Minggu, 25 September 2011

Realitas Konflik Yang Terpilin-pilin

 Dimuat di Koran Jakarta, Minggu (25/9)
Tooltip 



Judul : Lampuki
Pengarang : Arafat Nur
Penerbit : Serambi Ilmu Semesta
Cet I : Mei 2011.
Tebal : 433 hal
ISBN : 978-979-024-354-5
Harga : Rp. 49.000



Novel ini merupakan satu dari empat pemenang sayembara Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) edisi 2010. Sayang sekali, pertama dalam sejarah, DKJ tidak memilih yang terbaik dan membiarkan para nominator menjadi "empat terbaik" (Lampuki, Arafat Nur; Persiden, (alm) Wisran Hadi; Memoar Alang-alang, Hendri Teja ; Jati Saba, Ramayda Akmal). Novel ini juga berhasil bersaing dari 277 naskah yang masuk pada tahun itu.
Arafat Nur
       Lampuki ini sendiri merupakan sebuah novel konflik. Penulisnya seorang wartawan yang juga pernah berada dalam pusaran konflik dan menjadi korban. Lampuki dalam novel ini merupakan deskripsi sebuah kampung yang berada tak jauh dari kota Lamlhok.
       Tentu saja di peta tak pernah ada wilayah ini. Namun dari narasi kita sudah bisa menduga bahwa kampung dan kota yang dimaksud adalah salah satu kampung di daerah Lhokseumawe. Kisah ini adalah bagian dari pengembangan imajinasi penulis atas problem sosial yang muncul di lingkungan tempat tinggalnya yang "rusak" oleh konflik.
       Konflik bukan saja telah membangun rasa sakit dan duka bagi masyarakat, tapi juga membentuk "tabiat-tabiat jahat" dan anomali sosial. "Begitu terkutuknya kampung busuk ini. Mereka selalu saja menghalangi pendatang dari kaumnya sendiri, tapi tak kuasa menolak militer, yang dianggap musuh nyata, membangun kompleks perumahan pegawai pemerintah..."(hal. 71).
       Yang menjadi potensi besar dalam novel ini adalah tidak ada proses narasi yang menyebutkan sisi protagonisme dan antagonisme terbelah secara nyata. Penulis menyadari bahwa dalam diri manusia, memakai ungkapan HB Jassin, tidak ada iblis dan malaikat seratus persen. Konflik militer yang terjadi di Aceh juga tidak menyebabkan masyarakat korban dan para kelompok pemberontak sebagai sosok ideal nan terpuji. Penulis mengambarkan sosok Ahmadi, tokoh utama yang merupakan kepala pembangkang, bukan sosok protagonis yang membuat pembaca tersentuh. Ia digambarkan sebagai tokoh yang lebih ditakuti dibanding dihormati oleh masyarakat kampungnya. Ia bahkan dianggap benalu yang menyusahkan karena menyebabkan militer sering merazia kampung mereka. Para pemberontak pun digambarkan dengan penuh satir: para pemberani di belakang meja, tapi langsung terbirit-birit ketika ada sepasukan tentara menyergap (hal. 84).
       Sejak awal Lampuki tidak diarahkan untuk mewakili semangat feminisme. Tokoh-tokoh perempuan yang digambarkan penuh dengan predikat haus seks, mantan pelacur, cerewet, perayu, dan juga tukang tadah pajak nanggroe. Jelas di sini sang penulis tidak mau membangun eufemisme sosial yang berbasiskan empati gender karena bisa merusak cerita. Namun ada pesan yang lebih dalam dibandingkan itu, yaitu konflik bukan hanya membangun antropologi derita tapi merusak tata-nilai, bahkan jauh setelah kekerasan tidak terjadi lagi.
       Di tengah konflik pun ada banyak keputus-asaan yang menyebabkan dusta bisa mengambil peran. "Halimah juga sempat membual, mengkhayalkan negeri menyenangkan yang bagaikan surga...Tak ada lagi rumah rakyat yang bertepas dan beratap daun nipah. Semua pekerja kasar didatangkan dari negeri pulau yang besar dan miskin. Sungguh bualan yang menggugah dan tak masuk akal" (hal. 148).
       Sisi terpenting lain dari novel ini adalah kerapian bahasa dan diksi yang digunakan. Terlihat penulis sangat hati-hati dalam menyusun kalimat, sehingga tidak terjebak pada jurnalistisme empatik atau tegelincir ke dalam bahasa pop yang dangkal dan tidak berakar dari bahasa Melayu otentik.
                                                 #Peresensi adalah Teuku Kemal Fasya, Kurator Sastra Lokal.