Sabtu, 21 Mei 2011

Proses Lahirnya Lampuki

Oleh: Arafat Nur

JAUH hari  sebelum Lampuki lahir, gagasan ceritanya sudah cukup mendesak dalam benak saya, dan kian hari tambah berkembang lantaran saya pindah ke sebuah rumah tempat semua cerita itu terjadi. Saya pun secara tak langsung mendalaminya melalui cerita orang-orang, termasuk dari si narator sendiri (yang memang dalam kenyataannya dia itu seorang teungku, guru yang mengajar mengaji di sebuah balai kampung).

Keinginan untuk menuliskan kisah itu tak kunjung dapat terlaksana, ihwal itu saya sadari karena cerita yang terbangun terlampau dekat dengan fakta, sehingga tak tersedia ruang bagi berkembangnya imajinasi, dan keadaan ini tentunya akan mengeringkan kekuatan estetika. Maka gagasan itu pun mengendap bertahun-tahun lamanya, dan saya hanya menceritakan penggalan-penggalan kisah itu kepada sejumlah kawan, terutama di kala hati sangat kesal.

Di saat minat baca tak lagi menggebu dan sejumlah buku tidak menarik hati—apalagi terhadap bermacam novel karangan penulis kita yang terasa kian hambar dan terlampau biasa—gagasan cerita Lampuki semakin terabaikan. Ini adalah puncak dari segala titik jenuh bakat kepenulisan saya yang kian terancam, di samping pukulan berat dari berbagai persoalan lain yang mengelindani seputar hidup saya.

Sebelum lahir, saya mengira segala tentang Lampuki telah tamat. Akan tetapi, cerita-cerita ganjil yang berlangsung di seputar kompleks perumahan pensiunan tentara, tempat saya tinggal itu, semaking mengusik dan mengesalkan, sehingga terbetik dalam pikiran untuk membalas rasa sakit hati itu terhadap sikap dan perilaku pesong orang-orang di perumahan dengan cara menuliskan segala ihwal tindak-tanduk mereka; menyindir dan mengolok-olok mereka semua.

Awalnya memang untuk balas dendam ketika baris pertama novel itu saya tuliskan, tetapi untuk selanjutnya menimbulkan kesadaran lain, bahwa apa yang saya tuliskan dalam Lampuki itu adalah sebentuk kesadaran saya terhadap kehidupan penduduk yang terpuruk, kalah, dan mirip gelandangan, yang menyebabkan perilaku mereka menyimpang; sesungguhnya hal serupa juga menimpa kepala orang Aceh secara umum, yang mereka itu tidak pernah sadar siapa sesungguhnya mereka semua.

Maka tujuan dari novel ini pun berbelok haluan, timbul semacam kewajiban bagi saya untuk meluruskan pola pikir dan pemaham-pemahaman orang tentang Aceh, dan juga perihal sejumlah kampung di sini yang telah luluh-lantak oleh perang. Tanpa mengerti pasal apa yang mendasari Aceh bergejolak dan segala kehancuran yang terjadi, sungguh mustahil membenahi Aceh kembali dengan benar, apalagi jika hal itu dilakukan oleh orang-orang bodoh. Dasar inilah yang menjadi sendi Lampuki semakin sungguh-sungguh saya kerjakan.


Berkenalan dengan Karya Asing
APA PUN ceritanya, tanpa saya mengenali karya-karya asing, Lampuki tak akan pernah lahir. Novel-novel Amin Maalouf, Haruki Murakami, dan Tariq Ali-lah yang mendasari bangkitnya hasrat saya dari keterpurukan di puncak titik jenuh. Leo The African, The Rock of Tanios, Samarkand, dan Balthasar Odessey karya Amin Maalouf mengajari saya tehnik bercerita yang baik, tentang bagaimana membangkitkan daya pukau hanya dengan menggunakan kalimat-kalimat sederhana, tetapi tidak biasa.

Begitu juga yang saya dapatkan dari novel-novel Tariq Ali yang saya baca, yang gaya dia bercerita tak jauh beda dari Amin Maalouf, dan mereka sama-sama memiliki dasar bercerita dari sumber yang sama; sastra Arab. Karya mereka mengajari saya untuk menjaga jarak dari gagasan yang kita ceritakan, sehingga tak ada beban, dan membuka peluang bagi imajinasi berkeliaran; hal ini memudahkan saya untuk bermain-main dengan cerita sambil menciptakan gurauan dan gelak dari sebuah peristiwa, termasuk di bagian kisah yang menyedihkan.

Tentang ruang imajinasi yang harus terbuka lebar, tak lain adalah untuk mengantikan fakta-fakta kaku, dan perihal ini semakin tegas saya kuasai melalui pemahaman saya terhadap karya-karya Haruki Murakami, yaitu Kaze No Uta O Kike, Norwegian Wood, dan Kafka on the Shore. Haruki sangat fasih mengisahkan kejadian-kejadian rumit dengan cara yang sederhana; sehingga saya berpikir kenapa novelis kita melakukan kebalikannya, yaitu menceritakan hal sepele, tetapi dengan cara yang amat rumit. Bukankah itu aneh?

Bahkan Haruki mampu menjelaskan suatu kejadian rumit hanya dengan menceritakan hal-hal kecil, sebagaimana gambaran tindakan wajar manusia hari-hari dan keadaan lingkungan yang diaceritaka; daun-daun berguguran, gerakan kucing yang bangun dan tidur, percakap biasa orang di sebuah kedai; dan anehnya semua itu sangat indah, amat menggugah.

Selain dari karya tiga penulis itu, tentunya juga saya termakan pengaruh The New Life, The Whith Castle, Istambul, My Name is Red, dan Snow karya Orhan Pamuk (pemenang hadiah nobel 2006) yang saya kagumi, bahkan sampai sekarang pun—meskipun banyak pemenang nobel lainnya—karya penulis ini masih tak tertandingi. Dia memiliki kedetilan dan kepolosan bercerita yang luar biasa, juga tenang dan santai.

Perlu saya tegaskan, cerita Orhan Pamuk tidaklah berjalan lambat sebagaimana sangkaan sebagian orang, akan tetapi dia mengisahkan secara santai. Beda antara lambat dan santai. Maka saya bingung jika Lampuki dikatakan sangat lamban. Dan juga tentang karakter tokoh narator yang lemah. Gaya cerita perawian memang tidak berhajat pada karakter narator, selain yang diceritakan itu bila ada riwayat yang berkaitan dengan si pencerita. Bahkan dalam The Rock of Tanios, kita tidak mengenal sama selaki siapa si narator itu; tentang nama dan bagaimana dia hidup.

Demikianpun karakter tokoh si pencerita dalam Lampuki jauh lebih memadai, cuma saja mereka yang telah membaca melewatkan beberapa bagian penting. Tentang umur, perilaku, dan segala hal sosok Teungku Muhammad (si pencerita dalam novel ini) jauh lebih kuat kedudukannya sebagai tokoh pendukung. Tetapi, dalam hal ini saya tetap menghormati siapa pun yang berpendapat lain, karena perbedaan pendapat itu perlu, agar dunia ini bertambah semarak.

Secara tak langsung, karya penulis lainnya seperti Leo Tolstoy, Milan Kundera, Paulo Celho, Jorge Luis Borges, Milorad Pavic, Franz Kafka, VS Naipul, dan Gabrieal Garcia Marquez, turut mempengaruhi diri saya (bukan karya saya), dan sejatinya semua pengaruh itu tidak membawa dampak bagi Lampuki serta novel saya lainnya. Lampuki adalah novel yang tidak sama dengan karya salah seorang pun dari penulis asing itu, baik dalam hal gaya, ruh, dan wujud lainnya. Lampuki kental akan pengaruh tutur lisan, kearifan, dan watak orang Aceh sendiri, sebagaimana yang terlihat dalam kenyataan hari-hari.[majalah nolkilometer]