Jumat, 27 Mei 2011

Tradisi Menulis di Aceh

Serambi Indonesia, Sun, Feb 27th 2011.

PADA paruh abad 16 di Aceh telah muncul penulis berkaliber dunia, yaitu Hamzah Fansuri, yang kemudian diikuti pula oleh murid-muridnya seperti Syamsuddin As-sumatrani. Kiprah, kejayaan, dan kemasyhuran Hamzah dan penulis setelahnya ini tidak terlepas dari perhatian dan andil besar sang Sultan sendiri yang berkuasa pada masa itu.


Kepentingan akan literatur ini disadari sepenuhnya oleh pemerintah. Selain  untuk mengembangkan agama dan pengukuhan pengaruh, sastra juga berperan besar dalam membentuk pamor dan gengsi kekuasaan dan marwah negara. Kewibawaan karya Hamzah semakin menguatkan sendi pemerintahan Aceh pada masa kesultanan Sri Sultan Perkasa Alam, atau yang lebih kita kenal Sultan Iskandar Muda.

Pada masa itu Aceh berada dalam tataran bangsa-bangsa kuat di dunia, bahkan bangsa Peringgi (Eropa) tiada kuasa menaklukkan Aceh setelah berkali-kali berusaha menyerang. Selain memiliki kekuatan pertahanan, siasat, dan taktik perang, kedudukan dan kekukuhan benteng Lamuri juga sulit ditembus serangan meriam pasukan kapal-kapal musuh.

Selain dari itu, tentu karena Lamuri berada dalam kendali orang-orang cerdik pandai meskipun berjumlah tidak terlalu banyak, yang selalu menjadi panasihat Sri Sultan dalam menentukan kebijakan dan menutuskan banyak perkara. Orang yang paham akan pemerintahan niscaya tidak sembarangan dalam berbicara dan bertindak, apalagi seenak dirinya sendiri.

Orang-orang cerdik pandai ini juga telah menulis kitab-kitab dalam bahasa Melayu-Jawi, baik tentang agama, mujarobat, peraturan dan adat, peraturan bercocok tanam, dan sebagainya; juga dalam kemahiran pertukangan seperti pandai besi yang menempa senjata, pembuat hiasan tembaga, emas, suasa, perak, dan perunggu, ukiran-ukiran pada bangunan, dan sebagainya. Sultan merekrut dan mempekerjakan mereka menurut kadar kemampuan untuk kepentingan kerajaan (Baca: Kerajaan Aceh, Denish Lombart).

Karkun (juru tulis istana) juga punya kedudukan penting yang bertugas menulis sesuatu kejadian setiap harinya, baik di istana, pelabuhan, dan di lahan pertanian-yang berarti semua peristiwa yang berlangsung selalu dalam kontrol mereka. Bahkan kedudukan Hamzah Fansuri, menurut sejumlah sejarawan dan tokoh agama, setara dengan posisi Sultan dalam pengertian lain.

Hamzah Fansuri yang diakui sebagai sastrawan besar kerajaan dan juga sebagai ulama hebat, menduduki jabatan Khadi Malikul Adil di awal pemerintahan Iskandar Muda. Sultan memberinya gaji dan juga membiayai penulisan-penulisan karya sastra berupa hikayat-hikayat, khazanah-khazanah hebat yang sulit ditandingi pada masa itu, masa sesudahnya, dan bahkan sampai kini.

Ini menunjukkan betapa pedulinya pemerintah terhadap tradisi literatur dan hanya pemerintah yang cerdas saja yang berbuat demikian. Maka tak heran jika tradisi menulis berkembang pesat, yang kemudian banyak lahir penulis-penulis kitab kuning yang menjadi pengangan hukum dan kitab pelajaran di balai-balai pengajian kampung serta dayah. Dari sekian banyak penulis kitab itu yang paling menonjol itu di antaranya adalah Syamsuddin As-sumatrani.

Kehebatan pengaruh dari literatur ini juga disadari oleh Iskandar Sultan Tsani, yang sengaja memanggil Ar-Raniry yang dulunya terusir pada masa berkuasanya Iskandar Muda dikarenakan saling berseberangan dengan Hamzah Fansuri yang punya paham al-wujudiah. Pada masa inilah kepala Hamzah dipenggal dan kitab-kitabnya dimusnahkan.

Tsani memanfaatkan Ar-Raniry dan mengupahnya untuk menulis Bustanussalatin (Taman Raja-raja), kitab yang berkenaan dengan sejumpit keterangan seputar kehidupan sang Sultan, adat-istiadat, peraturan istana, dan peralihan kekuasaan. Selain itu,  juga tentang keindahan taman-taman yang digambarkan bagaikan lahan surga dan juga mengambarkan kejayaan serta kemegahan lingkungan istana, sebelum Tsani diracun oleh istrinya sendiri.

Inilah masa kejayaan Aceh yang terus runtuh dan kemasyhuran itu tak kunjung bisa terulang lagi sampai sekarang. Selain cerita ngeri tentang pembantaian manusia paling besar yang pernah terjadi di sini. Berikut pula diikuti oleh hilangnya perhatian pemerintah terhadap tradisi literatur setelah dikuasai oleh orang-orang lemah dan agak bodoh, sehingga hari ke hari Aceh kian terpuruk sampai kemudian Belanda masuk memporak-porandakan semua yang ada.

Dari gambaran di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa kejayaan suatu bangsa turut didukung oleh literatur serta keahlian lainnya yang berjalan secara beriringan. Hal ini pula disadari oleh bangsa dunia lainnya, yang dalam kenyataannya penulis-penulis hebat kelas dunia hanya lahir di negara-negara maju, seperti Orhan Pamuk (Tuki), Yasunari Kawabata (Jepang), VS Naipul (Inggris), dll.

Mereka orang-orang yang diperhatikan oleh pemerintah, sebagaimana Hamzah Fansuri semasa Iskandar Muda. Dengan karya-karya merekalah nama negaranya terdongkrak sampai ke penjuru dunia, lalu negara-negara tersebut mengukuhkan diri sebagai bangsa yang cerdas.

Kerja literatur adalah kerja yang lebih rumit dan berat dari mencangkul sawah, maka setelah Hamzah tak ada yang begitu kita kenal. Sastra yang bermutu hanya lahir dari kerja keras seorang yang cerdas, yang hidup mereka pada umumnya hanya mengabdikan diri pada pekerjaan berkarya semata. Ini juga bagian dari tanggung jawab pemerintah untuk memajukan diri jika memang tidak ingin rakyatnya mundur dan bodoh.

Tahukah bagaimana rumitnya melahirkan karya sastra bermutu? Seorang sastrawan harus banyak paham ragam ilmu pengetahuan, mengkaji dan meneliti, dan kemudian menyiasiatinya untuk suatu tujuan perubahan dalam perilaku, sehingga karyanya membawa pencerahan. Orhan Pamuk saja membutuhkan belajar selama 30 tahun dan kerja terus-menerus, sehingga karya-karyanya seperti pancaran sinar matahari.

Aceh pun akan bangkit kembali jikalau pemerintah Aceh mau peduli terhadap sastrawan, sebagaimana dilakukan zaman kerajaan Aceh dulu. Dana yang melimpah di Aceh tidak ada salahnya dialokasikan untuk mendidik generasi mudah Aceh dan memberi apresiasi untuk mereka yang sudah berprestasi.

* Arafat Nur adalah penulis novel Lampuki, yang memenangkan sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta.