Minggu, 28 Oktober 2012

Potret Perjuangan Aceh dalam Lampuki

 oleh Edy Nugraha

Lampuki by Arafat Nur
Pendahuluan
Sastra tak jatuh dari langit, tetapi diciptakan untuk dinikmati masyarakat. Sastrawan, selaku pembuat karya tidak serta merta mendapat ilham langsung untuk menulis. Bisa jadi, seorang pengarang terpengaruh lingkungan sekitarnya dalam menghasilkan sebuah karya, atau mungkin pengarang mencoba memotret realitas yang ada di sekitarnya. Sebagaimana yang dikatakan Greibstein yang dikutip oleh Sapardi (2005: 5) bahwa: “karya sastra tidak dapat dipahami selengkap-lengkapnya apabila dipisahkan dari lingkungan atau kebudayaan atau peradaban yang telah menghasilkan”. Pemotretan realitas oleh pengarang bisa dalam berbagai hal termasuk kondisi politik maupun sejarah di sekitarnya. Selain itu, menurut Taufik Abdullah yang dikutip oleh Maman S. Mahayana (2007: 300) mengatakan bahwa suatu karya sastra atau novel dapat memperlihatkan suatu struktural dari situas historis tertentu dari lingkungan penciptanya. Salah satu pengarang yang melakukan potret sejarah atas realitas di lingkungannya adalah Arafat Nur. Dalam novel Lampuki, Arafat Nur mencoba memotret realitas yang ada di Aceh tentang pergerakan kaum separatis Aceh.

Gambaran tentang Arafat Nur dan Novel Lampuki

Arafat Nur lahir di Lubuk Pakam, Sumatra Utara, 22 Desember 1974. Arafat Nur mulai serius mendalami bidang sastra terutama puisi dan cerita pendek sekitar tahun 1997, tapi sebelumnya sudah mulai menulis berupa puisi dan cerpen anak-anak. Dia besar di dalam kota Aceh. Dia menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di Peureulak dan SLTP di Idi Rayeuk. Kelas tiga SLTP pindah ke Meureudu dan menamatkan SMA di Meureudu. Dia pernah jadi tenaga pengajar di Dayah Babussalam (1992-1999) dan menjadi pegawai honorer SMU Meureudu-Aceh Pidie (1994-1999). Kemudian, dia pindah ke Lhokseumawe bekerja sebagai jurnalis. Dia dipercaya sebagai Ketua Devisi Sastra pada Yayasan Ranub Aceh (KRA).
Lampuki rupanya novel yang mumpuni. Sebab, novel ini merupakan pemenang unggulan menulis novel Sayembara Dewan Kesenian Jakarta Tahun 2010. Pengarang dari novel ini adalah Arafat Nur. Novel ini menceritakan tentang Ahmadi, orang berkumis lebat yang disegani oleh orang-orang di Kampung Lampuki.Lampuki adalah sebuah kampung yang terletak di bagian utara privinsi Aceh. Diceritakan bahwa Lampuki adalah daerah yang tertinggal. Dia berjuang untuk melakukan pemberontakan terhadap negaranya karena menyangka bahwa daerahnya harus merdeka. Dia merasa bahwa para tentara yang ada di daerahnya adalah suruhan penjajah, dan penjajah yang dimaksud ada di seberang sana. Ahmadi berupaya menggaet beberapa anak-anak dan pemuda untuk berjuang dengannya. Dibantu oleh istrinya, Ahmadi juga meminta pajak kepada warga Lampuki untuk perjuangannya. Pada akhirnya, terjadi pecah perang dan banyak puluhan ribu nyawa mati. Pasukan militer pemerintah mencoba mencari pasukan gerilyawan Ahmadi. Pasukan Ahmadi lari ke kampong Atas dan akhirnya, terdengar letusan senjata yang meletup-letup.

Pergerakan Ahmadi sebagai Potret Realitas Pergerakan Separatis di Aceh

Dalam novel ini pengarang mencoba menggambarkan realitas yang ada perihal separatis di Aceh. Yang dimaksudkan dengan pergerakan separatis adalah orang (golongan) yang menghendaki pemisahan diri dari suatu persatuan; golongan (bangsa) untuk mendapat dukungan. Latar waktu pada novel ini adalah tahun 2000. Hal tersebut terdapat dalam kutipan
“Memang aku salah seorang kuli yang mengerjakan bangunan rumah-rumah itu pada tahun 1992, sekitar delapan tahun silam, pada tahun ketiga pemerintah pusat mengirim bala tentara untuk menumpas orang-orang Hasan Tiro.” (hlm. 11).

Kutipan di atas yang bercerita adalah guru mengaji di Lampuki. Sudut pandang cerita ini orang ketiga. Dari kutipan di atas menjelaskan bahwa latar waktu adalah tahun 2000. Jadi, pergerakan Ahmadi terjadi pada tahun 2000.
Motor pergerakan separatis di Aceh ada pada tokoh Ahmadi. Pada mulanya dia menginginkan orang-orang untuk berjuang kepadanya. Dalam sebuah orasi singkat dia mengulang sejarah yang adaa perihal perjuangannya kenapa harus memperjuangkan daerahnya untuk merdeka. Di sinilah indikasi bahwa Ahmadi adalah seorang separatis. Selain itu, dalam orasinya, Ahmadi berkata:
“Kemudian dia mengajukan pertanyaan kenapa Aceh harus tunduk di bawah kaki kaum sahaya, sedangkan sebelumnya tiada pernah takluk kepada penjajah-penjajah besar seperti Portugis, Belanda, dan Jepang. Dia menuding kaum seberang telah mengkhianati kepercayaan ulama kami, mengingkari janji, lalu menjajah tanah kami. “Mereka merampas kekayaan bumi kita dan membantai begitu banyak penduduk. Mereka kejam dan jahat.” (hlm. 25).

“Betapa berangnya rakyat yang sudah berbuat amal tulus, yang membantu mereka tanpa kenal pamrih, lalu dibalas dengan racun tuba. Maka. Berontaklah Teungku Daud bersama rakyat, menyerang setiap orang bersenjata yang mencoba merebut dan menduduki daerah ini. Perang demi perang pun meletus … sehingga kemudian Karno membalik taktik dan mengubah siasat.” (hlm. 28).
           
Kutipan di atas mengindikasikan tentang konflik yang ada di Aceh. Jika dilihat dari sisi sejarah, sebenarnya, konflik di Aceh diawali peristiwa Cumbok. Kaum hulubalang radikal, yaitu Teuku Muhammad Daud Cumbok tidak setuju dengan pemerintahan baru Indonesia yang menurutnya merugikan Aceh. Maka mulailah perlawanan masyarakat Aceh terhadap pemerintah pusat (Pane, 2001: 3). Ini berkaitan dengan gerakan separatis di aceh yang markas dan basis peristiwanya sama dengan  Cumbok.
Menurut Tipe (2000: 48), sejak zaman kolonial Belanda, Jepang, Orde Lama dan Orde Baru, ada ketidakadilan yang dibuat pemerintah pusat, yang membagi hasil bumi daerah 75% untuk Pusat sementara 25% dikembalikan kepada Daerah Pemilik.  Hal inilah yang menyebabkan awal pergolakan di Aceh terhadap pemerintah,yaitu pada masa presiden Soekarno. Terjadi ketidakadilan bahwa yang meraup kekayaan alam Aceh adalah pemerintah pusat.
            Dalam novel ini, asal mula gerakan separatis ini juga dijelaskan dalam kata-kata “Tahun-tahun Pembantaian”. Terjadi konflik antara gerakan separatis ini dengan tentara pemerintah. Hal tersebut terdapat dalam
“Alasan kejahatan pemimpin itulah yang kemudian menjadi pemicu Hasan Tiro naik darah. Lelaki itu menghimpun sejumlah pengikut dan kekuatan di hutan, lantas memberontak kepada pemerintah pusat … Perlawanan Hasan Tiro pun disambut puluhan ribu balai tentara. Para serdadu membuat perhitungan sehingga sejumlah laki-laki yang dituduh pembangkang pun harus mempertanggungjawabkan ulahnya, para perempuan yang tidak tahu apa-apa menjadi korban pemerkosaan, dan mereka tiada henti mengeruk dan merampas harta kekayaan kami … Maka berlangsunglah Tahun-tahun Pembantaian yang amat mengerikan.” (hlm. 61).

            Dari kutipan di atas menjelaskan perlawanan awal gerakan separatis terhadap pemerintah. Nama Hasan Tiro mengingatkan pada tokoh pergerakan separatis Aceh, yaitu bahwa pada tahun 1977 Hasan Tiro mempelopori perjuangan perlawanan Aceh kepada pemerintah pusat denga nama pergerakannya Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Penyebab banyaknya militer di Aceh pada masa orde baru karena pemerintah membuat Aceh sebagai basis Daerah Operasi Militer (DOM). Penetapan Aceh sebagai DOM adalah upaya untuk membasmi GAM sehingga banyak penduduk Aceh yang menjadi korban kekerasan militer (Suseno, 2001: 31).
            Ahmadi merupakan orang yang perjuangan Hasan Tiro. Semangatnya sama dengan Hasan Tiro, yaitu semangat membangkang dan membenci pemerintah. Dalam orasinya di Lampuki, dia membenci ajaran-ajaran negara di sekolah. Hal tersebut terdapat pada kutipan:
“Ahmadi tidak menginginkan gagasan-gagasan Negara yang dituangkan dalam rumusan pelajaran sekolah itu memengaruhi dan meracuni jiwa serta pikiran anak-anak di sini sehingga mereka kelak dapat membenarkan membunuh, menjajah, menjarah. Ajaran Negara juga dianggap Ahmadi sesat karena mereka mengajaekran semua agama sama dan semua Tuhan benar.” (hlm. 46).
“Kalau sudah merdeka nanti, kita bisa mengatur Negara ini dengan sesuka hati. Kemakmuran yang melimpah, cukuplah menyenangkan hidup sekalian orang, tanpa perlu bersusah payah memikirkan makan. Sudah semestinya rakyat menmpertahankan dan membela negeri ini dari titik darah penghabisan!” (hlm. 48).
           
Kutipan di atas menjelaskan kebencian Ahmadi terhadap ajaran negara di sekolah. Dia juga menyerukan untuk memperjuangkan kemerdekaan daerahnya. Ahmadi, selaku motor pergerakan separatis sudah mulai melakukan aksinya. yang dalam novel ini disebut sebagai “Masa-masa Perlawanan”. Berikut merupakan kutipannya.
“Silakan dengar apa yang dikatakan penduduk yang belum melupakan peristiwa pengadangan Laskar di Kumis Tebal terhadap sebuah mobil truk mini yang mengangkut sekawanan serdadu yang hendak menuju sebuah pos jaga di sebuah kota kecil di Nisam.” (hlm. 107).

Setelah peristiwa itu, Ahmadi berupaya untuk menggaet pasukan lagi karena merasa bahwa pasukan pemerintah sangat kuat. Hal tersebut terdapat dalam:
“ … Ahmadi menyadari betul betapa kuatnya pasukan pemerintah yang mengeroyoknya. Maka, untuk menandingi mereka, mestilah diimbangi pula dengan perekrtutan pengikut baru, melatih mereka di tengah rimba yang tidak mungkin dijangkau oleh musuh, lalu menyusun siasat baru yang ditatanya secara rapi, terpatri, dan bersendikan kumisnya.” (hlm. 115).

            Siasatnya dalam berperang adalah bergerilya dan secara sporadis. Hal tersebut terdapat dalam kutipan:
“Milliter semakin kewalahan menghadapi taktik dan siasat perang ala kumis yang macam berandal. Mereka semakin kehilangan akal dan tiada tahu apa yang mereka siasati untuk melawan orang-orang gunung yang buas lagi garang, selain memukuli para penduduk sampai betul-betul jera.” (hlm. 281).

Yang menjadi korban atas kelakuan Ahmadi tersebut tidak lain adalah penduduk Aceh sendiri. Akibatnya, pasukan militer memukul para penduduk. Hal itu terjadi karena militer geram atas kelakuan Ahmadi, selaku kelompok separatis itu. Akibatnya, militer mulai mencarinya.

“Tentara mendapatkan keterangan simpang siur seputar Ahmadi sehingga mereka tidak pernah tahu asal-usulnya … Yang pasti, kepala pengacau itu—demikian aku mendengar prajurit di Pasar Simpang menyebutkan—adalah Panglima yang harus diringkus dan ditembak mati begitu ditemukan.” (hlm. 293).

Lama-lama penyerangan Ahmadi semakin beringas. Ahmadi mulai berani menyerang pos yang ada di dekat kampusnya, Lampuki. Hal tersebut terdapat dalam kutipan:
“Tidak ada yang menduga kalau kumis itu tiba-tiba mencari masalah di Lampuki dan aku menarik rasa hormatku kepadanya. Aku tidak tahu alasan apa yang melatari Ahmadi melakukan tindakan yang bertentangan dengan pendiriannya terdahulu untuk tidak menyerang pos tentara di Pasar Simpang.”(hlm. 370).
“Tak lama setelahnya, pintu didobrak bala tentara bantuan yang berdatangan … Setelahnya, gerombolan serdadu menyusuri permukiman … mereka yang laki-laki kena hajar, tanpa ada satu rumah pun di Lampuki luput dari perihal demikian. (hlm. 371-372).

Setelah melakukan beberapa perlawanan, Ahmadi percaya bahwa perjuangannya hanya tinggal sebentar lagi. “Seberapa lamakah seseorang yang menghasbiskan sebatang rokok, sebegitulah tinggal waktunya, dan setelahnya tanah ini, langsung merdeka, Perjuangan Ahmadi sudah sampai di garis akhir.”
            Namun, anggapan Ahmadi salah. Tentara semakin banyak yang datang. Hal tersebut terdapat dalam:
“Masa beranjak dua bulan, kekosongan pos Kampung Bawah segera terisi dan Ahmadi harus cepat-cepat angkat kaki dari perumahan. Kali ini bukan lagi belasan serdadu, jumlahnya mencapai dua puluh lima prajurit…” (hlm. 410).
“Sejumlah prajurit sengaja dikirimkan oleh kepala Negara yang baru, seorang perempuan anak lelaki petualang yang pernah singgah ke tanah ini untuk merengek-rengek kepada Teungku Daud. Kepala Negara sebelumnya, yang sebelah matanya menderita, tersingkir oleh leluconnya sendiri. (hlm. 411).

Di sini dijelaskan bahwa “kepala negara yang baru seorang perempuan” mengindikasikan pemerintahan pada zaman Megawati Soekarno Putri. Pada masa-masa itu pula banyak gerliyawan separatis Aceh yang menyerahka diri. Berikut merupakan kutipannya.
“Sejumlah gerilyawan malah memilih turun gunung untuk menyerahkan diri ke kator-kantor polisi atau pos-pos tentara, dan bahkan ada yang menyerahkan senjata mereka,..Keputusan menyerahkan diri mereka ambil karena banyak pemimpin mereka yang setingkat jabatan dengan Ahmadi di sejumlah wilayah Peureulak, Pasai, dan Pidie jatuh binasa.” (hlm. 423).

 Dijelaskan bahwa yang menjadi dampak atas gerakan separatis di Aceh ini adalah beberapa penduduk Aceh. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Franz Magnis Suseno dalam Suara dari Aceh (2001: 34) yang menyatakan bahwa “setiap orang yang hidup di Aceh kehilangan sense of crisis dalam hal-hal yang berkaitan dengan kemanusiaan—baik pelanggara HAM maupun krisis eksistensi manusia” . Kutipan tersebut membuktikan  bahwa pada kasus konflik Aceh yang menjadi korban adalah orang-orang Aceh juga. Puncak ketegangan konflik GAM dan RI terjadi tahun 1998-2000 yang terjadi pengeboman jembatan, dan terror (Suradi, 2003: 41).
Atas dasar itu dapat dikatakan bahwa gambaran pergerakan Ahmadi sebagai kaum separatis yang menentang pemerintah merupakan punvak dari ketengangan konflik, yang terjadi, yaitu pada latar waktu tahun 2000.


Simpulan

Dalam novel Lampuki, Arafat Nur mencoba memotret realitas pergerakan kaum separatis di Aceh. Penggambaran pergerakan itu terlihat dalam pergerakan tokoh Ahmadi, yang mulai benci terhadap pemerintah, melakukan perekrutan anggota baru, serta serangan gerilya dan sporadisnya terhadap pasukan pemerintah. Akibatnya, atas ulahnya itu, banyak penduduk Aceh yang menjadi korban.
Penggambaran realitas sejarah gerakan separatis di Aceh ada pada latar tempat di Aceh, latar waktu pada tahun 2000, dan tokoh seperti , Daud, dan Hasan Tiro. Jadi, novel ini hanya potret pergerakan kaum separatis di Aceh, dan potret hasilnya bisa direkayasa agar tidak menyerupai aslinya.

“Rakyat Aceh terlena, telah berseteru dengan sesama”
(Asep GP “Aceh dalam Dekapan Duka” dalam Mahaduka Aceh)

Sumber Rujukan:

Damono, Sapardi Djoko. 2009. Sosiologi Sastra: Pengantar Ringkas. Ciputat: Editum
Mahayana, S. Maman. 2007. Ekstrinsikalitas Sastra Indonesia. Jakarta: Rajagrafindo Persada
Nur, Arafat. 2010. Lampuki. Bandung: Serambi Ilmu Semesta.
Pane, Neta S. 2001. Sejarah dan Kedaulatan Pergerakan GAM. Jakarta: Grasindo
Suradi. 2003. Analisa Kriminologi terhadap Perlawanan GAM kepada Pemerintah Pusat: Studi Kasus Konflik Aceh Tahun 2000-2002. Tesis Universitas Indonesia: Tidak diterbitkan
Suseno, Franz Magnis. 2001. Suara dari Aceh. Jakarta: Yappika.



[1] 

Sastrawan Indonesia dan Nasional