanah pers juga tak kurang terhormatnya di jagad sastra. Koran Indonesia Raya adalah buahnya di dunia pers, dan deretan novel sebagai bukti kuat kepengarangannya.

Terus terang saja saya masih menghanca buku ini. Baru setengahnya saya baca. Ditulis layaknya sebuah biografi yang didahului dengan kehidupan masa kanak kanak Mochtar Lubis di tanah Minang, lalu menyeberang ke daratan sebrang Jakarta.

Di tanah perantauan inilah ia menjejakkan dan mendedikasikan hidupnya dalam dunia jurnalisme dan kepengarangan. Berkali kali ia berbenturan dengan kekuasaan. Di bawah dua orde ia mencecap pahitnya sebuah kuasa yang ditancapkan dengan setajam tajamnya.
“anak rohani”nya yang bernama Indonesia Raya tamat di awal awal orba mengukuhkan taringnya. Dan kasus Pertamina adalah pemicunya.(kompasiana)