Sabtu, 15 September 2012

Lampuki: Kumis, Pesek, dan Pesong


Arafat Nur di halaman DR Sutomo, Jakarta
Oleh: Bustami Bin Arbi

JUJUR SAJA, saya bukanlah sejenis orang yang maniak membaca, apalagi untuk karya sastra berupa novel yang tebalnya sampai lima ratusan halaman. Tapi membaca Lampuki karya Arafat Nur itu jadi kepayang. Baru membaca bab pertama saja, saya langsung ingin segera melahapnya. Tulisannya sangat berani, menelanjangi yang dulunya tertutup. Buku setebal 433 halaman itu pun saya khatam dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. 
Teungku Muhammad-tokoh dalam cerita adalah penutur cerita yang bijak dan objektif. Bahasa Teungku Muhammad terasa sangat dekat dan akrab dengan keseharian masyarakat Aceh jamaknya. Bicaranya tegas dan lugas. Namun bagi sebagian orang yang tak terbiasa dengan bahasa demikian, Teungku Muhammad yang guru ngaji itu tentu dianggap kasar dan tak sopan.
Teungku Muhammad bukan guru ngaji yang sekaliber ulama besar, bukan pula perantau yang sering menjumpai berbagai wajah orang. Pesek, kata itu sering disebutnya untuk serdadu pemerintah yang sering melampiaskan kegeramannya pada masyarakat saat gerilyawan menyerang pos pengamanan. Maka jangan heran, tiga kata di atas; kumis, pesek, dan pesong banyak dijumpai dalam tutur katanya.
LAMPUKI
Cuma serdadu-seradadu itu yang dilihatnya kebanyakan berhidung  pesek. Maka ia pun menyebutnya asal. Selain itu mayoritas orang Aceh lebih suka menyebut nama orang dengan sebutan tertentu, seperti untuk yang kumisnya lebat dangan sebutan Si Kumis atau si Jibral yang rupawan. Begitu pula sebutan pesong. Jadi sebutan itu bukan barang aneh untuk orang seperti Teungku Muhammad yang hidup di kampung.
Arafat Nur
Membaca Lampuki, Arafat Nur mengajak pembaca untuk mengingat peristiwa masa suram saat Aceh bergejolak. Memang dari setiap kejadian memilukan itu juga ada kisah tawa bagi korban hidup setelahnya, seperti yang terjadi setelah Waluwo dan anak buahnya menghantam dan menggiring warga seperti kawanan ternak ke Meunasah untuk diberikan penyuluhan ala budak oleh tentara-tentara kiriman pemerintah itu.
Lampuki menghadirkan tokoh cerita yang manusiawi. Misalkan Ahmadi atau Si Kumis Tebal yang mantan berandal itu kemudian berpangkat Panglima Sagoe memiliki keberanian, tapi disisi lain dia juga pengecut. Begitu pula serdadu-serdadu yang memburu pemberontak, ada sisi baik dan buruknya. 
Novel itu lebih menggigit saat  menceritakan dengan gamblang bagaimana  transaksi bisnis ganja, pengutipan pajak nanggroe dan bisnis senjata begitu merajalela saat Aceh berkecamuk. Selain itu, juga dibumbui cerita tentang hubungan gelap istri Ahmadi dengan Jibral dan Laila dengan Paijo. 
 Lampuki, cerita fiksi sekaligus bisa jadi rujukan untuk lembaran yang tak direkam dalam buku-buku sejarah. Sebagai orang yang pernah merasakan hidup di tengah kekacauan politik Aceh, apa yang diceritakan itu memang benar adanya. Buku ini menambah nikmat pembaca yang menyukai gaya penulisan Bahasa Indonesia bergaya Indonesia bagian Sumatera. Selamat untuk Bang Arafat Nur!(rameunee stories)
Meulaboh, 13 Sep 2012