Kamis, 29 September 2011

Penggalan Lampuki 2

Tubuh kurusku kian menciut di tengah kumpulan murid-muridku sendiri. Wajah garang dan suara lantang Ahmadi memancarkan kewibawaan melimpah sampai-sampai dia merendahkan martabatku. Anak-anak lebih memerhatikan omongan lelaki bekas berandalan itu daripada mendengarkan nasihat-nasihatku. Selagi Ahmadi berbicara, tiada sepatah kata pun keluar dari mulut mereka. Tangan-tangan itu bagai terkunci secara gaib, tiada satu pun di antara mereka yang bergerak untuk saling menjahili. Sekalian mata menatap lurus ke wajah garang yang lagi tegang itu, tanpa mengurangi kekagum mereka. Entah anak-anak yang bebal itu faham pada kata-kata Ahmadi, atau mereka hanya takjub pada bentuk kumisnya saja.
         Dia, lelaki yang tak lebih bermodalkan suara nyaring dan kumis tebal, lebih terlihat sebagai sosok seorang teungku berkarisma dibandingkan diriku ini yang semakin terpuruk dan tak berdaya.
“Kita sekalian wajiblah berperang melawan kaum perusak yang sudah menginjak-injak tanah ini. Mereka betul-betul tidak tahu diri, biadab, dan kejam! Tiada pantas lagi bagi kita memberi hati atas kejahatan mereka yang tiada terperi. Kalau tidak, betapa hinanya kita ini, bangsa yang merupakan keturunan kaum beradab dan pemberani, bisa diperbudak oleh kaum lamit yang pernah dijajah berkali-kali. Terkutuklah anjing-anjing penjajah!” teriak Ahmadi dengan kumis bergetaran. Tetapi sungguh malang bagiku, sebab ludahnya memercik ke mukaku...

Lampuki bisa didapatkan melalui online.
http://id.serambi.co.id/Katalog/tampilbuku/495_lampuki